Batik Serindit Emas, motif Melayu produksi Jawa

Batam Kota, BatamEkbiz.Com — Meski mengusung motif-motif Melayu dalam motif batiknya, namun produksi Batik Serindit Emas karya Martin Baron masih terpusat di salah satu daerah di Jawa. Ini dilakukan karena Batam belum memiliki unit produksi, terutama untuk batik printing.

Hampir dua tahun membuka bisnis batik di Batam, proses produksi dengan cepat menjadi salah satu kendala untuk memenuhi keinginan konsumen. Apalagi jika pemesanan dilakukan di tengah padatnya jumlah produksi pada musim-musim tertentu, seperti menjelang penerimaan baru ataupun musim lebaran dan haji.

Motif-motif khas Melayu yang dikembangkan Batik Serindit Emas muncul dari profesinya sebagai seorang arsitek. Martin banyak memelajari motif-motif khas Melayu saat mengarsiteki dan mendesain pembangunan Asrama Mahasiswa Batam dan Natuna di Yogyakarta. Dari literatur, ukiran dan motif-motif yang didesain untuk bangunan Asrama Mahasiswa tersebut, kemudian dikembangkan menjadi motif batik khas Melayu Kepri.

Batik printing, masih menjadi pilihan Martin Baron, karena mampu menyasar kalangan menengah yang sering memesan dalam partai besar. Karena pemesanannya dalam partai besar, pembuatan batik printing memerlukan biaya dan peralatan yang mendukung, dan waktu yang cepat. Dengan diproduksi di Jawa, maka bisa menekan biaya yang lebih murah dengan pengerjaan dan pemesanan yang cukup fleksibel. Pemesanan batik-batik printing, saat ini masih didominasi dalam bentuk seragam, baik seragam sekolah maupun kantor.

“Seragam sekolah merupakan sarana paling efektif untuk memperkenalkan motif-motif batik Melayu ke masyarakat,” ujar Martin, beberapa waktu lalu.

Untuk pemasaran, jelas Martin, dilakukan melalui sejumlah outlet yang terdapat di sejumlah daerah di Provinsi Kepri, seperti di Tanjung Pinang dan Lingga. Harganya, tergantung bahan dan pilihan warna yang digunakan. Semakin banyak warna yang digunakan, harga batik akan semakin mahal. Sekali proses, mampu memproduksi minimal 50 meter, yang bisa digunakan untuk bahan kemeja hingga 25 sampai 30 potong.

Ke depannya, Martin berkeinginan, Batam maupun Kepri memiliki peralatan produksi batik printing sendiri. Sehingga proses produksi bisa dilakukan lebih cepat, dan mampu memenuhi pesanan lebih besar, serta bisa berproduksi setiap saat tanpa terganggu musim-musim tertentu.

Dengan kemampuan memproduksi batik-batik khas Melayu di Batam ataupun Kepri, pengembangan dan pemasaran Batik khas Melayu juga bisa dilakukan lebih luas, sehingga Serindit Emas bisa menjadi produk unggulan khas Kepri. Karena banyak pelaku bisnis dari negara asing, yang tertarik dengan motif-motif batik khas Melayu yang dikembangkan Serindit Emas. Namun akibat proses produksi masih dilakukan di luar daerah, menyebabkan calon pemesan dari negara luar sangsi, pesanan tidak mampu dikerjakan tepat waktu.

“Mereka tertarik dengan warna dan desain yang kita kembangkan, terutama pangsa pasar Afrika dan Timur Tengah. Mungkin karena kendala kepercayaan, dan tidak memiliki unit produksi sendiri, dikhawatirkan target beban tidak tercapai,” ungkap Martin. (R02)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *