Benahi infrastruktur, tingkatkan kualitas SDM di MEA

Batam Centre, BatamEkbiz.Com — Liberalisasi pasar di kawasan Asia Tenggara melalui penerapan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) sudah diambang mata. Sejumlah negara-negara anggota ASEAN mulai bersiap diri untuk memasuki pasar kerja negara lain.

Tenaga medis Malaysia contohnya, banyak yang membekali diri dengan kemampuan berbahasa Indonesia. Mereka siap memasuki pasar kerja Indonesia, seperti Kota Batam, Provinsi Kepri yang ada di wilayah perbatasan dan memiliki jarak cukup dekat. Begitupun Vietnam, sudah memasukkan kurikulum bahasa Indonesia di sekolah-sekolah mereka.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Kepri Gusti Raizal Eka Putra mengatakan, daerah perbatasan seperti Kepri memiliki tantangan berat menghadapi MEA. Di antaranya karena belum memadainya infrastruktur dan minimnya sumber daya manusia (SDM) berkualitas.

“Kepri harus berbenah. Pada era MEA yang berlaku mulai awal 2016, barang, jasa, dan tenaga kerja dari negara ASEAN akan mudah masuk Indonesia,” ujarnya, Senin (20/11/2015).

Dalam cetak biru MEA, ada 12 sektor prioritas yang akan diintegrasikan, terdiri dari 7 sektor barang dan 5 sektor jasa. Yakni industri agro, elektronik, otomotif, perikanan, industri berbasis karet, industri berbasis kayu, dan tekstil. Kemudian jasa transportasi udara, pelayanan kesehatan, pariwisata, logistik, serta industri teknologi informasi.

Sektor perikanan sebagai sektor unggulan di Kepri, banyak wilayah yang belum memiliki infrastruktur penunjang seperti pelabuhan pendaratan ikan. Kondisi ini bisa menyulitkan nelayan lokal untuk mendapatkan harga yang sebanding dengan harga ikan dari negara lain.

“Harga ikan di Kepri bisa sulit dikendalikan jika persoalan infrastruktur ini tak segera ditindaklanjuti,” katanya.

Pegiat usaha kecil menengah (UKM) Batam, Yani mengatakan, pemerintah harus lebih memperhatikan sektor usaha yang selama ini tergantung impor. Di antaranya bisa dilakukan dengan pemberian insentif untuk usaha tertentu.

“Insentif ini diperlukan untuk mendorong investasi, supaya ekspor makin meningkat. Salah satunya bisa melalui penyederhanaan aturan pembebasan pajak,” katanya.

Selain itu, pemerintah juga harus fokus pada peningkatan daya saing produk, terutama perikanan. Yakni dengan meningkatkan kualitas dan keamanan pangan, agar produk perikanan dalam negeri bisa bersaing dengan produk negara lain. Thailand contohnya, yang memiliki sumber daya perikanan lebih kecil justru mampu ekspor perikanan hampir dua kali lipat Indonesia.

“Pemerintah juga bisa mendorong pelaku usaha membikin produk olahan bernilai tambah untuk mendongkrak daya saing. Dengan meningkatkan produk olahan, pelaku usaha sekaligus mencegah negara ASEAN lain memperoleh bahan baku dari Indonesia untuk diolah dan diekspor lagi,” katanya. (R03)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *