Fenomena istri simpanan di Kota Batam (2-Habis)

Hanya sekitar 61 persen yang nikah secara sah

Istri-istri simpanan yang mulai marak di Kota Batam, ternyata tidak seluruhnya menikah secara sah. Berdasarkan data Badan Penasehatan, Pembinaan, dan Pelestarian Perkawinan (BP4) Kota Batam, dari 103 istri simpanan dibawah pembinaannya, hanya 63 orang atau sekitar 61 persen yang menikah secara sah di Kantor Urusan Agama (KUA).

“Menurut negara ini sudah benar, meski pernikahan dilakukan tanpa wali sebenarnya atau menggunakan wali hakim. Namun dari sisi agama, belum tentu,” ungkap Penyuluh BP4 Kota Batam, Maryono.

Nikah secara sah di KUA, jelas Maryono, ternyata menjadi persoalan tersendiri bagi para suami yang beristri simpanan. Karena dikhawatirkan, istri simpanan akan menggugat ataupun mempermasalahkan harta gono-gini, jika sewaktu-waktu timbul perceraian.

Untuk menghindari nikah secara sah, istri simpanan biasanya dinikahi di bawah tangan. Resikonya lebih minim, dan pria lebih aman, terbebas dari tuntutan yang mungkin timbul di kemudian hari.

Begitupun dengan pemilihan tempat tinggal bagi istri simpanan, pria juga memiliki strategi tersendiri agar terhindar dari konflik sosial di masyarakat. Diantaranya dengan menempatkan istri simpanan di lingkungan yang masyarakatnya cuek, seperti di ruko ataupun perumahan-perumahan elit. Cukup dengan membayar rutin uang keamanan saja, mereka akan terhindar dari pantauan ataupun kecurigaan masyarakat sekitar dan aman dari razia.

Namun untuk istri simpanan yang terpaksa harus bertempat tinggal di lingkungan masyarakat biasa, para suami memiliki cara tersendiri untuk mengelabui masyarakat sekitar. Dengan membawa istri simpanan di tempat yang netral ataupun hotel, saat mereka membutuhkan untuk menjalin kemesraan.

Selain para oknum pejabat, oknum kepolisian ataupun oknum TNI, pria yang beristri simpanan juga banyak yang berasal dari warga negara asing (WNA), etnis Tioanghoa khususnya Singkawang (Kalimantan Barat) dan pejabat yang sering melakukan kegiatan di Batam. Seperti pejabat yang berasal dari daerah Jakarta, Pekanbaru, dan Makasar.

“Para suami yang berasal atau bertempat tinggal di luar Batam ini, rata-rata datang ke Batam setiap akhir pekan atau dua kali dalam sebulan. Dengan alasan sedang ada kegiatan atau rapat, yang harus dilakukan di Batam, sehingga istri pertamanya tidak curiga,” jelas Maryono.

Menurut Maryono, terdapat sejumlah alasan sehingga para wanita terjerumus dan rela menjadi istri simpanan. Diantaranya karena faktor ekonomi untuk memenuhi kebutuhan hidup yang kian tinggi, kebutuhan akan seks, dan faktor budaya atau pengaruh lingkungan. Rata-rata istri simpanan ini merupakan wanita yang berasal dari daerah luar Batam, seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatera Barat, Sulawesi Selatan, dan Kalimantan.

“Dari faktor pria, biasanya memiliki istri simpanan karena tidak puas dengan kehidupan seksual, seperti istrinya sudah tua atau sakit. Meskipun begitu, ada juga istri simpanan yang memiliki suami lebih dari satu,” pungkasnya.




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *