Melawan Keserakahan

Batam Centre, BatamEkbiz.Com — Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) memerlukan suatu sistem yang mampu mengontrol individu kader. Melalui proses dan pembinaan perkaderan, karakter positif yang melekat dalam setiap diri kader dapat lebih terjaga. Salah satunya, kejujuran, sebagai karakter yang dibutuhkan untuk dimiliki oleh setiap pemimpin, individu yang dihasilkan dari proses kaderisasi dan organisasi.

Wakil Ketua Komisi XI DPR RI, Harry Azhar Azis mengatakan, carut marut persoalan bangsa, partai politik (parpol) dan organisasi, tidak terlepas dari karakter pemimpinnya. Karakter serakah dan ketidakjujuran seorang individu yang menjadi pemimpin, pejabat dan orang yang memiliki kekuasaan adalah sumber permasalahan.

“Seorang dermawan (pengusaha), bisa tidak jujur. Pejuang yang identik dengan aktivis, juga begitu. Kalau orang jujur, di depan dan belakang tetap jujur. Ini yang diperlukan untuk membangun bangsa,” kata Mantan Ketua Umum PB HMI tersebut dalam orasi ilmiahnya di Pelantikan Pengurus HMI Cabang Batam periode 2012-2013 di Hotel PIH Batam Centre, Minggu (3/2/2013).

Harry menjelaskan, value adden HMI adalah kepemimpinan. Dan inti dari kepemimpinan adalah kriteria pemimpin yang amanah atau jujur dan berkompeten. Orang yang memiliki kompetensi adalah orang yang cerdas, pintar, lihai dan cerdik.

Seorang pemimpin yang jujur namun tidak memiliki kompetensi, maka akan dikendalikan atau dibodohi. Sedangkan pemimpin yang cerdas, pintar namun tidak jujur, dunia akan hancur.

“Penghancuran dunia, menurut saya adalah keserakahan. Keserakahan adalah monopoli, dalam teori ekonomi monopoli haram. Jika pintar dan serakah bersatu memimpin, maka, sudahlah,” katanya.

Menurut Harry, dalam teori ekonomi pun, yang tidak bisa diukur adalah kredibilitas. Dan selama sistem negara tidak bisa mengontrol unsur keserakahan di setiap pengambilan keputusannya, maka pemerintahan tidak akan maksimal.

“Indonesia memerlukan pengendalian itu,” katanya.

Kepada Pengurus HMI Badko dan Cabang saat ini, Harry Azhar Azis menantang untuk merumuskan dan merekomendasikan sistem yang mampu mengontrol keserakahan dalam kongres. Karena organisasi, termasuk HMI, perlu informasi dan transparansi. Jika tidak ada sistem yang mampu mengontrolnya, maka keserakahan akan merajalela.

“Kejujuran itu yang seharusnya diajarkan di HMI, yang selama ini tidak pernah terdeteksi dalam perkaderan HMI. Kejujuran harus terbentuk dan dibentuk, serta harus ada sistem yang menjaga. Tidak sekedar beritikad baik,” jelasnya. (R02)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *