Habis banjir, hutan terbakar

BatamEkbiz.Com —┬áBencana tampaknya kian sering mendatangi bumi melayu ini. Setelah banjir saat musim hujan mengguyur, kini bencana kebakaran datang mengancam Batam.

Awal Januari 2014 lalu, hujan deras yang melanda seluruh Batam mengakibatkan banjir dan tergenangnya sejumlah jalan. Bahkan air juga masuk hingga ke rumah-rumah warga, seperti terjadi di kawasan Bengkong Indah Bawah, sekitar Vanholano Nagoya, Jalan Duyung Batu Ampar, Simpang Kabil Batam Centre dan Tembesi.

Aktivitas warga terganggu. Banyak kendaraan terjebak kemacetan panjang, menunggu banjir dan genangan air surut. Kini kebakaran sejumlah hutan dan lahan kosong melanda Batam, seperti terjadi di kawasan Barelang, Sei Ladi, Sei Harapan, Nongsa, Tanjungpiayu, dan Batuaji.

Kebakaran semakin cepat merembet akibat cuaca panas dan angin kencang. Bahkan kobaran api yang melalap pepohonan dan dedaunan kering, hampir merembet hingga ke perumahan warga.

Berdasarkan catatan Dinas Kelautan Perikanan, Peternakan, dan Kehutanan (KP2K) Kota Batam, sekitar 265 hektar hutan lindung terbakar selama pertengahan Januari hingga awal Maret 2014. Kebakaran terjadi akibat cuaca panas, kesengajaan, dan kelalaian manusia.

“Ada 19 kali kebakaran di Batam, dengan luas lahan terbakar mencapai 265 hektar,” ungkap Kepala Bidang Kehutanan Dinas KP2K Batam, Emri Zuharmen kepada wartawan.

Tidak hanya kawasan hutan lindung yang akhirnya hangus dan gundul akibat terjangan si ‘jago merah’. Kawasan hutan konservasi sekitar 20 hektar di hutan taman wisata alam Mukakuning juga mengalami bencana serupa. Jika pemerintah tidak segera menangani bencana kebakaran secara serius, ancaman kerusakan lingkungan di Batam akan bertambah parah.

Kebakaran hutan, akan memusnahkan tumbuh-tumbuhan dan kawasan serapan air yang dapat merusak keseimbangan alam serta ketersediaan cadangan air waduk di Batam. Kemampuan hutan untuk menyerap dan menyimpan air hujan terancam hilang.

Lahan hutan yang terbakar juga akan mudah terkena erosi, dan menurunkan kemampuan hutan sebagai penyimpan karbon, yang akan berpengaruh besar pada perubahan iklim dan pemanasan global. Sementara kawasan hutan yang terbakar, membutuhkan waktu yang lama untuk kembali menjadi hutan.

Kepala Kantor Penanggulangan Bahaya Kebakaran, Direktorat Pengamanan BP Batam, Slamet Sriyono hanya mampu mengimbau masyarakat agar turut menjaga hutan dari kebakaran. Dengan tidak membakar semak-semak, ataupun sembarangan membuang puntung rokok di hutan.

“Kondisi seluruh semak-semak dan hutan di Batam sangat kering, sekecil apapun aktivitas, bahkan puntung rokok sangat berpotensi menimbulkan kebakaran,” ujarnya. (R02)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *