Menanti wisata syariah Batam yang ramah

Batam Centre, BatamEkbiz.Com — Pelaku agen perjalanan negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia mengaku sering kesulitan untuk mencari wisata sesuai syariah sebagai referensi perjalanan wisata bagi konsumennya ke Batam. Untuk menyiasatinya, terkadang mereka terpaksa mengalihkan ke lokasi obyek tertentu yang identik dengan kebudayaan Islam, seperti Sumatera Barat.

“Dinas Pariwisata seperti di Provinsi Kepri dan Kota Batam, seharusnya aktif untuk mencari terobosan dan memberikan pangsa pasar baru bagi wisatawan muslim mancanegara,” ungkap seorang agen perjalanan Malaysia, Said di Batam Centre, kemarin.

Selama ini, kata Said, meski sejumlah obyek wisata menawarkan produk syariah atas fasilitas yang dimiliki, namun belum memberikan kepercayaan yang kuat bagi turis muslim dari Malaysia. Karena fasilitas tersebut masih bercampur dengan fasilitas lain yang nilai syariahnya masih diragukan. Karena produk wisata syariah tidak sekadar logo halal yang ada di restoran, namun juga meliputi kamar, suasana, dan fasilitas lainnya.

Belasan tahun bergelut di bidang agen perjalanan wisata, Said semakin merasakan tingginya kebutuhan turis muslim terhadap obyek wisata syariah. Mengingat semakin besarnya minat turis muslim mancanegara, terutama dari negara-negara Timur Tengah untuk saling berkunjung ke negara muslim lainnya.

Malaysia sendiri sudah meluncurkan wisata syariah sebagai destinasi wisata bagi turis muslim sejak 2006 lalu. Selain Malaysia, destinasi berkonsep wisata syariah di dunia juga diterapkan Mesir, Uni Emirat Arab, dan Turki.

“Dengan adanya destinasi wisata syariah di negara-negara muslim lainnya, ini akan menjadi pasar muslim terbesar di dunia. Karena antar pelaku industri wisata syariah antar negara akan saling terhubung yang akan memicu peningkatan ekonomi serta kemajuan sesama muslim,” jelas Said.

Apa yang dirasakan Said, mungkin juga dirasakan turis muslim mancanegara lainnya. Sebagai negara berpenduduk mayoritas muslim terbesar di dunia, wisata syariah ternyata belum menjadi destinasi wisata yang ramah bagi turis muslim. Begitupun di Provinsi Kepri yang identik dengan Melayu, semestinya wisata syariah bisa menjadi produk andalan dalam meningkatkan angka kunjungan wisatawan mancanegara. Caranya dengan mengembangkan fasilitas dan infrastruktur pariwisata yang ramah bagi turis muslim.

Kenyataannya, tidak banyak pelaku pariwisata yang berani menawarkan wisata syariah sebagai produk. Kalaupun ada, terkesan hanya ditawarkan kepada turis tertentu dan terbatas.

Padahal potensi turis muslim untuk mengunjungi obyek-obyek wisata syariah sangat terbuka lebar. Terutama turis dari negara Timur Tengah maupun negara berpenduduk mayoritas muslim dunia lainnya yang jumlahnya terus mengalami pertumbuhan.

Berdasarkan data capaian wisatawan mancanegara 2010, dari total 7 juta wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Indonesia, sekitar 1,2 juta wisatawan atau sekitar 18 persen merupakan wisatawan muslim, yang berpotensi ikut mengembangkan wisata syariah. Saat ini, baru terdapat 9 destinasi wisata syariah di Indonesia yang dianggap telah memiliki suasana dan fasilitas konsudif, antara lain Sumatera Barat, Riau, Lampung, Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Timur, NTB, dan Sulawesi Selatan. Di samping itu terdapat pula beberapa daerah lain yang disiapkan sebagai destinasi wisata syariah selanjutnya, yaitu Aceh, Yogyakarta, dan Jawa Tengah.

Di Provinsi Kepri, jumlah kunjungan wisatawan muslim mancanegara juga mengalami kecenderungan yang meningkat. Baik wisatawan muslim dari negara Timur Tengah ataupun Malaysia, sebagai negara berpenduduk mayoritas muslim.

Jumlah wisatawan berkebangsaan Malaysia merupakan terbesar kedua setelah Singapura yang berkunjung ke Kepri. Seperti tercatat pada Januari 2017, wisman yang berkunjung ke Provinsi Kepri mencapai 172.698 kunjungan. Jika dibandingkan dengan Januari 2016, kunjungan wisman pada Januari 2017 mengalami kenaikan sebesar 20,70 persen.

Wisman yang berkunjung ke Provinsi Kepri pada Januari 2017 didominiasi oleh wisman berkebangsaan Singapura dengan persentase 48,52 persen atau 83.793 kunjungan. Kemudian Malaysia dengan 20.078 kunjungan atau 11,63 persen.

Pada 2016, tingkat kunjungan wisman ke Provinsi Kepri mencapai 1,9 juta kunjungan dari target 2,1 juta kunjungan. Sedangkan pada 2017, Kepri menargetkan 2,6 juta kunjungan wisman.

Untuk lebih meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan muslim mancanegara ke Batam dan Kepri, pemerintah daerah harus mampu mendorong pelaku industri pariwisata seperti hotel, restoran, biro perjalanan, dan spa untuk berani mengembangkan produk wisata syariah. Yakni dengan tidak hanya mengembangkan destinasi wisata, namun fasilitas yang menunjang juga harus sesuai dengan standar Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan sesuai syariah agama.

Sehingga wisata syariah yang dikembangkan nantinya, tidak hanya terfokus pada wisata religi tapi juga menyinggung infastruktur dan fasilitas yang ada serta kesiapan agen perjalanan dalam mengemas perjalanan. Peran para pelaku pariwisata ini sangat penting dalam mengembangkan wisata syariah. (R02)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *