Nagoya Investor Terbesar dari Jepang di Indonesia

Jepang, BatamEkbiz.Com — Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menilai perlunya dirayakan kerja sama ekonomi yang positif, terutama di sektor industri memasuki 60 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Jepang. Demikian disampaikan pada Indonesia Investment & Business Forum (IIBF) di Nagoya, Jepang.

“Nagoya merupakan investor terbesar dari Jepang di Indonesia, kira-kira sudah ada 100 perusahaan di dalam negeri. Apalagi kota ini adalah pusat manufaktur di Jepang. Untuk itu, kami ingin menjalin kerja sama investasi yang panjang dengan para investor Nagoya,” tutur Menperin, beberapa hari lalu.

Menurutnya, Jepang selama ini menjadi mitra strategis bagi Indonesia. Transaksi Jepang-Indonesia pada triwulan II-2017 mencapai USD14,8 miliar atau meningkat lima persen dibanding periode yang sama tahun 2016. Sedangkan, di tahun ini, total investasi Jepang di Indonesia mencapai USD17 miliar dengan sektor utamanya adalah industri otomotif, elektronika, serta makanan dan minuman.

Di hadapan ratusan pengusaha Jepang, Menperin menyatakan, Indonesia sebagai salah satu negara G20 yang perekonomiannya mampu tumbuh lima persen dalam empat tahun terakhir, dan diperkirakan meroket di atas lima persen dalam kurun dua sampai tiga tahun ke depan. “Indonesua juga merupakan negara yang mendapatkan akreditasi investment grade dari berbagai lembaga internasiona,” ungkapnya.

Selanjutnya, kekuatan Indonesia lainnya adalah sebagai pasar terbesar di Asia Tenggara atau menguasai hingga 50 persen dari total negara-negara ASEAN dengan nilai mencapai USD1 triliun dan jumlah penduduk sebanyak 240 juta jiwa. Potensi yang baik ini, menurut Airlangga, sangat bagus untuk dilakukan kerja sama bisnis.

“Nagoya merupakan klaster industri manufaktur besar di Jepang, utamanya untuk sektor otomotif dan komponen. Kami melihat perusahaan besar seperti Toyota dan Mitsubishi telah berkomitmen untuk berkontribusi investasi di Indonesia dalam berbagai industri dan terkait juga kerja sama pembangunan pusat inovasi,” paparnya.

Menperin menegaskan, industri manufaktur bukan hal yang baru di Indonesia, karena merupakan salah satu negara yang kontribusi industrinya terhadap PDB lebih dari 20 persen. Berdasarkan data kontribusi terhadap PDB, Indonesia menduduki peringkat keempat setelah Korea Selatan (29%), Tiongkok (27%), Jerman (23%). Oleh karena itu, Indonesia ditetapkan menjadi Top 15 manufaktur dunia.

“Kalau mengacu data UNIDO, Indonesia masuk peringkat ke-9. Capaian ini juga menunjukkan bahwa Indonesia sudah masuk dalam jajaran negara-negara yang mampu mengembangkan inovasi. Tinggal bagaimana memperdalam dan memperkuat struktur industri yang ada, dan bekerja sama dengan fokus pada unsur teknologi dan masa depan dari dua negara,” jelas Airlangga. (inn)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *