Membangun manusia baru melalui pendidikan berkarakter

Oleh : Cris Topan
Ketua Dewan Pendiri Organisasi Kepemudaan Garuda Muda Indonesia Kepri

Tidak dapat dipungkiri, bahwa pendidikan merupakan pilar utama tegaknya suatu bangsa yang tangguh. Dengan terdidiknya rakyat suatu bangsa dengan baik dan benar, maka diharapkan mereka dapat menjaga kedaulatan bangsanya, dan dapat menjadi teladan hidup bagi manusia lain, yang menjadi rakyat dari bangsa-bangsa lainnya di muka bumi.

Sekitar tahun 90-an, saat itu kita mungkin banyak mendengar kata sanjungan tentang hal-hal baik yang sering ditemukan keberadaannya di bangsa kita (Indonesia). Kita sering disanjung oleh orang asing, katanya “Orang Indonesia itu ramah-ramah, dan kebudayaannya mengagumkan”. Tidak segan-segan mereka datang ke Indonesia untuk mempelajari kebudayaan kita yang beragam. Mereka sangat bangga pandai berbahasa Indonesia, mereka bangga pandai menari tarian tradisional kita, mereka sangat senang memainkan alat musik tradisional kita, dan bangga mampu menguasai jurus-jurus silat tradisional yang merupakan kekayaan budaya bangsa Indonesia. Tidak tanggung-tanggung, mereka bahkan rela hidup sederhana selama bertahun-tahun di negeri kita, untuk mempelajari kebudayaan bangsa kita, Bangsa Indonesia.

Hari ini, dua puluh empat tahun telah berlalu sejak saat-saat indah itu. Banyak hal telah berubah, tidak terasa pergantian siang dan malam berlalu begitu saja. Keadaan kita hari ini bagaikan cawan emas yang penuh dengan madu yang isinya dibalik, ditumpahkan. Madunya tertumpah, berserak mengotori lantai. Sedangkan cawan emas nan indah itu pun dibiarkan tergeletak sekian lama di lantai, kotor berdebu, berlumut.

Madu kekayaan alam, potensi letak geografis Negara kita yang strategis dan manisnya kekayaan budaya bangsa kita yang beragam itu, sejak lama telah dinikmati oleh semut-semut ganas yang berebut menggerogoti. Tidak hanya madu kekayaan bangsa kita yang hampir kandas, bahkan cawan emas yang menjadi tempat madu yang tadinya indah pun sekarang kotor dan tampak menjijikkan, karena tidak lagi diurus. Kondisinya persis dengan keadaan masyarakat kita dengan beragam problematika di lingkungan sosial yang turut merecoki kenyamanan hidup masyarakat kita akhir-akhir ini. Fitnah seakan cemilan pengisi perut yang dapat dikunyah sesuka hati, perilaku buruk seakan hal yang wajar yang harus dimaklumi sedemikian rupa. Sopan santun dan ramah tamah seakan hal ganjil, memalukan dan tidak layak lagi untuk dilakukan. Luar biasa buruknya karakter bangsa kita hari ini.

Kita dibuat lupa, bahwa sebenarnya madu manis dan bergizi yang tertumpah itu adalah milik kita, kita dibuat enggan membasuh, membersihkan cawan emas tempat madu yang telah tertumpah itu, kita ditawarkan gelas pelastik sekali pakai, dengan iming-iming “lebih praktis”. Kita dilatih dan diberi teladan hidup bermalas-malasan, dan budaya baru yang serba instan. Ingin serba cepat, serba mudah, harus bisa, apa-pun caranya. Syahwat kuasa harus dicapai dengan beragam alasan. Pemenuhan keinginan nafsu menjadi hal utama sepertinya, sekarang ini.

Madu asli yang manis bergizi dan menyehatkan dari lebah pekerja keras pun, sekarang ini seakan menjadi mustahil untuk didapatkan. Semua serba ekstrak, bahkan kulit pisang pun sekarang ada ekstraknya. Kisah lebah yang bekerja keras bersama-sama, bergotong royong membangun sarang yang tertata untuk tempat bernaung, hidup menghasilkan dan memberi manfaat lebih, hanya menjadi cerita usang yang teramat sulit untuk dibayangkan.

Akan halnya di kehidupan sosial kita hari ini, cerita perjuangan pendahulu kita yang bekerjasama, bersatu padu melawan penjajahan untuk meraih kemerdekaan dan ketenangan hidup, agar bisa berkarya lebih, seperti yang kita jalani hari ini seakan embun pagi yang menguap bersama naiknya mata hari di atas kepala kita. Semua merasa hebat sendiri, tingginya tingkat pendidikan tidak berbanding lurus dengan pengetahuan dan perubahan sikap, serta perilaku individu yang semestinya. Kaum terdidik seakan memiliki batas sosial dengan kaum miskin yang lemah. Padahal dari catatan sejarah, kita tahu bahwa dahulu di masa perjuangan, kaum terdidik, cendikia terpelajar lah yang berdiri tegak dan bersuara lantang di depan, membela saudara sebangsanya yang tertindas. Lalu kenapa hari ini semua itu seakan terbalik, bahkan jika ada orang terpelajar yang dekat dengan rakyat kecil, miskin dan lemah, dianggap pencitraan, dianggap hal yang tidak wajar. Orang banyak seakan melihat burung yang kawin dengan gajah.

Kembalikan Pendidikan pada Khittah-nya…

Konsep pendidikan kita harus dikembalikan lagi pada khittahnya, bahwa pendidikan itu adalah penyampaian ilmu pengetahuan melalui keteladanan. Tidak seperti yang berlangsung sekarang ini, pendidikan hanya dinilai sebagai huruf dan angka di atas kertas. Buku-buku cetak seakan mewakili guru yang semestinya memberi teladan hidup, mendidik dengan berkata-kata, berbuat dan menuliskan hal-hal baik. Do’a restu orangtua dipaksakan berubah menjadi uang kertas dengan nominal dalam jumlah yang besar. Pendidikan kita hari ini memaksa dan menuntut lebih. Sehingga manusia yang hidup di Negara kita yang merdeka ini seakan menjadi robot pekerja di bidangnya masing-masing, dengan satu tujuan yang sama, yaitu mendapatkan sejumlah uang untuk memenuhi kebutuhan hidup yang semakin meningkat setiap saatnya. Kita telah dijebak di dalam sistem buatan saudara kita sendiri, yang rakus.

Pendidikan bagi generasi baru pengganti kita hari ini, mestinya berorientasi pada ilmu pengetahuan yang sekiranya menjadikan kita manusia yang benar-benar manusia. Pendidikan yang memberikan gambaran kekayaan alam, menjelaskan potensi letak geografis Negara kita yang strategis, dan mengajarkan cara mengelolanya berdasarkan budaya kita yang beragam, serta mengimbanginya dengan kekuatan akhlak mulia yang berlandaskan pada ajaran agama yang kokoh. Agar mereka dapat menciptakan sebuah produk dengan nilai lebih yang dapat dijadikan modal hidup di persaingan global yang keras.

Tentunya pendidikan seperti itu hanya bisa diberikan oleh guru yang berkarakter baik, sehat jasmani dan rohaninya, dan sesuai ilmu pengetahuan dengan gelar akademis yang disandangnya. Guru yang sadar benar, bahwa amanah ilmu pengetahuan yang diembannya tidak layak dijadikan modus bisnis atau menjadi sarana penyalur hasrat kelainan seksual terhadap anak didiknya.
Karena hal itu, hendaknya pihak yang berkaitan dengan proses pendidikan bagi generasi pengganti kita, agar lebih selektif dalam membuat aturan, menerima tenaga pendidik, dan mengawasi proses pendidikan. Terutama di lembaga pendidikan formal. Siapkan saja sanksi tegas yang berat bagi segala bentuk hal negatif terkait proses pendidikan yang dilakukan oleh para pendidik. Sehingga diharapkan, dapat menimbulkan rasa enggan di diri para pendidik itu untuk berbuat hal-hal buruk atau berperilaku negatif, yang dapat merusak proses pembentukan jati diri generasi baru, pengganti kita.

Biaya pendidikan pun jangan sampai dijadikan modus bisnis, atau alasan bagi orangtua dengan ekonomi lemah sehingga tidak dapat menyekolahkan anaknya. Hingga hari ini, masih saja kita temukan, kita dengar dan kita baca di berita-berita surat kabar, hal-hal semisal setoran uang pembangunan sekolah yang beralih rupa menjadi sumbangan komite sekolah. Cukup lah sudah perilaku sungsang yang menyimpang semacam itu.

Pengenalan budaya bagi anak didik pun jangan diartikan secara sempit, budaya kita bukan sekedar memakai pakaian bermotif batik atau baju adat tempatan. Budaya itu sikap, perkataan dan perbuatan yang mengakar, berlandaskan pada sejarah, dan tampak dari perilaku, serta karya nyata di lingkungan sosial kita sehari-hari. Jadi bukan sekedar pakaian, piala atau piagam penghargaan dari perlombaan dengan modal besar.

Urgensi Perubahan Pola Pendidikan…

Berdasarkan pada data kependudukan dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Pemerintah Kota Batam, sampai dengan tanggal 31 Juli 2014, tercatat sekitar enam ratus dua puluh dua ribu delapan ratus tiga puluh tiga (622833) orang penduduk di dua belas (12) Kecamatan, yang tersebar di enam puluh empat (64) Kelurahan se Kota Batam, yang berada di rentang usia kurang dari satu (< 1) tahun, hingga usia dua puluh sembilan (29) tahun. Dari data tersebut, dapat kita simpulkan, bahwa lebih dari setengah jumlah penduduk di Kota Batam, masih ada dalam rentang tumbuh kembang yang potensial.

Pada rentang usia itu, seorang individu ada pada proses tumbuh kembang yang keberadaannya haruslah kita perhatikan dengan baik. Pendidikan formal dan informal merupakan hal penting yang harus diberikan, untuk mengimbangi perkembangan kemampuan seorang individu. Melihat, mendengar dan merasakan hal baru merupakan pembelajaran yang sangat mereka butuhkan. Karenanya sudah menjadi kewajiban kita semua pada posisi masing-masing untuk memberikan keteladanan yang baik, yang positif. Sehingga proses perkembangan enam ratus dua puluh dua ribu delapan ratus tiga puluh tiga orang manusia calon pengganti kita kelak, tidak rusak dan tidak ternodai hal-hal negatif pada proses tumbuh kembangnya. Mereka butuh pendidikan yang berkarakter baik, mereka butuh teladan baik, dari pemimpin, dari guru dan orangtuanya, agar dapat melalui proses tumbuh kembang dengan baik dan mampu menjadi manusia sebenarnya.

Setelah panjang lebar kita membahas problematika pendidikan di lingkungan masyarakat kita hari ini, sejak awal tadi. Tentu akan muncul pertanyaan penting. Siapa yang dapat mewujudkan harapan yang sedemikian besarnya itu? Nah, itu lah yang harus kita jawab bersama-sama. Kita butuh pemimpin yang visioner, yang berani mengorbankan waktu, tenaga dan pemikirannya untuk melayani, bukan minta dilayan. Kita butuh tim kerja pelayan masyarakat yang baik, berkenan melayani kita dengan mengedepankan pertimbangan kemanusiaan, berani mengingatkan pemimpinnya dengan cara yang baik, saat sang pemimpin melakukan kesalahan. Kita butuh tenaga pendidik yang memiliki ilmu pengetahuan baik dan maju, serta pandai menyampaikannya dengan cara yang baik pula bagi anak didiknya. Kita butuh orangtua yang rela mengurangi waktu istirahatnya dari penat bekerja seharian, untuk memperhatikan kebutuhan kasih sayang anaknya di rumah. Dengan demikian, maka harapan besar perubahan baik di kehidupan sosial di lingkungan kita hari ini, akan dapat terwujud dengan cepat dan baik.

Karenanya rakyat harus mendapatkan jaminan pendidikan yang pasti, jangan sampai ada lagi berita orang tua yang mendatangi Wali Kota atau Wakil Wali Kota, hanya untuk dapat memasukkan anaknya ke lembaga pendidikan formal di negeri ini, mengadu karena anaknya tidak diterima masuk sekolah. Cukup lah sudah cerita birokrasi yang menyusahkan, tertutup dan berbelit-belit. Bukankah semestinya layanan yang diberikan oleh pemerintah kepada rakyatnya justru memudahkan? Lalu kenapa harus dipertahankan hal-hal yang menyulitkan seperti itu?!

Harus ada perubahan yang cepat, revolusi di bidang pendidikan. Mulai dari dasar pemahaman (konsep) pendidikan yang diberikan, tujuan pendidikan, kualitas orang yang memberikan pendidikan (guru) hendaknya tidak sekedar diukur dari selembar kertas berupa sertifikat yang diperoleh dari sistem sertifikasi guru yang bermasalah, sistem birokrasi dan regulasi yang dipakai di lembaga terkait yang mengelola pendidikan (Kementerian/Dinas Pendidikan) haruslah mempertimbangkan nilai-nilai kemanusiaan, dibutuhkan ketegasan dalam mengelola dan mengawasi jalannya proses pendidikan yang diberikan pemerintah kepada rakyatnya. Nilai di atas kertas yang diperoleh oleh peserta didik pada akhir masa pendidikannya janganlah dijadikan tolak ukur berhasilnya proses pendidikan, sebab yang demikian itu hanya akan membuat pemikiran sungsang yang salah, alangkah rendahnya manusia jika kualitasnya dibandingkan dengan perolehan angka di atas kertas. Mestinya jika pendidikan kita berorientasi pada hasil, maka yang harus dijadikan tolak ukur keberhasilan seorang peserta didik dalam menjalani proses pendidikannya adalah bentuk nyata dari pendidikan yang ditempuhnya selama ini. Bisa dengan berhasil membuat lukisan yang bagus, toh tidak sedikit manusia yang bisa hidup layak dengan membuat dan menjual lukisan. Bisa dengan membuat robot dengan sistem dan kemampuan sederhana, bukankah sudah banyak yang kaya raya dari hasil usaha membuat robot? Bisa dengan menuliskan puisi yang menggugah hati, bukankah banyak pula seniman handal yang hidup dengan mengandalkan karya sastra yang terlahir dari tulisan-tulisan puitisnya? Bahkan mungkin hingga membuat jurnal dan penelitian ilmiah. Tentu saja sesuai dengan tingkatan pendidikan yang ditempuhnya.

Pendidikan kita pun mestinya lebih menekankan pada kultur budaya tempatan dan menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat serta potensi lokal yang ada. Misalkan Kota Batam yang berbatasan langsung dengan Negara tetangga (Singapura dan Malaysia), alangkah lebih elok jika pendidikan yang dikembangkan di Batam lebih menekankan pada kemampuan berkomunikasi dengan bahasa asing, semisal bahasa mandarin, dan bahasa inggris. Kemudian karena kondisi geografis kita lebih banyak wilayah laut dari pada daratannya, alangkah lebih menguntungkan jika ilmu pengetahuan terkait kelautan dan pengelolaan ekonomi dibidang kelautan lebih dikedepankan dari pada bidang-bidang lainnya, sehingga manusia-manusia yang dididik di Batam lebih menguasai dan memahami dengan baik bagai mana semestinya hidup di negeri ini, agar mampu bersaing dengan orang lain dengan baik dan bermartabat.

Dengan demikian, mimpi besar kita untuk mengelola kekayaan alam kita sendiri, memanfaatkan kelebihan letak geografis Negara kita yang strategis dan mendapatkan nilai lebih dari kekayaan budaya bangsa kita yang beragam, dan agar dapat menjadi teladan dan poros perhatian internasional, akan tercapai lebih cepat ditangan manusia-manusia baru yang terdidik dengan baik. Sehingga tujuan kemerdekaan kita yang diperjuangkan oleh para pendahulu di masa perjuangan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dahulu, dapat kita wujudkan dengan baik. Agar kita semua sehat, sejahtera dan makmur. Melalui pendidikan berkarakter, dan terdidiknya Rakyat Bangsa Indonesia. Mari kita mulai dari sini, dari negeri tempat kita berpijak sekarang ini. Kita juga bisa!!




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *