Ini Penyebab Terjadinya Banjir Berulang di Batam

Batam Centre, BatamEkbiz.Com — Pemko Batam mulai mengidentifikasi titik-titik dan penyebab banjir di Batam. Banjir masih rawan terjadi setiap hujan deras turun di Batam.

Di antara kawasan yang menjadi langganan banjir adalah jalan depan Rusun Anggrek/Rusun Perumnas Tanjungpiayu, Simpang Mangsang, Bukit Kemuning, dan Simpang GMP, Kecamatan Seibeduk. Penyebabnya, kios-kios liar yang dibangun di pinggir drainase depan Rusun Anggrek, pendangkalan, dan kegiatan cut and fill di Kavling Mangsang.

Selain itu banjir juga terjadi di Simpang Kepri Mall, Kampung Air, Simpang Sincom, Yos Sudarso Green Land, dan depan Arsikon Batam Centre. Di Simpang Kepri Mall, penyebabnya adalah tidak memadainya drainase yang ada untuk menampung debit air hujan dan seringnya sampah masuk ke drainase. Bak sampah yang dibangun Kepri Mall dekat parkir motor dan tepi parit ini, selain memicu bau tidak sedap bagi pengguna jalan, juga sampahnya sering berserakan dan masuk parit.

Wali Kota Batam, Muhammad Rudi mengatakan, Pemko Batam telah membagi penanganan banjir per kecamatan. Ada tim khusus yang dibentuk untuk mendata titik dan penyebab banjir di setiap kecamatan bersama organisasi perangkat daerah.

“Sudah dibagi tim per kecamatan. Tolong rapatkan mana-mana yang kita ambil tindakan,” katanya usai memimpin rapat penanganan banjir di Kantor Walikota Batam, Senin 29 Mei 2017.

Menurut Rudi, titik-titik dan penyebab banjir hasil rapat per kecamatan nanti yang akan jadi prioritas. Penanganan dilakukan secara manual dengan normalisasi drainase hingga pembongkaran bangunan di atas aliran air.

Untuk itu, Pemko Batam akan meminta bantuan pihak keamanan (TNI dan Polri) dalam proses pembongkaran bangunan atas drainase ini. Dan kepada BP Batam, Pemko minta agar menarik kembali lahan-lahan yang sudah diberikan izin pemanfaatannya kepada pihak ketiga untuk penanganan banjir.

“Kita akan buka paksa lahan-lahan yang sudah diberikan ke orang lain, demi menyelamatkan banjir di Kota Batam,” ujarnya.

Selain itu, Rudi juga minta agar cut and fill (pemotongan lahan) dihentikan. Karena proses pemotongan lahan yang berjalan di Batam selama ini tidak memberikan solusi atas masalah lingkungan.

“Potong saja, air langsung mengucur karena tidak ada pohon lagi,” kata dia.

Rudi mengatakan lahan ini merupakan salah satu ganjalan dalam penyelesaian masalah banjir. Sejak 2013 Pemko sudah minta ke BP Batam untuk bebaskan lahan yang terkait titik banjir. Namun sampai saat ini tidak ada penyelesaiannya.

“Bukan kami tidak bisa bekerja, lahan ini sudah jadi sandungan. Makanya tidak boleh ada lagi masyarakat yang menambah depan atau belakang rumahnya sehingga menutup parit. Sudahlah paritnya sempit, aliran tidak lancar. Maka besok harus lancar,” kata Rudi. (R03)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *