Menelaah 68 tahun perjuangan HMI

Angka 68 tahun jika dinotasi usia manusia tentunya bukan lagi usia anak bawang dalam mengenali polemik dinamika di negeri ini, berjarak hanya 2 tahun dengan umur NKRI, dapat dikatakan sudah merasakan pahit geturnya negeri ini. Eksistensi HMI selama memperjuangkan, menjaga, dan juga mengkeritisi pemerintahan dari semeua priode pemerintahan sangatlah terlihat jelas pengaruhnya dalam mewarnai Negeri ini.

Berlandaskan dari tujuan dibentuknya HMI saja sudah jelas bertujuan kesejahteraan Rakyat, Ayahanda Lafran Pane 68 tahun yang silam Memproklamirkan Himpunan Ini dikampus STI Yogyakarta, 5 Februari 1947 memaparkan dengan lantang tujuan HMI itu sendiri ialah, Pertama Mempertahankan Negara RI dan meninggikan Derajat Rakyat Indonesia, Yang Kedua Menegakkan dan Mengembangkan ajaran Agama Islam.

Seiring Berjalnnya Waktu, Tujuan HMI disempurnakan lagi menjadi “Terbinanya Insan Akademis, Pencipta, Pengabdi yang bernafaskan Islam dan Bertanggung Jawab Atas terwujudnya Masyarakan adil Makmur yang diridhoi Allah SWT” Yang tertuan didalam Pasal 4 Anggaran Dasan HMI. Sampai Kongres ke 28 di Jakarta Masih menjadi tujuan HMI, Menelaah Kembali Tujuan HMI tersebut sudah dijelaskan secara gamblam di dalam Kaidah Insan Cita, sangat jelas dikatakan bahwasanya kader HMI tersebut yang utamanya ialah Akademis, Selanjutnya menciptakan gagasan yang inivatif dan selanjutnya.

68 tahun HMI berdiri sebenarnya masih melekat dua Citra Ganda HMI yang Dipaparkan Oleh Ayahanda prof. Agus Salim Sitompul Dalam Milad HMI yang ke 36 di Sekretariat Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Semarang, Jalan Imam Bonjol NO 187 B, Semarang. Citra yang petama adalah citra positif, Cerah dan Menyegarkan. Citra ini memeng terbukti dengan meriahnya Hari Raya Idul Fitri, Hari Raya Idul Adha, dan sebagainya, dan citra yang kedua ialah Citra Negatif, Suram, Mengherankan, dan Menekutkan. Pandangan Seperti ini terlihat jelas di kalangan Penguasa dan pemerintahan. Yang ditinjau dari berbagai Aspek kehidupan, sepertihanya Carut marutnya  DPR-RI dalam Membuat Aturan Negera, Naiknya Harga BBM secara Sepihak oleh Presiden, Tidak tegasnya Presiden Joko Widodo dalam menanggapi masalah penegak Hukum Polri vs KPK. Pandangan seperti itu membuat sagolongan masyarakan resah akan situasi tersebut, dimana Perah HMI?

Peran HMI yang selalu kritis dalam menyikapi kebijakan publik banyak dianggap Negatif oleh Rakyat, Seperti Halnya Demo Penolakan Penaikan BBM oleh HMI se Nusantara. Dalam Satu bulan Akhir tahun 2014 kemaren HMI secara Meraton melakukn Aksi Penolakan Penaikan Harga BBM. Tidak sedikit masyarakan yang mengaggap bahwa aksi HMI tersebut sebagai Hal yang negatif, dalam pandangan masyarakan Demo itu sudah di tafsirkan Sebagai Anarki. Dampak dari Aksi HMI tersebut memang tidak terlihat secara langsung oleh masyarakat, Namun turunya Harga BBM jelas Bukan Usaha HMI yang Terlihat.

Citra Negatif tersebutlah yang dilihat masyarakat sekarang terhadap HMI, Padalah dalam Dies Natalis HMI yang Pertama, Jendral Soedirman Mengatakan Bahwasanya HMI itu ialah “Harapan Masyarakat Indonesia”. Mengkaji kembali apa yang membuat HMI berpindah pandangan dari positif ke negatif Ialah pola pikir Kadernya sendiri, Bukan HMI nya, HMI sudah sangat jelas mempunyai sistem yang sudah dibilang lengkap. Nilai Dasar perjuangan (NDP) yang di yakini Kader HMI sebagai Pedoman Utama HMI saja banyak yang tidak memahaminya, Mayoritas Kader HMI membaca NDP ketika ingin melanjutkan jenjang Trainingnya di HMI. Setelah selesai training Lupa lagi, Bahkan Banyak yang sudah Intermedit Training (LK2) juga sama pemikirannya dengan keder yang masih Basic Training (LK1).

Tingkat intelektual kader HMI saad ini banyak dipertanyakan, Banyaknya kader HMI yang terlalu sibuk dengan kegiatannya dengan mengorbankan aktifitas kampusnya, dengan lentangnya mengatakan bahwa dia seorang Aktivis. kejadian seperti itu biasanya berujung kepada telatnya Wisuda, tidak selesainya kuliah dan sebagainya. Telatnya wisuda sebenarnya bukanlah menjadi hal yang perlu dipermasalahkan, karena menggali ilmu tersebut memang memgorbantak waktu, tenaga dan cinta. Namun masalah kedua yang tidak selesainya kuliah tentu menjadi pertanyyaan besar tentang Ke-HMI-an nya. Mengingat sedah sangat jelas tujuan utama HMI itu ialah Insan Akademis. Hal ini bukanya selaras dengan ucapan Jendral Soedirman, namun bertolak belakan menjadi “Hambatan Masyarakat Indonesia”. Karena HMI menjadi aktor penting dalam hal itu, seperti halnya terlalu sibuk mengurus organisasi terbengkslsin kuliah, karena ingin menjadi Ketua Umum HMI, diperlama kuliah supaya masa aktif Ber-HMInya makin panjang, hal ini menjadikan HMI sebagai masalah Mahasiswa bukannya penunjang ilmu mahasiswa.

Barlanjut dari hal tersebut HMI sekarang sudah tidak dikenali oleh masyarakat, bahkan dalam era tanpa batas sekarang ini banyak masyarakat tidak mengenali HMI. Padalah media sosial sudah sangat menguasai sistem peradaban sekarang ini, hal apa yang membuat HMI tidak dikenali masyarakat?

Yang paling mendasar ialah sikap kader HMI itu sendiri yang tidak pernah lagi terjun langsung kepada masyarakat. Padahan slogan PB HMI yang di pimpin Saudara Muh. Arief Rosyid Hasan saad ini ialah “HMI Back to Siciaty”.

HMI tidak perlu mengenalkan diri kepada penguasa, tetapi HMI sangat perlu mengenalkan diri kepada Masyarakat, tujuan HMI sudah jelas Terwujudnya masyarakat adil makmur. Adil daam kemakmuran, Makmur dalam keadilan. Kader HMI saad ini bangga dengan jabatanya dikampus, sampai lupa diri akan tujuannya, merasa Hebat menjadi pengurus Cabang, yang tiap sebentar berjumpa dengan penguasa pemerintahan, Gubernur, Wali kota. DPR dan sebagainya. Kader HMI sekarang ini perlu mengkaji kembali Tafsir Tujuan tersebut, supaya masyarakat bisa merasakan perubahan besar yang diperjuangkan HMI.

HMI sebenarnya hadir sebagai jawaban dari suatu suasana kebangsaan, kemahasiswaan, dan terutama keislaman yang memprihatinkan. Kiprah HMI dalam sejarah bangsa cukup penting untuk dipahami, tidak saja karena peran aktifnya dalam pergulatan masalah sosial politik sebagai suatu institusi kemahasiswaan, tetapi juga tampil kader-kader HMI dalam mewarnai perjalanan Bangsa. Azaz tujuan dan Independensi inilah yang sangat penting dipahami kader demi menjelaskan idialisme kader HMI. Tafsir azaz HMI tersebut sudah disepakati untuk menjadi Azaz HMI berupa NDP yang digagas oleh Ayahanda Nurcholis Madjid, Endang Saifullah Anshari dan Syakib Mahmud pada tahun 1969. NDP dengan delepan Babnya Sudah bisa dibilang sempurna sebagai pedoma perjuangan kader HMI. Hanya saja sikap pesimis sekarang sudah terlihat bahwasanya banyak kader HMI yang tidak memahami apa itu NDP sendiri.

Selain tafsir azas berupa NDP tersebut, HMI juga mempunyai tafsir tujuan yang harus diprjuangkan kader HMI dan juga Alumni HMI. Dalam uraian sebelumnya bahwasanya tujuan HMI tersebut tertuang didalam pasal 4 Anggran Dasar HMI yang harus dan semestinya diperjuangkan dan dipegang teguh oleh kader HMI dan Alumni HMI.dewasa ini banyak alumni HMI tidak lagi segarang dulu ketika beliau menjadi mahasiswa yang selalu aktif dalam melontarkan kritikan terhadap para penguasa. Tidak sedikit juga alumni HMI menyembunyikan identitas diri dia bahwasanya dia HMI, dengan berbagi alasan. Bahkan yang menjadi perusak kader HMI itu sendiri banyaknya orang yang mengaku-ngaku sebagai alumni HMI ketika ajang Pemilu, Pemilikada dan sebagainya. Hal tersebut banyak menyeret kader HMI ke kancah politik yang bukan ranahnya. Sehingga terjadi perpecahan antara sesama kader.

Perpecahan tersebut sejatinya tidak perlu terjadi, cukuplah Kongres di Padang saja yang menjdai satu-satunya perpecahan di HMI. Sehingga penyaman persepsi, penyatuan pemikiran bisa membawa gagasan yang menggetarkan telinga penguasa. Angan-angan untuk menyatukan DIPO dan MPO sebenarnya sudah dilakukan sejak jauh hari, semua hal tersebut tidak terlaksana karena interpensi penguasa. Tentunya penguasa takut akan bersatunya kembali DIPO dan MPO. Kader HMI sekarang bukan sibuk untuk menyatukan itu, melaikan terlalu menyibukkan diri untuk menyaksikan “Alumni vs Alumni”. Pemandangan ini sepertinya sudah mewabah di seluruh penjuru negeri. Dari PB sampai Komisariat terlalu sibuk dengan Alumni. Kalau ditanya Pasti ada saja Apologinya, Karena sekarang ini bukan kader HMI rasanya kalau tidak Berapologi.

Solusi masalah saad ini tentunya kembali lagi kepada tafsir Azaz dan Tafsir Tujuan HMI, karena HMI sudah mempunyai sosuli yang sangat kongkrit dalam menghadapi berbagai masalah. Rasanya HMI tidak perlu lagi memikirkan gagasan baru, NPD tidak akan lekang oleh Zaman. Harapan menjadi tuan di Negeri sendiri rasanya bisa terwujud. Sumbangsih HMI senantiasa ditunggu dan diharapkan masyarakat, Semoga peringatan Dies Natalis HMI ke 68 ini dapat mengugah kita semua akan status, fungsi, dan peran HMI ditengah tengah kehidupan berbangsa dan bernegara yang pluralis.

Yakin Usaha Sampai, Dirgahayu Himpunan Mahasiswa Islam. Semoga Allah SWT meridhoi perjuangan kita semua. Amien.

Vidiel Tania Pratama

Kabid PAO HMI Cabang Batam




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *