Batam Terancam Kekeringan

Seibeduk, BatamEkbiz.Com — Terik matahari tak menyurutkan beberapa warga di kawasan Kampung Tua Tanjungpiayu, Kelurahan Tanjungpiayu, Kecamatan Seibeduk, mengantre air di sumur sekitar. Terbatasnya ketersediaan air di sumur itu membuat warga terkadang mengantre hingga malam.

Ketua RT Kampung Tua Tanjungpiayu Sali mengungkapkan, antrean itu sudah berlangsung sejak beberapa hari lalu. Penyebabnya, terus menipisnya ketersediaan air di sejumlah sumur warga. Sementara permohonan penyaluran air bersih yang diajukan sekitar 120 warga di daerah itu kepada PT Adhya Tirta Batam (ATB) dan Pemko Batam sejak beberapa tahun belakangan tak pernah direspon.

“Padahal di sejumlah pulau, pasokan air bersih ATB sudah masuk. Kami yang satu daratan, justru sampai sekarang tak masuk-masuk,” katanya.

Kesulitan mendapatkan air bersih juga dialami warga Baloi Kolam, kecamatan Batam Kota. Warga terpaksa mengambil air dari mata air parit Simpang Jam yang jaraknya lumayan jauh menggunakan jerigen atau ember.

“Lebih baik mengambil langsung di sini daripada beli dari truk air, harganya mahal,” kata Robert, Senin (21/3/2016).

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Hang Nadim Batam memprakirakan Kota Batam berpotensi kembali mengalami krisis air, mengingat potensi hujan yang minim. Kondisi saat ini angin masih bertiup kencang dari utara menuju selatan, sehingga pembentukan awan yang menciptakan hujan selalu gagal.

“Jika kondisi ini berlangsung lama, maka potensi krisis air pada sejumlah waduk mungkin terjadi,” kata Kepala BMKG Hang Nadim Batam Philip Mustamu.

Pasokan air bersih bagi warga Batam sepenuhnya mengandalkan waduk yang dibangun Badan Pengusahaan (BP) Batam. Jika hujan tidak mampu mengisi waduk-waduk itu, potensi krisis air seperti pertengahan 2015 akan kembali melanda.

Menurut Philip, potensi hujan di Batam masih ada, namun dalam beberapa waktu ke depan cuaca tetap akan panas dengan tiupan angin kencang. Selain ancaman krisis air, kondisi tersebut juga berpotensi menimbulkan kebakaran hutan dan lahan, mengingat pada beberapa tempat mulai mengering.

“Meski potensi kebakaran akibat cuaca panas dan kering belum besar. Namun tetap harus diwaspadai potensi tersebut,” katanya.

Tidak hanya di Batam, sejumlah wilayah di Provinsi Kepri juga dilanda kemarau panjang. Di Natuna salah satunya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Ranai memprediksi puncak panas di Natuna akan terjadi pada April mendatang. Masyarakat diminta mewaspadai ancaman kebakaran lahan dan dehidrasi.

Prakirawan BMKG Ranai Asrul Saparudin mengatakan, saat ini kondisi cuaca panas di Natuna masih terbilang normal. Namun diprediksi pada April mendatang puncak panas terjadi, dipengaruhi oleh massa udara dari luar Natuna yang makin tinggi dan berkurangnya konveksitas udara akibat pengaruh suhu muka laut.

“Ini menyebabkan suhu panas semakin tinggi, mencapai 33 derajat celsius,” terangnya.

Musim kemarau melanda Natuna sejak dua bulan terakhir. Sejumlah sumur mengering dan warga kesulitan mendapatkan air bersih.

Menurut Asrul, pada April mendatang tren cuaca di wilayah Natuna cenderung panas. Intensitas hujan berkurang, meski kemungkinannya masih ada, sebab wilayah Natuna dikelilingi lautan luas.

Dampak musim panas yang tinggi ini bisa meningkatkan potensi kebakaran lahan dan kekurangan cairan atau dehidrasi. Asrul mengingatkan masyarakat agar mewaspadai ancaman cuaca panas tersebut, karena bisa berdampak buruk bagi lingkungan dan kesehatan.

“Perlu hati-hati lah, usahakan atur pola hidup yang sehat karena panas ini bisa saja menyebabkan dehidrasi. Terus kebakaran juga rawan terjadi,” katanya. (R04)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *