Inilah karya peserta MDK perubahan iklim di provinsi terpilih

Jakarta, BatamEkbiz.Com — Hasil lokakarya meliput perubahan iklim yang berlangsung 18-27 Maret 2014 diakhiri dengan pemaparan hasil liputan di provinsi terpilih. Pemaparan dilakukan oleh sembilan peserta meliput daerah ketiga (MDK) yang tersebar di provinsi dengan emisi karbon tinggi akibat kerusakan hutan. Mereka adalah Desi Safnita Saifan (Koresponden Kompas.com Aceh), Dinda Wulandari (Koresponden Bisnis Indonesia Palembang), Fariana Ulfah (Reporter City Radio Medan), Phesi E. Julikawati (Koresponden Tempo Bengkulu), Nazat Fitriah (Reporter TVRI Kalimantan Selatan), Marga Rahayu (Reporter RRI Samarinda, Kalimantan Timur), Zaki Setiawan (Reporter Koran Sindo Batam), Ma’as (Redaktur Koran Media Jambi), dan Timoteus Marten (Redaktur Tabloid Jubi Jayapura).

Peserta lokakarya MDK dipilih dari hasil Lomba Meliput Perubahan Iklim Lembaga Pers Dr Soetomo (LPDS) yang telah ditutup 28 Februari 2014. Liputan dihasilkan setelah masing-masing peserta mendapat tugas meliput perubahan iklim selama tiga hari terkait isu lokal perubahan iklim di daerah yang bukan daerah asal dan bukan Jakarta. Dalam MDK, masing-masing peserta wajib membuat naskah 600 kata feature interpretatif, 400 kata profil, dan tulisan 400 kata bertopik bebas.

Desi Safnita Saifan yang mendapat tugas meliput perubahan iklim di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, memilih naskah berjudul “Sampah Mengalir Sampai Kahayan” sebagai feature interpretatif. Sedangkan Dinda Wulandari yang mendapat daerah penugasan di Samarinda, Kalimantan Timur, memilih naskah berjudul “Ada Derita Warga dari Tambang Batu Bara”.

“Naskah ini menceritakan bagaimana hutan di Kalimantan Timur yang banyak dialokasikan kepada perusahaan tambang batu bara,” ujar Dinda dalam sesi pemaparan hasil karya pada Selasa-Rabu (25-26/3/2014).

Fariana Ulfah yang mendapat daerah penugasan di Batam, Kepulauan Riau memilih naskah berjudul “Limbah B3 Sengsarakan Masyarakat, Makmurkan Industri. Phesi E. Julikawati yang mendapat penugasan ke Pontianak, Kalimantan Barat memilih naskah berjudul “Hitam Arang Hijaukan Lahan Kritis”.

Sementara Nazat Fitriah yang meliput perubahan iklim ke Medan, Sumatra Utara memilih naskah berjudul “Manisnya Sawit Ancam Kelatnya Teh Sumatra”. Marga Rahayu memilih naskah berjudul “Pulau Tikus di Ambang Pupus” dalam liputannya ke Bengkulu.

Zaki Setiawan yang mendapat daerah penugasan di Palembang, Sumatra Selatan memilih naskah berjudul “Terjepit di Antara Lahan Sawit”. Ma’as memilih naskah berjudul “Jayapura Kota Indah Terancam Tenggelam” dalam liputannya ke Jayapura. Dan Timoteus Marten memilih naskah berjudul “Hutan Hilang Bencana Datang” dalam liputannya ke Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Pemaparan masing-masing peserta, kemudian mendapatkan komentar dari rekan peserta lainnya. Tim Mentor LPDS juga memberikan tanggapan, terkait isi dan gaya tulisan masing-masing peserta.

Direktur Eksekutif LPDS, Priyambodo RH menjelaskan, lokakarya MDK ini berwujud travel fellowship yang bertujuan meningkatkan pemahaman dan mutu peliputan wartawan tentang perubahan iklim. Lokakarya Meliput Perubahan Iklim merupakan proyek kerjasama keempat LPDS bersama Kedutaan Norwegia.

“Proyek lokakarya pertama menyangkut etika pers pada 2009 hingga 2010. Proyek kedua mengenai etika pers dan meliput daerah konflik 2011 dan proyek ketiga ialah meliput perubahan iklim di sepuluh provinsi pada 2012 hingga 2013,” ujarnya saat membuka Lokakarya MDK di Gedung Dewan Pers Jakarta.

Wakil Kedutaan Norwegia, Sekretaris Pertama Bidang Politik dan Perniagaan Kristian Jul Rosjo, menyatakan dalam hal perubahan iklim Norwegia bekerjasama dengan negara, sektor swasta, masyarakat adab dan media. Setiap masyarakat memerlukan “watchdog” (pengawas) untuk memeriksa efisiensi.

“Media juga berperan menyebarkan informasi. Informasi menciptakan pengetahuan. Pengetahuan menciptakan kesadaran,” ujar Rosjo dalam bahasa Inggris.

Norwegia merupakan negara pemberi dana besar dalam prakarsa Reduksi Emisi Deforestasi dan Degradasi Hutan (REDD). Berdasarkan mufakat Mei 2010, Norwegia menyediakan dana hibah sampai dengan 1 milyar dolar AS ke Indonesia secara bertahap sesuai dengan tingkat penurunan emisi karbon dari verifikasi hutan yang diselamatkan. Hibah serupa juga disediakan bagi Brasil yang memiliki Amazon, kawasan hutan hujan tropis terluas dunia. (R02)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *