Manuver Soerya rugikan Ansar dan Nurdin

Tanjungpinang, BatamEkbiz.Com — Keakraban Bupati Bintan Ansar Ahmad ataupun Bupati Karimun Nurdin Basirun dengan Wakil Gubernur Kepri Soerya Respationo tak otomatis membuat salah satunya cepat dipilih sebagai pendamping Soerya di pemilihan gubernur (pilgub) Kepri. Sampai sekarang PDIP tak kunjung memastikan siapa di antara Ansar dan Nurdin yang bakal dipilih sebagai wakil Soerya.

Direktur Pusat Kajian Kebijakan Publik Fisip Umrah Suradji menilai, PDIP sengaja mengulur waktu hingga dirasa tepat untuk menentukan salah satu di antara Ansar dan Nurdin sebagai wakil Soerya. Ansar dan Nurdin terkesan digantung kepastiannya sebagai pendamping dan dibiarkan berkontestasi untuk menunjukkan kekuatan masing-masing.

“Soerya mencoba memainkan arah opini publik terhadap bakal calon wakilnya. Setelah simpati publik mengerucut terhadap salah satunya dan menjelang last minute, baru akan dipastikan siapa yang bakal menjadi wakil Soerya,” katanya, Senin (25/5/2015).

Menurut Suradji, banyak keuntungan bagi Soerya dengan mengulur penentuan calon yang bakal mendampinginya di pilgub Kepri. Sebab baik Ansar maupun Nurdin akan terus berupaya untuk mendekati Soerya dan menghimpun dukungan masyarakat melalui berbagai kegiatan. Apalagi keduanya sama-sama memiliki dukungan basis massa yang kuat di daerahnya masing-masing. Ansar memiliki basis massa kuat di Bintan dan Nurdin di Karimun.

Dalam berbagai kesempatan akhir-akhir ini, terlihat bagaimana kerja keras Ansar dan Nurdin untuk menunjukkan kekuatan massa pendukungnya. Nurdin misalnya, giat mendekati LSM dan ormas se-Karimun untuk menghimpun dukungan. Hal yang sama juga dilakukan Ansar melalui Komunitas Pilih Ansar Ahmad (Kopiah). Ansar dan Soerya terlihat akrab saat sama-sama melaunching Kopi Sore dan Kopiah di Kijang, Bintan beberapa waktu lalu.

Saling menunjukkan kekuatan massa pendukung oleh Ansar dan Nurdin dihadapan Soerya ini akan semakin gencar dalam beberapa hari ke depan. Terutama menjelang fit and proper test oleh DPP PDIP dan selagi belum ada keputusan siapa yang akan dipilih oleh Soerya sebagai wakilnya.

“Selama ini Soerya beralasan bahwa penentuan siapa yang bakal mendampinginya tergantung keputusan DPP PDIP. Padahal keputusan DPP hanyalah formalistik, karena DPP sendiri sudah menyerahkan sepenuhnya kepada Soerya untuk memilih wakilnya,” katanya.

Kondisi demikian, bisa berdampak buruk bagi Soerya jika terus dibiarkan tanpa kendali mekanisme yang jelas dan tegas. Sebab, besar kemungkinan yang tak terpilih nanti bakal kecewa dan mengalihkan dukungan ke calon lain. Karena merasa sudah dimanfaatkan dan banyak berkorban, terutama dana. Ditambah lagi jika mekanisme penjaringan berjalan sewenang-wenang, tidak secara fair, demokratis, dan terbuka. Mengingat di belakang mereka ada ribuan pendukung dan loyalis.

Sedangkan sampai saat ini, kriteria calon wakil yang bisa mendampingi Soerya belum secara gamblang dibuka ke publik. Apakah benar hanya sebatas menguji wawasan kebangsaan dan Pancasila kandidat, atau ada bahan uji lainnya.

Terkait kemungkinan tersebut, Suradji menganggap sebagai hal biasa di alam politik. Namun kekecewaan itu bisa diredam jika Soerya mampu memberikan komitmen dalam bentuk lain.

“Mereka sebenarnya saling memanfaatkan, tapi yang banyak mendapatkan keuntungan adalah Soerya. Kekecewaan itu tak bisa dipungkiri, terutama bagi pendukung atau orang yang ada di belakang calon. Pasti ada langkah politik lanjutan dari kandidat yang tidak terpilih,” ungkapnya.

Sementara itu Ketua DPD PDIP Kepri Soerya Respationo menyatakan akan mempertemukan dua kader Partai Golkar Ansar Ahmad dan Nurdin Basirun yang sama-sama melamar menjadi calon wakil gubernur Kepri dari partai banteng itu. Pertemuan itu sebagai upaya agar ada sikap saling mendukung siapa pun yang nantinya terpilih sebagai wakil Soerya.

“Saatnya nati kami bertiga akan bicara bersama, agar tidak ada yang merasa kalah,” katanya. (R03)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *