Jam belajar anak kalah dengan menonton TV

Baloi, BatamEkbiz.Com — Televisi (TV) masih menjadi tontonan yang banyak menyita waktu tumbuh kembang anak. Bahkan jam belajar ataupun waktu sekolah anak, hanya separuhnya saja dibandingkan dengan jam menonton TV.

Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Kepri, Aminuddin mengungkapkan, berdasarkan data sebuah riset, waktu sekolah anak hanya 800 jam setahun. Atau 3-5 jam sehari dan 18-30 jam sepekan, dengan 200 hari belajar.

Sedangkan waktu menonton TV anak setahun, mencapai 1.600 jam. Atau 4,5 jam sehari dan 30-35 jam sepekan.

“Itulah yang diterima dari lingkungan, ternyata lebih besar daripada di sekolah,” ungkapnya dalam Literasi Media se Provinsi Kepri yang diselenggarakan KPID Kepri di Universitas Internasional Batam, Rabu (10/4/2013).

Aminuddin Hadi menjelaskan, berdasarkan data AGB Nielsen, waktu menonton siaran TV setiap orang, rata-rata 28-35 jam/pekan. Dan 21% penonton TV adalah usia 5-14 tahun, atau sebanyak 1,4 juta anak Indonesia menonton TV pada jam 18.00 – 21.00, jam ketika masa belajar.

Sedangkan program yang banyak ditonton anak, adalah sinetron yang mencapai waktu sekitar 50 menit/hari. Menonton sinetron lebih banyak dibandingkan menonton tayangan anak, yang hanya 20 menit/hari.

Sementara tayangan yang lebih sering muncul di TV adalah adu mulut, asusila, berantem, malas, mengumpat, dan seterusnya yang dapat menjadikan otak anak overload. Anak usia 0-3 tahun yang gemar menonton TV berpotensi mengalami gangguan dalam proses penyambungan synaps syaraf otak.

Sel syaraf otak yang tidak tersambung itu, kemudian akan mati. Dan ini terkait dengan kemampuan anak dalam memaknai apa yang ada di lingkungan sekitarnya.

“Layar kaca TV menampilkan suara, warna dan gambar yang cepat berganti-ganti yang membuat otak anak balita tidak mampu mengolahnya dan menjadi overload. Karena tumbuh kembang anak tergantung dari apa yang dilihat, didengar dan dirasakan,” kata Aminuddin. (R02)