Bakau Ditebang, Luas Daratan Terancam Berkurang

Nongsa, BatamEkbiz.Com — Penebangan tanaman bakau di sepanjang bibir pantai di Kepri menjadi pemicu terjadinya abrasi. Jika tidak ada penanaman kembali bakau pengganti, diprediksi dalam lima tahun ke depan, 10-15% luas daratan Kepri akan hilang akibat abrasi.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Kepri, Edi Wan menjelaskan, abrasi terjadi akibat ketidakseimbangan ekosistem laut. Sistem ekologi ini terbentuk oleh hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya di laut, seperti karang, bakau, dan pasir yang merupakan faktor dominan bagi ketahanan daratan atau pulau. Ketiga ekosistem ini saling mendukung, jika salah satunya rusak, maka akan mengancam kerusakan ekosistem lainnya.

Keberlangsungan kehidupan karang diantaranya ditentukan oleh hewan karang. Hewan ini sangat sensitif dengan pencemaran atau limbah. Hewan yang biasa menempel pada karang ini akan pergi jika merasa tidak nyaman yang akhirnya akan mengakibatkan karang menjadi rapuh.

Begitupun dengan tanaman bakau di bibir pantai, ketiadaannya akan menyebabkan limbah tidak bisa terurai. Limbah merupakan ancaman berbahaya bagi kesuburan ekosistem laut, yang ditandai dengan sedikit-banyaknya jumlah ikan.

“Tahun 1980-an, Kepri merupakan penghasil ikan terbesar di Indonesia. Sekarang tidak masuk lagi dalam catatan, akibat berkurangnya kesuburan laut dan ilegal fishing,” ungkapnya dalam Seminar Perbatasan di Pulau Putri Batam, tapal batas NKRI, Sabtu (22/12/2012).

Menurut Edi, limpahan limbah di laut Kepri banyak diakibatkan oleh aktifitas industri, transportasi seperti kapal dan tanker serta aktifitas penduduk. Industri-industri yang ada di Kepri, jarang memiliki tempat pengelolaan limbah di darat. Rata-rata limbah industri mengalir bebas ke laut, menjadikan laut ibarat tong sampah terbesar bagi limbah.

Aktivitas transportasi dari kapal dan tanker, juga memberikan kontribusi meningkatnya limbah di perairan Kepri. Di tepi-tepi pantai, tidak jarang ditemui limpahan limbah kental, licin berwarna hitam.

Setiap tahunnya ada sekitar 365.500 ton limbah di perairan laut Kepri. Maka tidak aneh jika laut menjadi dangkal tertimbun sampah yang tercampur limbah.

Mengalirnya limbah-limbah ke laut, menyebabkan ikan, tumbuhan dan karang mati. Hewan laut seperti ikan, kuncinya pada insang dan akan tertutup jika terkena limbah.

“Jika tidak diantisipasi, tidak menutup kemungkinan Batam akan seperti pantai Utara Jakarta. Terdapat sebanyak 4.208 pulau di Provinsi Kepri. Dengan kondisi saat ini, diperkirakan dalam 10 tahun ke depan 10-15 persennya hilang akibat abrasi,” kata Edi.

Sementara itu Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) Kota Batam, Dendi Purnomo menyatakan, rusaknya tanaman bakau atau mangrove di Kota Batam banyak diakibatkan oleh reklamasi dan pengembangan industri. Proses pembangunan di sejumlah wilayah pesisir pantai yang mengabaikan dampak lingkungan ini telah menyebabkan punahnya tegakan mangrove.

Pada tahun 1990, tegakan mangrove di Kota Batam mencapai 27% atau 1.500 Km² dari luas Pulau Batam 415 Km² (41,500 Ha). Kini, luas tegakan mangrove mengalami penyusutan sampai 23%.

“Saat ini tegakan mangrove di Kota Batam tinggal 4% saja dari sebelumnya 27% atau tinggal sekitar 14,6% saja,” ungkapnya.

Mengatasi ancaman punahnya mangrove di seluruh kawasan perairan di Kota Batam, Dendi mengaku bahwa Pemerintah Kota Batam telah melakukan sejumlah kebijakan. Diantaranya mewajibkan penanaman 2 hektar mangrove atas setiap hektar penebangan mangrove yang digulirkan sejak 2008. Serta meningkatkan kerjasama lintas sektoral dalam menjaga kelestarian dan penanaman kembali mangrove.

“Pemerintah Kota Batam memiliki komitmen, minimal 30% untuk mempertahankan hutan di setiap pulau. Sekarang komitmen ini meningkat menjadi 37 persen, karena sekali hilang hutan, tidak bisa diharapkan lagi untuk tumbuh,” katanya. (zaki)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *