Kasus Penggelapan Rp36 Miliar Terancam Gagal Hadirkan Saksi Kunci

Batam Centre, BatamEkbiz.Com — idang kasus dugaan penggelapan besi scrap sekira Rp36 miliar terancam gagal menghadirkan salah satu saksi kunci, Tan Mei Yen alias Yvonne. Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Batam yang diketuai Wahyu Prasetyo Wibowo menolak permohonan Andi Wahyudin, pengacara terdakwa agar Yvonne yang saat ini berada dalam tahanan diizinkan memberikan kesaksian di persidangan.

“Permohonan penasehat hukum terdakwa salah alamat, harusnya bukan ditujukan kepada majelis hakim dalam perkara ini, 904. Karena perkaranya beda, 1128, walaupun ketua majelisnya juga saya,” kata Wahyu dalam sidang kasus dugaan penggelapan dengan terdakwa Direktur PT EMR Indonesia Koh Hock Liang di PN Batam, Rabu (6/1/2016).

Dalam kasus di PN Batam, Yvonne terdaftar dengan nomor perkara 1128/PID.B/2015/PN Btm, kasus dugaan penggelapan yang juga terjadi di PT EMR. Sedangkan Koh Hock Liang yang ditahan sejak 15 Agustus 2015 tersebut terdaftar di PN Batam dengan nomor perkara 904/PID.B/2015/PN Btm.

Yvonne ditahan oleh penyidik sejak 29 November 2015, di saat proses persidangan Koh Hock Liang di PN Batam sedang berlangsung. Saat ini Yvonne dalam status penahanan Hakim PN Batam sejak 23 Desember 2015 hingga 21 Januari 2016.

Sempat terjadi perdebatan antara pengacara terdakwa dengan ketua majelis hakim terkait penolakan permohonan izin untuk menghadirkan saksi Yvonne dalam sidang dengan terdakwa Koh Hock Liang. Andi Wahyudin menilai kehadiran Yvonne sangat dibutuhkan, karena keterangan sejumlah saksi menyebut Yvonne memiliki peran vital, mulai dari pengambilan cek ke perusahaan pembeli besi scrap dari PT EMR Indonesia, penimbangan, hingga harga barang.

Menurut Andi, seharusnya majelis hakim yang berinisiatif untuk menghadirkan Iyvonne dalam persidangan. Sebab Yvonne adalah orang kepercayaan Koh Hock Liang dan sering menggantikan tugas Koh Hock Liang saat tidak berada di perusahaan.

“Kita mencari kebenaran disini (sidang),” katanya.

Peran vital Yvonne di PT EMR Indonesia diungkapkan sejumlah saksi. Komisaris PT EMR Indonesia Teng Leng Chuan yang melaporkan Koh Hock Liang dalam kasus ini, saat bersaksi di persidangan menyebutkan bahwa Yvonne yang mengendalikan seluruh operasional perusahaan.

Saksi lainnya, Sriwati, Staf Administrasi PT EMR Indonesia dalam kesaksiannya menjelaskan bahwa Yvonne adalah atasannya. Ia menyebut warga negara Malaysia itu menjabat sebagai Manager Accounting di PT EMR Indonesia yang mengetahui terkait masalah uang perusahaan dan harga barang. Hal yang sama juga diungkapkan saksi Suryawan selaku Accounting PT EMR Indonesia serta Syair selaku Accounting dan HRD PT EMR Indonesia.

Manager Operasional PT EMR Indonesia Jhon Ky dalam kesaksiannya pada Rabu (6/1/2016), juga menyebutkan peran strategis Yvonne di perusahaan. Bahkan saat Direktur Koh Hock Liang tak ada di perusahaan, Yvonne lah yang memerintahkan pengangkutan dan pengiriman barang.

“Dia atasan saya juga dan setahu saya digaji,” katanya.

Jhon Ky sudah bekerja di PT EMR Indonesia sejak 2008. Sebagai orang lapangan, ia mengaku sering diminta mengirimkan besi scrap kepada PT Batam Mitra Sejahtera (BMS) dan PT Karya Sumber Daya (KSD). Kedua perusahaan itu lokasinya berbeda, PT BMS di Tanjunguncang dan PT KSD di Batuampar.

“Pengiriman barang lebih banyak ke PT BMS,” ungkapnya.

Ia juga mengaku pernah melihat dan membaca nota pengiriman barang kepada PT Gunung Raja Paksi atau Gunung Garuda. Bahkan ia pernah berbincang dengan perwakilan dari PT Gunung Raja Paksi saat datang ke PT EMR untuk melihat barang yang akan diantar ke PT BMS.

Menurutnya, sejak 2015 perusahaan sudah tidak beroperasi. Namun masih ada beberapa karyawan yang bekerja, seperti bagian security dan kantor (office).

“Saya tidak tahu siapa yang mengendalikan perusahaan saat ini,” katanya.

Keterangan saksi ini berbeda dengan sejumlah saksi yang dihadirkan oleh pihak Jaksa Penuntut Umum (JPU). Menurut keterangan saksi sebelumnya, PT BMS dan PT KSD bukanlah pembeli barang, namun perusahaan pengangkutan barang yang dijual PT EMR ke PT Gunung Garuda. (R01)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *