Calon perseorangan rawan jadi boneka

Batam Centre, BatamEkbiz.Com — Pengetatan persyaratan tak menyurutkan niat bakal calon untuk maju lewat jalur perseorangan. Di Provinsi Kepri, terdapat dua kabupaten yang memiliki calon perseorangan yang akan maju pada pemilihan kepala daerah (pilkada) Desember mendatang, yakni Natuna dan Karimun.

Calon perseorangan yang maju pilkada Natuna adalah Bupati Natuna Ilyas Sabli yang berpasangan dengan Wan Aris Munandar dan Dedianto yang berpasangan dengan M Yunus. Sedangkan calon perseorangan yang maju pilkada Karimun adalah Raja Usman.

Komisioner KPU Natuna Junaedi Abdilah mengatakan, berkas persyaratan kedua pasangan calon perseorangan tersebut kini memasuki tahap verifikasi faktual dukungan di tingkat Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) dan Panitia Pemungutan Suara (PPS). Verifikasi faktual dukungan berlangsung pada 23 Juni hingga 6 Juli 2015.

“Kami akan kerja lembur untuk memverifikasi dukungan tersebut,” kata Junaedi, Sabtu (20/6/2015).

Berbeda dengan pasangan calon perseorangan Ilyas Sabli-Wan Aris Munandar, Dedianto-M Yunus, dan Raja Usman, Saptono Mustakim-Sugito Rusmin justru gagal melenggang sebagai pasangan calon perseorangan pada pemilihan gubernur (pilgub) Kepri. KPU Provinsi Kepri menolak pasangan calon perseorangan ini karena kekurangan syarat.

“Berdasarkan penelitian administrasi dan berkas dukungan yang diserahkan, hanya ada data hardcopy-nya saja. Sedangkan data softcopy-nya tidak ada,” ungkap Komisioner KPU Kepri Marsudi.

Penyerahan dukungan calon perseorangan di tingkat Provinsi Kepri berakhir pada 12 Juni. Sementara di tingkat kabupaten/kota di Provinsi Kepri berakhir pada 15 Juni. Dengan tidak adanya pasangan calon perseorangan di tingkat Provinsi Kepri, maka hanya pasangan calon dari partai politik yang bakal bertarung di pemilihan gubernur (pilgub) Kepri. Saat ini baru Ketua PDIP Kepri yang juga Wakil Gubernur Kepri Soerya Respationo yang sudah memastikan maju dan mendapat dukungan partai. Dengan raihan sembilan dari 45 kursi di DPRD Provinsi Kepri, PDIP sudah bisa mengusung pasangan calon sendiri. Calon pendamping yang santer disebut bakal mendampingi Soerya adalah Bupati Bintan Ansar Ahmad yang juga Ketua Partai Golkar Kepri.

Sementara calon lain yang juga memiliki dukungan besar maju pilgub adalah Gubernur Kepri Muhammad Sani. Namun partai politik pengusung dan calon yang bakal mendampingi Sani di pilgub Kepri masih belum ada titik terang. Sani kabarnya merapat ke Partai Demokrat, Gerindra, dan Nasdem. Sedangkan untuk calon wakilnya, ada beberapa nama seperti Wali Kota Batam Ahmad Dahlan, Bupati Karimun Nurdin Basirun, atau Tokoh Perjuangan Pembentukan Provinsi Kepri Huzrin Hood.

Belum adanya titik terang majunya Sani di pilgub Kepri membuat berbagai pihak khawatir, termasuk calon lawan tandingnya, kubu Soerya Respationo. Sebab jika hanya satu pasangan calon, maka pilgub Kepri akan ditunda tahun berikutnya. Majunya Saptono-Sugito kabarnya sengaja disetting atau sekadar jadi boneka agar pilgub Kepri bisa lebih dari satu pasangan calon.

Pengamat politik Kepri Wan Darmawan mengatakan, majunya pasangan calon perseorangan pada pilkada bukan tanpa pertimbangan. Jalur perseorangan justru sarat kelebihan dibanding maju melalui partai politik (parpol). Di antara kelebihan itu adalah mudah memetakan dukungan riil masyarakat dan biaya yang jauh lebih hemat dibanding harus mendapatkan kendaraan politik dari partai.

“Calon perseorangan juga akan terbebas dari biaya mahar, survei, dan pernak-pernik urusan kepartaian dari tingkat daerah hingga pusat yang nilainya jauh lebih tinggi dibanding harus mengumpulkan dukungan masyarakat,” katanya.

Menurut Darmawan, majunya calon dari jalur perseorangan menunjukkan kegagalan partai politik menyerap aspirasi masyarakat. Calon yang didukung bukan didasarkan pada pertimbangan tingginya popularitas, elektabilitas, serta kapabilitas di masyarakat, tapi pada kekuatan uang atau mahar politik. Artinya, siapa yang mampu membayar tinggi, kemungkinan besar akan diusung partai.

“Partai politik cenderung mengabaikan untuk mengusung calon berkualitas dan lebih memilih calon yang memiliki kekuatan uang,” katanya.

Meski memiliki sejumlah kelebihan, jelas Darmawan, calon perseorangan juga rawan kekurangan. Bahkan bisa jadi majunya calon perseorangan sengaja disetting oleh pasangan calon dari partai politik untuk menjadi lawan boneka.

“Bisa jadi ada pasangan calon boneka, hanya untuk mengantisipasi agar pilkada tidak ditunda karena hanya ada satu pasangan calon. Calon boneka tidak benar-benar bertarung, hanya untuk memberikan jalan bagi pasangan calon lain untuk menang,” jelasnya. (R02)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *