Paradoks Dunia Politik Kita

Oleh : Hamjah Diha

(Ketua Dewan Pembina Hamjah Diha Foundation dan Sekeretaris Pemuda Muhammadiyah Kota Mataram)

 

NTB, BatamEkbiz.Com – Tinggal hitungan bulan, pesta demokrasi di Nusa Tenggara Barat (NTB) dilaksanakan. Semua tokoh potensial mulai menampakkan diri. Beragam media digunakan sebagai alat untuk menyukseskan tujuan tersebut. Baliho dan spanduk dihadirkan di berbagai sudut guna menampilkan tokoh-tokoh potensial tersebut. Stiker dan kelender dipajang di setiap dinding rumah, di tembok, dan bahkan di lorong-lorong dengan membawa satu visi besar, yakni kemajuan daerah.

Media-media tersebut tentunya membawa satu pesan yang indah, sehingga publik pun terkesima dengan penampilan sang tokoh. Media sosial dan media masa pun ambil bagian dalam mempromosikan tokoh idolanya. Ketika media masa  simpati dengan salah satu tokoh, maka media masa menanyangkan berita sesuai dengan pesan aktor politik yang ada di belakangnya. Sebaliknya, jika tidak simpati, maka akan dijadikan objek penderitaan.

Tak terkecuali, media sosial pun ikut merekonstruksi realita seolah nyata, namun sejatinya penuh rekayasa. Tampilan indah terpesona yang ditampilkan oleh beragam media sosial, seolah nyata, namun syarat dengan rekayasa.

Di sini, terjadilah berita hoax atau preudo informasi. Preudo informasi adalah informasi yang direkayasa demi kepentingan tertentu. Hoax dapat digunakan untuk berbagai kepentingan, mulai dari kepentingan ekonomi, politik, hingga kepentingan agama pun terjadi.

Akhir-akhir ini banyak kalangan yang memanfaatkan agama untuk memecah belah ummat yang sudah lama di bangun dengan bingkai kebhinekaan. Namun dalam kesempatan ini, penulis tidak ingin mambahas secara detail tentang agama.

Tidak hanya media, pengamat dan akademisi pun ikut andil memberikan komentar. Memberikan komentar yang tendensius serta memojokkan salah satu lawan politik. Komentarnya seolah-olah ilmiah, objektif, dan tampaknya benar, tetapi kebenaran dan objektivitasnya direkonstruksi sesuai selera atau pesanan aktor yang ada di belakangnya. Semua kesuksesan dan keberhasilannya diuraikan secara detail dan ilmiah tanpa melihat realita sesungguhnya.

Berbagai metodologi digunakan untuk mendukung komentarnya, sehingga tampaknya ilmiah dan objektif, namun sesungguhnya syarat dengan khayalan. Fenomena ini oleh Baudrillard menyebutnya dengan “dunia simulasi”. Dalam pandangan Baudrillard bahwa dunia simulasi, sengaja diciptakan dalam upaya menekan realitas dominan lain yang seolah-olah itu adalah satu-satunya yang benar-benar nyata. Artinya bahwa realita yang ditampilkan di hadapan publik bukanlah realita yang sesungguhnya, melainkan itu adalah realita yang sudah dibumbui dengan nilai-nilai. Tugas pembacalah menafsirkan nilai-nilai yang dihadirkan oleh media tersebut.

Salah satu kritikus media asal Amerika, Whittemore pernah mengkritik salah satu media Amerika New Republic tentang drama yang dimainkan oleh media. Whittemore mengatakan bahwa banyak jurnalis kini merubah diri menjadi tokoh drama atau novelis. Mereka sengaja menyampaikan apa yang ingin, bukan seharusnya, didengar khayalak. Pernyataan ini tentunya tidak semua jurnalis mengubah dirinya menjadi tokoh drama politik yang kemudian berita-beritanya tergantung pesanan dari tokoh politik yang mereka sokong.

Dunia simulasi diciptakan sebagai upaya (oleh media dan model) untuk menciptakan kembali realita sesuai kode-kode yang dihasilkan model dan media itu sendiri (Franqois Debrix : 2013).  Lebih lanjut Farnqois mengatakan bahwa dunia simulasi dapat dijadikan strategi (sebagai teknik yang berusaha menegaskan kembali realitas tertentu), maka itu akan berakhir dengan hilangnya kenyataan. Itu artinya bahwa simulasi diciptakan untuk mengambil-alih the social oleh sign value, sehingga publik sulit membedakan mana yang palsu dan mana yang nyata, mana yang salah dan mana yang benar. Dengan demikian, kita dipaksa untuk berada dalam realita yang direkonstruksi sedemikian rupa.

Itulah dunia politik kita di zaman digital sekarang. Semua yang tidak mungkin menjadi mungkin. Dan semuanya bisa dijadikan alat untuk menaikkan popularitas publik figure yang ingin tampil dalam pilkada. Semua alat (media massa, media sosial, pengamat, dan akademisi) dikerahkan untuk memanipulasi atau mereproduksi realita sehingga publik terkesima dengan realita yang diciptakan demi kepentingan politik tersebut.

Politik Pencitraan

Sebentar lagi, NTB memasuki tahun politik. Pendiskusian pun semakin memanas. Mulai dari warung kopi hingga ruang ber-AC. Tema diskusi cukup beragam, namun substansinya sama, yakni mendiskusikan siapa yang pantas memimpin NTB ini lima tahun ke depan. Sementara figur–figur calon pemimpin NTB ke depan sibuk mencitrakan dirinya. Berbagai program diturunkan guna mencari simpati masyarakat. Tak tanggung–tanggung, figur-figur calon pemimpin mengeluarkan uang miliaran rupiah untuk mengubah penampilan, baik penampilan yang dipasang di baliho, spanduk, maupun di media massa dan media sosial.




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *