Menyempurnakan Islam

Batam Centre, BatamEKbiz.Com — Walikota Batam melepas 284 Jamaah Calon Haji (JCH) Kota Batam yang akan berangkat ke tanah suci mulai Selasa (10/9/2013) mendatang. Pelepasan dilakukan di Asrama Haji Batam Centre, Kamis (5/9/2013).

Dari 284 JCH, 259 orang diantaranya akan diberangkatkan melalui kelompok terbang (kloter) pertama. Sementara itu, masih terdapat 52 Calon Jamaah Haji lagi asal Batam yang tertunda berangkat pada musim haji tahun ini, akibat kebijakan pemerintah berupa pengurangan kuota 20 persen. Dalam pelepasan tersebut, Pemko Batam memberikan uang saku Rp500 ribu kepada masing-masing JCH.

Ibadah haji, merupakan salah satu sarana bagi seorang muslim dalam menyempurnakan Islam. Sebagaimana Firman Allah SWT, dalam Al Qur’an Surat Ali Imron : 97.

“Dan Allah mewajibkan manusia mengerjakan ibadah haji dengan mengunjungi baitullah yaitu bagi mereka yang mampu. Siapa yang ingkar (terhadap kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Mahakaya dan tidak membutuhkan sesuatu pun dari sekalian makhluk”. (QS. Ali Imran : 97).

Turunnya ayat 97 QS Ali Imran, bertepatan dengan diwajibkannya umat Muhammad untuk beribadah haji pertama kali pada tahun 6 Hijriyah. Rasulullah bersama sekitar 1.500 sahabatnya, berangkat dari Madinah ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Namun rombongan Rasulullah gagal melaksanakan ibadah haji karena dihadang kaum Quraisy, dan kembali lagi ke Madinah.

Pada bulan haji tahun 9 Hijriyah tiba, Rasulullah mengangkat Abu Bakar Shiddiq sebagai amirul hajj untuk memimpin 300 umat Islam menunaikan ibadah haji. Pada tahun yang sama, Rasulullah dapat mengerjakan umrah bersama sekitar 2.000 umat Islam.

Kemudian pada tahun 10 Hijriyah, barulah Rasulullah menunaikan ibadah haji bersama istri dan ssahabatnya, dengan jumlah jamaah sekitar 100.000 orang. Rasulullah berangkat dari Madinah pada 25 Dzulqaidah dan sampai di Makkah pada 4 Dzulhijjah.

Nabi mengambil miqat di Dzulhulaifah, sekarang dikenal dengan nama Bir Ali, berjarak sekitar 10 kilometer dari Madinah. Di Bir Ali, Rasulullah berniat ihram, memakai pakaian ihram, dan menyempurnakan amalan-amalan sunah ihram.

Rasulullah berangkat ke Mina pada 8 Dzulhijjah dan bermalam disitu. Kemudian berangkat menuju Arafah untuk wukuf pada 9 Dzulhijjah, dan menyempurnakan ibadah haji dengan lempar jumrah, thawaf dan sa’i hingga 13 Dzulhijjah. Pada 10 Dzulhijjah, Rasulullah menyembelih hewan kurban dan sekaligus merayakan Hari Raya Idul Adha.

Rasulullah meninggalkan Makkah Al Mukarramah pada 14 Dzulhijjah, untuk kembali ke Madinah Al Munawarrah. Peristiwa ibadah haji Rasulullah ini, disebut hajji wada atau haji perpisahan, karena tidak lama kemudian, beliau wafat.

Ibadah haji merupakan syariat yang diwahyukan Allah kepada Nabi Ibrahim, yang dilanjutkan secara turun temurun kepada para nabi penerusnya. Mulai dari Nabi Ismail, hingga Nabi Muhammad sebagai wujud perjalanan mengubah diri menuju kepada Allah.

Keislaman seseorang baru bisa dikatakan sempurna bila telah melaksanakan ke-lima rukun Islam. Yakni menyatakan dua kalimat syahadat, mendirikan shalat, berpuasa ramadhan, membayar zakat dan menunaikan ibadah haji.

Untuk menunaikan ibadah haji, ada sejumlah syarat yang harus dipenuhi, dan yang paling mendasar adalah mampu. Calon haji juga harus berbadan sehat, memiliki perbekalan cukup, termasuk bagi keluarga yang ditinggalkan, serta memiliki bekal pengetahuan yang memadai, khususnya tentang manasik haji. Mengingat ibadah haji dilaksanakan di ruang terbuka, di bawah cuaca yang panas dan dingin, jauh dari tempat tinggal dan dilakukan dalam waktu yang tidak singkat.

Melalui ibadah haji, setiap muslim memerhatikan kejatuhan Adam dari surga, menyatakan pertobatan untuk kembali memelihara pengabdian dan ketaatan dalam menjalankan perintah Allah melalui wukuf di Arafah. Serta memerhatikan filsafat penciptaan manusia dengan meninggalkan Arafah, singgah di Masy’ar, perang terhadap tiga setan dan tritunggal yang terus mengganggu dan menjerumuskan, memerhatikan perintah jihad dengan melakukan tindakan nyata melontar jumrah di Mina, menghayati pentingnya pengorbanan sebagai ujian untuk meningkatkan keimanan, dengan melakukan kurban di Mina, menjaga kesucian tauhid dengan melakukan thawaf, dan meneruskan perjuangan Hajar yang pantang menyerah dalam memegang amanah dan menegakkan keimanan dengan melakukan sa’i.

Dipandang dari sisi sejarahnya, haji merupakan ibadah yang berdimensi kemanusiaan, untuk memperingati kesabaran dan ketaatan Siti Hajar dalam menerima perintah Allah. Kesabaran Siti Hajar memang luar biasa, hingga bersedia hidup di daerah tandus dan tak berpenghuni dalam keadaan kekurangan perbekalan. Untuk menghidupi dirinya, ia bersusah payah berlari-lari dari Shafa ke Marwah untuk mencari air, sumber kehidupan, sampai ia melahirkan anaknya, Ismail.

Setelah bertahan sekian lama, dengan upaya tanpa mengenal lelah itu, kemudian Allah mewahyukan kepada Ismail untuk menjejakkan kakinya ke atas tanah di dekat Ka’bah. Seketika itu, air menyembur tak henti-hentinya, dari sebuah sumber yang sangat besar yang dikenal dengan air zam-zam. (R02)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *