MEA dan Peluang UMKM Kepri

Pancaran kesejahteraan masyarakat Provinsi Kepulauan Riau telah kelihatan sejak tanggal 31 Desember 2015 lalu. Roda perekonomian berjalan cepat, walaupun himpitan yang menerpa pengusaha besar akibat lesunya pasar global kian terasa. Anjloknya nilai tukar rupiah serta naiknya harga BBM beberapa waktu lalu telah menyebabkan naiknya harga barang di pasaran.

Tidak ada yang menyangka bahwa spekulasi bisnis pada berbagai negara di dunia dapat dijaga dengan stabil, walau oleh Amerika Serikat sekalipun. Termasuk Indonesia, negara berpenghasilan minyak dan gas bumi tidak dapat menentukan sendiri kebutuhan dan harga BBM dalam negeri.

Hubungan ekonomi suatu negara saat ini berkaitan erat dengan pasar dunia. Oleh karena itu, tingginya jumlah produksi tidak membuat suatu negara tersebut makmur. Bahkan dapat mengakibatkan harga jual melemah. Lain halnya dengan aktivitas Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), memasuki tahun 2016 ini kian memesona.

Pelaku UMKM tidak bergerak sendirian, walaupun dalam proses untuk menjadi sukses banyak hambatan dan rintangan yang mereka lalui. Namun mereka tidak pernah menyerah, tetap optimistis. Usaha yang mereka lakukan hari ini mereka jadikan starting point dalam diri mereka untuk berkata “masih ada hari esok yang lebih baik”, dengan cara menjadi seorang enterpreneur (berwirausaha) yang akan membawa keberuntungan.

Dasar Mengembangkan Wirausaha

SWOT ANALISIS
Secara teoritis, kami telah membaca beberapa literatur sangat baik dan memotivasi setiap orang serta siapapun yang ingin mengeksplor kemampuan yang ada pada dirinya, baik secara pisik, psikis, ataupun harta benda (sebagai modal), agar kehidupan dari hari ke hari menjadi lebih baik dari berbagai aspek seperti menata ekonomi ke arah yang lebih baik, menjaga kesehatan yang teratur, meningkatkan status sosial secara berangsur, memperoleh pendidikan selangkah demi selangkah, menambah wawasan yang lebih luas, dan menggapai impian menjadi nyata. Dengan modal sabar dan iqro’ (membaca), membaca dengan menggunakan SWOT Analisis.

Strength (kekuatan)
Masyarakat UMKM kita bisa membaca kekuatan apa yang dimiliki di Provinsi Kepualaun Riau, mulai dari jumlah penduduk lokal, pendatang, wisatawan setiap hari, minggu dan bulan yang memiliki hubungan dan pengaruh langsung dengan pasar bisnis kita. Kedua, produk. Apa produk yang sangat berarti dan dapat disuguhkan pada pendatang/wisatatan tersebut selama mereka berada di wilayah ini, atau oleh-oleh ketika mereka kembali ke daerah/negara asalnya.

Ketiga, akomodasi (perhotelan/penginapan), dimana pendatang/wisatawan mengharapkan pelayanan dan informasi untuk mendukung aktivitas yang mereka lakukan selama di Kepri. Tentunya, SDM yang kita punyai haruslah SDM yang sudah harus dibekali dengan informasi dan pengetahuan luas, sehingga dapat memberikan kesan positif, agar mereka berkunjung/datang lagi kemudian hari.

Keempat, objek-objek wisata. Kebanyakan kedatangan wisatawan di Kepri adalah untuk berlibur. Sehingga mereka membutuhkan objek-objek untuk mereka kunjungi. Dan objek yang kita miliki dan kita tawarkan semestinya memberikan daya tarik tersendiri baik dari pelayaan, kebersihan, dan daya tarik lokasi.

Kelima transportasi. Kekuatan transportasi dengan SDM yang ramah dan jujur serta teruji kemampuannya akan menarik wisatawan yang membutuhkan rasa nyaman dan kemananan yang prima.

Weakness (kelemahan)
Selain Kepri memiliki kekuatan tersebut di atas, kita juga harus mengakui kelemahan-kelemahan yang ada, seperti jumlah penduduk yang banyak dengan tingkat keamanan yang rawan, seharusnya sudah dapat diatasi. Sumber kerawanan dari berbagai hal tersebut dapat berasal dari penduduk sendiri, pendatang/wisatawan dengan berbagai bentuk dan modus yang dilakukan dan meresahkan.

Kelemahan kedua, yaitu produk yang kita miliki harus dievaluasi apa kelemahannya, mungkin saja kualitas, kuantitas, informasi atau pengetahuan pemasaran tentang produk barang atau jasa itu sendiri, kemasan yang kurang menarik, atau jauh dari tempat dimana mereka stay selama di sini.

Ketiga, kelemahan pihak hotel (akomodasi) dalam memahami kultur (nilai) calon tamu, hal tersebut adalah bagian dari segmentasi pasar yang harus dikuasai oleh pimpinan dan karyawan hotel. Kelas sosial ekonomi calon tamu, serta keterbatasan pelayanan yang disuguhkan.

Keempat; objek wisata Kepri yang 96 persen adalah laut dan pulau memiliki potensi yang memesona, dimana para tamu daerah ini dapat menikmatinya. Namun banyak sekali objek-objek tersebut tidak dikelola dengan baik, seperti beberapa objek wisata di Batam dan Kepri yang tidak dikunjungi oleh wisatawan mancanegara, karena tidak bersih dari sampah dan bau yang menyengat.

Tidak ada aktivitas yang menarik seperti daerah lainnya di Indonesia, masyarakat penyedia jasanya juga belum profesional dalam melayani. Akhirnya wisatawan di Kepri jarang sekali menyentuh objek-obyek yang dikelola oleh masyarakat, kecuali obyek-obyek yang ada di lokasi dimana mereka stay selama di Kepri.

Padahal keberadaan mereka ini mampu meningkatkan PAD dan kesejahteraan masyarakat itu sendiri. Kelima, transportasi. Masih banyak pengelola jasa transportasi yang tidak tahu lokasi-lokasi yang sebenarnya wisatawan tersebut sudah mengetahuinya dari berbagai media seperti internet.

Ketika mereka hendak menggunakan jasa trasportasi tersebut malah penyedia tertegun dan tidak mengetahui harus memberikan jawaban apa. seperti jarak tempuh, ataupun pengetahuan tentang karaker lokasi yang ditayakan wisatawan. Di Kepri, baik mal dan pasar tradisional tidak memiliki identitas khusus, seperti pusat perbelanjaan buah misalnya dan elektronik pada berbagai lokasi yang ada. Maka pada penyedia jasa trasportasi harus mampu menguasai agar memperoleh banyak pelanggan.

Opportunities (peluang)
MEA ini memberikan peluang besar pada pelaku UMKM di Kepri. Namun sejauh mana kemampuan masyarakat memahami bahwa peluang itu ada? Peran pemerintah, serta lembaga-lembaga keuangan dan tenaga ahli dibutuhkan untuk melakukan sosialisasi, pelatihan, sehingga mampu mengubah persepsi masyarakat terhadap pendatang/wisatawan dari kesan merugikan menjadi menguntungkan.

Threats (ancaman)
MEA dapat juga menjadi ancaman, ancaman terhadap persoalan keamanan, persoalan persaingan, pelayanan yang tidak mampu diberikan kepada pendatang/wisatawan yang datang ke wilayah ini. Sehingga suatu saat tidak tertutup kemungkinan barang dan jasa berasal dari negara lain dan pengelolaan serta pemasarannya pun dilakukan oleh SDM yang direkrut atau didatangkan dari negara lain tersebut, sehingga menghilangkan kesempatan bagi masyarakat kita sendiri.

Paradigma Berwirausaha
Paradigma dalam Bobbi De Porter dan Mike Heernacki (2000: 355) adalah suatu perangkat aturan atau kerangka rujukan. Pada buku yang lain (2003 :306) paradigma adalah ”satu perangkat aturan atau kerangka rujukan.”

Kisdarto Atmosuprapto (2002:121) mengatakan, “Paradigma =pola fikir =satu model, teori, persepsi, asumsi, kerangka acuan = cara kita melihat dunia = sumber, dari mana sikap dan perilaku seseorang”.

Ada beberapa perangkat aturan yang berkaitan dengan wirausaha yang kami cantumkan dalam tulisan ini, yaitu:

Inpres (Instruksi Presiden) dan dasar lainnya.

Pemimpin negara ini mendorong, memandu, memberikan support kepada masyarakatnya untuk melakukan aktivitas seperti wirausaha. Inpres Nomor 4 Tahun 1995 tentang Gerakan Nasional Memasyarakatkan dan Membudayakan Kewirausahaan yang isinya “Kewirausahaan adalah semangat, sikap, perilaku dan kemampuan seseorang dalam menangani usaha dan atau kegiatan yang mengarah pada upaya mencari, menciptakan, menerapkan cara kerja, teknologi dan produksi baru dengan meningkatkan efisiensi dalam rangka memberikan pelayanan yang lebih baik dan atau memperoleh keuntungan yang lebih besar”.

SKB (Surat Keputusan Bersama)
SKB Menteri Negara Koperasi No:02/SKB/Meneg/VI/2000 dan No: 4/U/SKB/2000 tanggal 29 Juni 2000 tentang “Gerakan Nasional Memasyarakatkan dan Membudidayakan Kewirausahaan, dikemukakan bahwa, “Kewirausahaan adalah semangat, sikap, perilaku, dan kemampuan seseorang dalam menangani usaha dan atau kegiatan yang mengarah pada upaya mencari, menciptakan, menerapkan cara kerja, teknologi, dan produksi baru dengan meningkatkan efisiensi dalam rangka memberikan pelayanan yang lebih baik dan atau memperoleh keuntungan yang lebih besar.

Ketentuan Lainnya
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 3 menyatakan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Berdasarkan penelitian di Harvard University Amerika Serikat (Ali Ibrahim Akbar, 2000), ternyata kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan kemampuan teknis (hard skill) saja, tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill). Penelitian ini mengungkapkan, kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20 persen oleh hard skill dan sisanya 80 persen oleh soft skill. Bahkan orang-orang tersukses di dunia bisa berhasil dikarenakan lebih banyak didukung kemampuan softskill dari pada hardskill.

Hal ini mengisyaratkan bahwa mutu pendidikan karakter termasuk karakter kewirausahaan peserta didik sangat penting untuk segera ditingkatkan. Sehubungan dengan hal tersebut, peningkatan mutu pembelajaran dan faktor-faktor lain yang mempengaruhi hasil belajar perlu dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan.

Hasil Studi Cepat tentang pendidikan kewirausahaan pada pendidikan dasar dan menengah yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Kebijakan dan Inovasi Pendidikan (27 Mei 2010) diperoleh informasi bahwa pendidikan kewirausahaan mampu menghasilkan persepsi positif akan profesi sebagai wirausaha.

Bukti ini merata ditemukan baik di tingkat sekolah dasar, menengah pertama, maupun menengah atas, bahwa peserta didik di sekolah yang memberikan pendidikan kewirausahaan memberikan persepsi yang positif akan profesi wirausaha. Persepsi positif tersebut akan memberi dampak yang sangat berarti bagi usaha penciptaan dan pengembangan wirausaha maupun usaha-usaha baru yang sangat diperlukan bagi kemajuan Indonesia.

Selain dari perangkat aturan, yang mendorong tumbuh suburnya wirausaha di negara ini juga dapat dipengaruhi oleh hal-hal berikut, seperti:

Kondisi Bangsa Indonesia
Indonesia sebagai negara keupulauan (nusantara) memiliki ciri-ciri khusus, yang berbeda dengan negara tetangga ASEAN, bahkan berbeda dengan negara-negara lain di dunia sehingga perekonomiannya memiliki karakteristik sendiri. Yang dipengaruhi oleh karakteristik itu sendiri,

Faktor Geografi
Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia (17.508).terdiri dari 13.677 pulau besar dan kecil (baru 6.044 pulau memiliki nama, di antaranya 990 pulau yang dihuni manusia); terbentang dari 60LU sampai 110LS sepanjang 61.146 km. Memiliki potensi ekonomi yang berbeda-beda karena perbedaan SDA, kesuburan tanah, curah hujan (Sutjipto, 1975). Dengan laus wilayah 5.193.250 km2, 70 persennya (± 3,635,000 km2) terdiri dari lautan (menjadi negara bahari) letaknya strategis karena : memiliki posisi silang (antara Benua Asia dan Benua Australia), menjadi jalur lalulintas dunia (antara Laut Atlantik dan Laut Pasifik) dan menjadi paru-paru dunia (memiliki hutan tropis terbesar).

Sumber Daya Manusia
Indonesia negara nomor 4 di dunia karena berpenduduk lebih dari 270 juta orang. Penyebaran penduduk tidak merata (dua per tiga tinggal di Pulau Jawa), sebagian besar hidup di pedesaan (pertanian), bermata pencairan sebagai petani kecil dan buruh tani dengan upah sangat rendah. Mutu SDM rendah ± 80% angkatan kerja berpendidikan SD. Produktivitas rendah karena taraf hidup yang rendah: konsumsi rata-rata penduduk Indonesia Rp82.226 per bulan (1993), namun 82% penduduk berpendapatan di bawah Rp60.000 per bulan per kapita (Sjahrir, 1996).

Indonesia yang berpenduduk lebih dari 270 juta orang membutuhkan berbagai barang, jasa, dan fasilitas hidup dalam ukuran serba besar (pangan, sandang, perumahan dan lain-lain). Namun di lain pihak kemampuan kita untuk berproduksi (produktivitasnya) rendah. Hal ini akan menciptakan kondisi munculnya rawan kemiskinan.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) per Agustus 2010 sebagaimana dirilis oleh Pikiran Rakyat Online (28/2), dimana Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Indonesia pada Agustus 2010 mencapai 7,14 persen, (8,32 juta orang dengan angkatan kerja sebesar 116,53 juta jiwa). Angka ini menurun dibanding TPT Februari 2010 yang sebesar 7,41 persen dan TPT Agustus 2009 yang sebesar 7,87 persen.

Untuk mengurangi angka pengangguran salah satu cara yang bisa dilakukan adalah perlu dikembangkannya semangat entrepreneurship sedini mungkin, karena suatu bangsa akan maju apabila jumlah entrepreneurnya paling sedikit 2% dari jumlah penduduk. Pada tahun 2007, jumlah wirusaha di Singapura ada sebesar 7,2%, Amerika Serikat 2,14% , Indonesia yang mana jumlah penduduk kurang lebih sebesar 220 juta, jumlah entrepreneurnya sebanyak 400.000 orang (0,18%), yang seharusnya sebesar 4.400.000 orang. Berarti jumlah entrepreneur di Indonesia kekurangan sebesar 4 Juta orang.

Engkoswara (1999), menyatakan bahwa kehidupan manusia Indonesia menjelang tahun 2020 akan semakin membaik dan dinamis. Untuk itu kualitas lulusan dituntut memiliki kemampuan kemandirian yang tangguh agar dapat menghadapi tantangan, ancaman, hambatan yang diakibatkan terjadinya perubahan.

Lebih lanjut dikemukakan bahwa tantangan yang terjadi pada era global adalah semakin rendahnya kualitas kemampuan seseorang atau sekelompok orang pada suatu daerah, atau masyarakat pada suatu negara, bukan di akibatkan oleh stagnannya sistem pemerintahan, sistem pendidikan, tapi masuknya orang, barang, pengetahuan, tekhnologi dari negara tertentu pada negara penerima dengan kondisi yang tidak siap, maka semua aktivitas dilakukan dalam situasi persaingan sesungguhnya.

Krisis yang melanda Indonesia sifatnya multidimensi mengakibatkan budaya bangsa semakin memudar, yaitu terjadinya degradasi moral spiritual, semangat berusaha dan bekerja yang semakin melemah, kreativitas yang semakin mengerdil dan menjurus ke arah yang negatif. Melalui pengembangan individu diharapkan secara keseluruhan masyarakat akan mengalami “self empowering” untuk lebih kreatif dan inovatif. Kecenderungan terjadinya perubahan tidak dapat dihindari semua pihak, baik individu, kelompok masyarakat, bangsa, maupun negara, sehingga dituntut untuk lebih memfokuskan diri pada penyusunan rencana strategik dengan visi yang jauh ke depan agar siap menghadapi setiap perubahan.

Realita yang ada, banyak lulusan pendidikan yang tidak mampu mengisi lowongan pekerjaan karena ketidakcocokan antara kemampuan yang dimiliki dengan kemampuan yang dibutuhkan dunia kerja. Disamping itu, penyerapan tenaga kerja oleh instansi pemerintah maupun swasta yang sangat terbatas, akan memberi dampak jumlah tingkat pengangguran akan meningkat pada setiap tahunnya.

Kesimpulan dari tulisan ini, kewirausahaan adalah suatu nilai yang diwujudkan dalam perilaku yang dijadikan sumber daya, tenaga penggerak, tujuan, siasat, kiat, proses dan hasil bisnis (Ahmad Sanusi, 1994). Kewirausahaan adalah suatu nilai yang dibutuhkan untuk memulai sebuah usaha dan mengembangkan usaha (Soeharto Prawiro, 1997). Kewirausahaan adalah suatu proses dalam mengerjakan sesuatu yang baru (kreatif) dan berbeda (inovatif) yang bermanfaat dalam memberikan nilai lebih. Kewirausahaan adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda (Drucker, 1959) Kewirausahaan adalah suatu proses penerapan kreatifitas dan keinovasian dalam memecahkan persoalan dan menemukan peluang untuk memperbaiki kehidupan usaha (Zimmerer, 1996). Kewirausahaan adalah usaha menciptakan nilai tambah dengan jalan mengombinasikan sumber-sumber melalui cara-cara baru dan berbeda untuk memenangkan persaingan.

Berdasarkan keenam pendapat di atas, intinya adalah nilai-nilai yang membentuk karakter dan perilaku seseorang yang selalu kreatif berdaya, bercipta, berkarya dan bersahaja dan berusaha dalam rangka meningkatkan pendapatan dalam kegiatan usahanya. Meredith dalam Suprojo Pusposutardjo(1999), memberikan ciri-ciri seseorang yang memiliki karakter wirausaha sebagai orang yang (1) percaya diri, (2) berorientasi tugas dan hasil, (3) berani mengambil risiko, (4) berjiwa kepemimpinan, (5) berorientasi ke depan, dan (6) keorisinalan.

Akhirman, S.Sos, MM
Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Maritim Raja Ali Haji (Umrah) Tanjungpinang




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *