Pembiayaan syariah, jadi alternatif mudah

Baloi, BatamEkbiz.Com — Ratusan jamaah terlihat khidmat menyimak khutbah Jum’at kali ini. Tidak seperti khutbah Jumat biasanya, tema aktual terkait imbauan untuk tidak golput, mulai memudarnya budaya Islam, hingga bangkitnya ekonomi syariah yang dipaparkan Khotib dari mimbar seolah mampu melawan kantuk jamaah.

“Sekarang sudah banyak perekonomian yang berbasiskan syariah, ini patut kita apresiasi,” ujar Saefuddin dalam Khutbah Jum’at yang disampaikannya di Masjid Nurul Huda, Baloi III, Lubuk Baja, Jumat (28/3/2014).

Khutbah adalah salah satu syarat dalam Sholat Jum’at berjamaah. Pembelajaran, nasihat dan peringatan dalam urusan agama dan dunia, biasa disampaikan Khotib kepada para jamaah.

Ditemui usai Sholat Jumat, Saefuddin mengatakan, ajakan kepada jamaah untuk turut membangkitkan ekonomi syariah didasarkan pada manfaat yang telah ia rasakan. Yakni saat membeli kendaraan baru dengan memanfaatkan lembaga pembiayaan, Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Syariah.

Berdasarkan perhitungannya, membeli kendaraan secara kredit melalui BPR Syariah jauh lebih hemat dibanding kredit langsung melalui dealer. Ia bisa lebih menghemat saat kredit sepeda motor Honda CB150R StreetFire yang harga tunainya sekira Rp22 juta.

“Waktu itu saya kredit melalui BPR Syariah Vitka Central dengan jangka waktu kredit selama 30 bulan. Setelah dihitung-hitung, bisa hemat hingga Rp3 juta dibanding kredit langsung ke dealer,” ungkapnya.

Namun tidak semua pembiayaan syariah dianggap lebih menguntungkan bagi umat. Amin, Pengurus Masjid Nurul Huda contohnya, yang menganggap pembiayaan syariah tidak jauh beda dengan pembiayaan konvensional.

“Bahkan terkadang jatuhnya angsuran bisa lebih tinggi dibanding pembiayaan atau perbankan konvensional,” ujarnya.

Menurutnya, disini diperlukan sosialisasi dan peningkatan pemahaman dari seluruh masyarakat, tentang informasi yang lengkap mengenai produk pembiayaan berbasis syariah. Agar masyarakat menyadari, manfaat dan keunggulan sistem syariah dibanding konvensional.

“Sosialisasi mengenai ekonomi syariah masih kurang,” jelasnya.

Customer Service BPR Syariah Vitka Central, Nanda menjelaskan, pembiayaan kendaraan bermotor merupakan salah satu yang pembiayaan yang dilayaninya. Selain itu, juga ada pembiayaan untuk renovasi rumah, pembelian rumah, dan modal usaha.

“Pembiayaan untuk kendaraan bermotor nisbah (bagi hasil-red) 15 persen per tahun, dan jangka waktu maksimal pembiayaan hingga lima tahun atau 60 bulan,” ujarnya.

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, selama 2013 industri pembiayaan syariah di Indonesia mencatat pertumbuhan aset serta penyaluran pembiayaan lebih lambat dibanding tahun sebelumnya. Aset industri pembiayaan syariah tercatat sebesar Rp24,64 triliun pada 2013 atau tumbuh tipis 8,71 persen dibanding tahun sebelumnya Rp22,66 triliun.

Pertumbuhan aset industri pembiayaan syariah tersebut tidak lebih tinggi ketimbang angka pertumbuhan pada 2012 yang mencapai 427,67 persen dibandingkan 2011. Pada 2011, aset industri pembiayaan syariah sebesar Rp4,29 triliun.

Industri pembiayaan syariah menyalurkan pembiayaan sebesar Rp20,59 triliun pada 2013 atau tumbuh 11,16 persen dibanding tahun sebelumnya sebesar Rp18,52 triliun. Pertumbuhan penyaluran pembiayaan tersebut juga melambat jika dibandingkan 2012 yang tumbuh hingga 369,52% dari 2011. Penyaluran pembiayaan pada 2011 mencapai sebesar Rp3,94 triliun.

Hingga akhir 2013, terdapat 11 bank umum syariah dengan 1.998 kantor di Indonesia. Yakni Bank Syariah Muamalat Indonesia, Bank Syariah Mandiri, Bank Syariah Mega Indonesia, Bank Syariah BRI, Bank Syariah Bukopin, Bank Panin Syariah, Bank Victoria Syariah, BCA Syariah, Bank Jabar dan Banten, Bank Syariah BNI, dan Maybank Indonesia Syariah. Sedangkan jumlah bank pembiayaan rakyat (BPR) Syariah mencapai 163 bank dengan 402 kantor. (R02)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *