Digital Tak Mesti Mahal

IklanKalimat “I Love Batam, Orang Bijak Taat Pajak”, terpampang di papan reklame digital ukuran 2×1 meter di sisi kanan Jalan Jenderal Sudirman, arah Simpang Jam tujuan Nagoya. Kalimat dengan tulisan warna putih ini terlihat mencolok dengan latar belakang berwarna biru dan gambar Jembatan Barelang-ikon Kota Batam. 

Pesan layanan agar masyarakat taat membayar pajak ini, sekira sebulan belakangan mengisi papan reklame digital. Tampil di antara promosi dan informasi produk air minum mineral, pembukaan restoran pizza, kompetisi basket, serta pariwara lainnya secara silih berganti dan berulang.

Kehadiran papan reklame digital di sejumlah lokasi padat lalu lintas ini cukup menyita perhatian masyarakat, terutama bagi pengendara kendaraan. Tajamnya gambar, teks, dan pesan yang muncul dari papan reklame dengan pancaran LED-Light Emitting Diode-itu cukup menarik pandangan. Apalagi di waktu malam, cahaya terang yang terpancar melalu papan reklame digital semakin menambah gemerlap suasana kota.

“Reklame ini mengusung konsep go green,” klaim Direktur PT Teemun, Mangara, Selasa (18/11/2014).

PT Teemun merupakan pengelola papan reklame digital LED tersebut. Jalan Jenderal Sudirman Simpang Jam, Jalan Raden Patah dekat simpang Polsek Lubukbaja, Jalan Teuku Umar depan mal Nagoya Hill, dan Penuin, adalah titik-titik papan reklame digital itu berada. Lokasi ini cukup strategis, karena menuju atau berada di kawasan pusat perdagangan di Kota Batam.

Tidak adanya sisa bahan yang akhirnya menjadi sampah inilah yang diklaim Mangara sebagai konsep go green dalam penerapan papan reklame digital LED. Sebab materi yang ditampilkan tidak perlu dicetak layaknya spanduk berbahan vinil.

“Batam menjadi kota pertama di Indonesia dalam penerapan konsep media luar ruangan dengan papan reklame digital LED yang lebih ramah lingkungan,” ujarnya.

Pengurangan penggunaan spanduk berbahan vinil juga menjadi kebijakan Politeknik Negeri Batam sejak dua tahun lalu. Terlihat mencolok dari kebijakan kampus yang berlokasi di Parkway Street Batam Centre ini adalah berubahnya papan reklame di depan pintu masuk kampus. Sebuah papan reklame digital berukuran 4×3 meter tampak berdiri kokoh, menggantikan papan reklame yang sebelumnya menjadi tempat pemasangan spanduk berbahan vinil.

Direktur Politeknik Negeri Batam Priyono Eko Sanyoto menjelaskan, papan reklame digital videotron ini dimanfaatkan sebagai sarana promosi dan informasi kampus. Penggunaan videotron dinilai sejalan dalam mewujudkan sasaran misi kampus yang berdiri sejak 2000 ini bagi terwujudnya sistem tata kelola berbasiskan pemanfaatan teknologi informasi.

Pemanfaatan teknologi juga menjadi komitmen bagi Politeknik untuk menjadikan kampus lebih ramah lingkungan. Melalui videotron, Politeknik bertekad mengurangi, bahkan meniadakan penggunaan spanduk berbahan vinil.

“Spanduk berbahan vinil kurang ramah lingkungan, karena tidak bisa langsung terurai dengan tanah saat dimusnahkan dan berbahaya bagi kesehatan,” katanya.

Humas Politeknik Negeri Batam Dewi menambahkan, penggunaan videotron dirasakan efektif dan efisien dibanding media promosi dan informasi dalam bentuk spanduk. Dari segi biaya, kampus tak lagi mengeluarkan anggaran mencetak spanduk setiap ada perubahan promosi dan informasi yang harganya antara Rp30 ribu hingga Rp40 ribu per meter.

Sebelumnya untuk mencetak spanduk ukuran 4×3 meter, kampus harus mengeluarkan biaya antara Rp360 ribu hingga Rp480 ribu untuk satu spanduk. Setiap perubahan materi, akan disertai dengan keluarnya anggaran. Semakin sering perubahan dilakukan, semakin besar juga anggaran yang dikeluarkan.

Berbeda dengan videotron, tak perlu lagi ada anggaran dikeluarkan, meski perubahan sering dilakukan. Perubahan promosi dan informasi cukup dengan mengubah desain dan bisa langsung ditampilkan melalui videotron tanpa keluar anggaran. Bahkan melalui videotron, banyak promosi dan informasi bisa ditampilkan secara silih berganti melalui pengaturan waktu tampilan.

“Untuk investasi awal media digital memang mahal. Tapi setelah jalan, banyak biaya yang bisa ditekan,” ujarnya.

Tidak hanya di luar ruangan, penggunaan videotron juga dimanfaatkan untuk aktivitas di dalam ruangan, seperti di aula Politeknik Negeri Batam. Aula yang bisa disewa oleh masyarakat umum ini, tak lagi mengalokasikan ruang untuk pemasangan spanduk, diubah dengan videotron berukuran sekira 6×2 meter.

Menurut Dewi, penggunaan videotron di dalam ruangan juga besar efisiensinya. Sebab biasanya dalam setiap kegiatan, penyelenggara akan memasang spanduk atau backdrop di dinding yang menghadap audiensi.

Spanduk atau backdrop itu dipasang dalam waktu singkat selama penyelenggaraan kegiatan, setelah selesai lalu dibuang. Padahal biaya cetak, contoh untuk ukuran 6×2 meter, dibutuhkan anggaran antara Rp360 ribu hingga Rp480 ribu. Jika dalam sebulan minimal ada delapan kali kegiatan atau sekali setiap Sabtu dan Minggu, maka terdapat anggaran antara Rp2.880.000 hingga Rp3.840.000 yang akhirnya akan menjadi sampah.

“Sayang kalau hanya dipakai sekali dan paling hanya sehari, habis itu dibuang. Sekarang tak perlu lagi keluar anggaran untuk membuat spanduk kegiatan, karena fungsinya bisa digantikan melalui layar proyektor atau videotron,” jelasnya.

Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bapedal) Kota Batam Dendi Purnomo menyebutkan, pemakaian papan reklame digital jenis videotron maupun LED dapat mengurangi penggunaan spanduk dan backdrop berbahan vinil. Selain itu, pemakaian papan reklame digital juga lebih atraktif dan bisa mempercantik wajah kota.

Sekarang promosi, kampanye, dan publikasi melalui spanduk berbahan vinil masih banyak digunakan. Apalagi saat menjelang kampanye, spanduk terpasang tumpang tindih dan berserakan di sembarang tempat, termasuk di pepohonan. Alasannya, bahan sintetis ini dianggap murah dan mudah didesain untuk selanjutnya diprint menggunakan bahan cat.

“Padahal banyak bahan cat yang masih mengandung merkuri dan bahan kimia lain yang berbahaya buat lingkungan. Vinil sendiri susah diurai oleh bakteri alam,” ujarnya.

Menurut Dendi, spanduk berbahan vinil yang masih marak digunakan di Kota Batam menyumbang peningkatan volume sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Punggur. Saat ini hasil sampah Batam mencapai sekira 700 ton per hari dan 27%nya merupakan sampah plastik. Salah satu cara untuk mengurangi timbunan sampah agar volume TPA tidak cepat penuh adalah dengan dibakar.

“Namun pembakaran vinil dan bahan plastik bisa menghasilkan dioksin yang bisa menyebabkan kanker,” ungkapnya.

 

Menambah Pendapatan Daerah

Konsep papan reklame digital LED berukuran 2×1 meter ini tergolong baru di Batam. Menurut Mangara, Batam menjadi daerah pertama yang menerapkan konsep papan reklame digital LED dengan sasaran pelaku ekonomi menengah ke bawah.

“Konsep ini kami bangun sejak tiga bulan lalu. Jika di Batam berjalan, rencana juga akan kami terapkan ke kota lainnya di Indonesia, seperti Bali yang sudah ada komunikasi dengan pemerintah daerah setempat,” ujarnya.

Mangara menjelaskan, pemasangan iklan melalui papan reklame digital LED dibatasi melalui sistem paket. Contoh paket minimal sepuluh hari untuk 40 kali tayang di satu lokasi dengan 10 papan reklame digital LED. Setiap iklan hanya memiliki durasi tayang 15 detik atau empat kali dalam sehari di satu papan reklame. Sementara dalam satu jam, hingga 240 iklan bisa ditampilkan secara bergantian.

Agar tidak berbenturan dan memaksimalkan target iklan, dalam satu lokasi tidak bisa dipasang lebih dari satu produk dengan jenis yang sama. Jika ada produk yang sama, maka akan disarankan untuk dipasang di lokasi lain.

“Saat ini terdapat 50 papan reklame digital LED yang terpasang di lima lokasi dengan setiap lokasi terdiri dari 10 papan reklame,” ujarnya.

Mangara memaparkan, pihaknya tidak mematok harga tinggi untuk promosi dan informasi melalui papan reklame digital LED. Untuk paket minimal sepuluh hari dengan 40 kali tayang di 10 papan reklame dalam satu lokasi, biayanya Rp2 juta termasuk pajak.

Biaya ini tentunya lebih hemat dibanding menggunakan media spanduk berbahan vinil ukuran standar 6×1 meter yang biaya cetak tiap spanduk antara Rp180 ribu hingga Rp240 ribu. Untuk dipasang di 10 lokasi, setidaknya juga diperlukan 10 spanduk dengan biaya cetak antara Rp1,8 juta hingga Rp2,4 juta. Biaya ini belum termasuk pajak.

Berdasarkan Peraturan Wali Kota Batam (Perwako) nomor 24 tahun 2011 tentang petunjuk pelaksanaan reklame Kota Batam, nilai jual objek pajak untuk spanduk ukuran 6×1 meter adalah Rp20 ribu per meter atau Rp120 ribu per spanduk. Sehingga dengan 10 spanduk, nilai pajaknya mencapai Rp1,2 juta dengan jangka waktu penyelenggaraan antara 3 hingga 15 hari.

“Selama ini orang menganggap reklame digital lebih mahal, padahal tidak juga,” ujarnya.

Penggunaan reklame digital LED untuk beriklan, jelas Mangara, sebenarnya lebih menguntungkan. Di antaranya pemasang tidak perlu khawatir lagi spanduk hilang, sobek, dan warnanya kusam yang bisa membuat informasi yang disampaikan tidak lengkap.

“Keuntungan lainnya justru bisa didapatkan oleh pemerintah daerah, karena pendapatan bertambah. Jika sebelumnya di satu lokasi hanya terpasang satu iklan, melalui papan reklame digital LED bisa muat ratusan iklan,” jelasnya.

Pajak daerah masih menjadi sumber utama Pendapatan Asli Daerah (PAD) Pemko Batam. Pada 2014 PAD Kota Batam ditargetkan sekira Rp600 miliar dan pajak daerah menyumbang sekira 75% atau Rp449,8 miliar.

Pajak daerah dari pajak reklame cukup menjanjikan bagi Pemko Batam. Setiap tahunnya, pendapatan daerah dari pajak reklame terus meningkat, bahkan realisasinya selalu melebihi dari target.

Pada 2011, target pajak reklame Rp3,3 miliar dan teralisasi Rp3,6 miliar. Kemudian pada 2012 target meningkat menjadi Rp3,8 miliar dan terealisasi Rp4,1 miliar. Pada 2013 target Rp4,3 miliar dan terealisasi Rp4,7 miliar.

“Sementara hingga November 2014 tahun ini, pendapatan daerah dari pajak reklame mencapai Rp5.435.000.000,” ungkap Kepala Bidang (Kabid) Penagihan Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) Kota Batam, Efrius.

Efrius mengakui, pendapatan daerah dari pajak reklame berpotensi terus bertambah dengan maraknya papan reklame digital. Selama ini, pajak reklame berasal dari pendapatan pajak billboard dan non billboard.

“Tentu dengan adanya reklame digital akan menambah potensi pendapatan daerah,” katanya.

Zaki Setiawan




2 thoughts on “Digital Tak Mesti Mahal

  1. Alfonsius

    Selamat pagi
    saya ingin bertanya apakah anda bisa memberi nomor yang bisa di hubungi untuk pemasangan iklan ini.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *