Pelabuhan tikus rawan masuk daging impor ilegal

Batamkota, BatamEkbiz.Com – Pelabuhan tikus menjadi kendala bagi pengawasan masuknya daging-daging impor ke Batam. Dikhawatirkan, daging yang masuk ke Batam berasal dari negara yang belum ada izin dan kerjasama.

 

Kepala Seksi Pengawasan dan Penindakan Balai Karantina Pertanian Batam, Ibrahim mengatakan, selama ini fokus pengawasan terhadap daging impor hanya dilakukan pada pintu masuk, seperti bandara dan pelabuhan yang resmi. Sementara untuk pelabuhan-pelabuhan tikus, tidak ada kewenangan Karantina Hewan Batam untuk mengawasi.

 

“Kalau masuknya dari bandara dan pelabuhan resmi, dijamin 100% aman. Kalau masuk dari pelabuhan tikus, tidak bisa diprediksi,” ujarnya di Batam Centre, Rabu (11/6/2014).

 

Ibrahim menjelaskan, pintu masuk resmi bagi daging impor ke Batam melalui Pelabuhan Internasional Batam Centre, Domestik dan Internasional Sekupang, Punggur, Batuampar, Kabil, serta Bandara Internasional Hang Nadim Batam. Terdapat sekitar tujuh importir yang memiliki izin resmi untuk memasukkan daging impor ke Batam.

 

Daging impor yang masuk ke Batam merupakan daging yang berasal dari New Zealand dan Australia. Rata-rata daging impor merupakan daging beku dan memiliki harga yang jauh lebih rendah dibanding daging segar dari lokal.

 

“Harga daging beku sekira Rp70 ribu per kilogram, sedangkan daging segar sekira Rp110 ribu,” jelasnya.

 

Menjelang Ramadhan dan Idul Fitri, kebutuhan daging di tingkat masyarakat diprediksi semakin meningkat. Minimnya pasokan daging lokal memenuhi kebutuhan di masyarakat, membuka peluang masuknya daging-daging ilegal di Batam.

 

Wakil Direktur Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan dan Kosmetika (LPPOM) MUI Kepri, Khairuddin Nasution mengungkapkan, pernah menemukan beredarnya paha ayam dan krakas impor ilegal adal Amerika, Brazil, dan Cina di Batam. Peredaran ayam merek Valezul asal Brazil, Koch Food (paha ayam) asal Amerika Serikat, dan Filled Chicken asal Cina ini, ditemukan LPPOM MUI Kepri saat audit di restoran, katering, dan rumah makan yang mengajukan permohonan sertifikasi halal yang baru.

 

“Ayam dan paha ayam impor tersebut menjadi bahan olahan pangan oleh katering dan rumah makan, yang dikhawatirkan mengandung bahan berbahaya. Setiap cek, barang (paha ayam impor) itu ada,” ungkapnya.

 

Menurut Khairuddin, Kementerian Pertanian tidak pernah menerbitkan rekomendasi teknis pemasukan karkas atau daging ayam, termasuk dari Amerika, Brazil, dan Cina. Daging ayam (paha dan fillet ayam) yang beredar di Batam tersebut adalah produk hewan ilegal dan tidak dijamin keamanan serta kehalalannya.

 

“Pihak terkait seperti kepolisian harus memberikan efek jera bagi pelaku peredaran produk hewan ilegal dengan menindaklanjutinya ke proses hukum,” harapnya.

 

Tidak kali ini saja permasalahan peredaran ayam dan paha ayam impor terjadi di Batam. Pada Agustus 2012 lalu, Pemko Batam pernah menyita sekitar 100 kilogram daging ayam beku asal Brazil yang dilarang pemerintah dalam razia di sejumlah pasar di Batam.

 

Kepala Dinas Kelautan, Perikanan, Pertanian, dan Kehutanan (KP2K) Kota Batam, Suhartini mengaku bahwa pihaknya tidak memiliki kewenangan dalam pengawasan daging impor yang masuk ke Batam. Dinas KP2K seolah lepas tangan dengan jaminan keamanan dan kepastian bagi warga dalam mendapatkan dan mengonsumsi makanan.

 

“Kewenangan pengawasan ada di Karantina,” ujarnya. (R02)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *