Penyiaran Sehat Bermartabat

Batam Centre, BatamEkbiz.Com — Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Kepulauan Riau mengadakan acara Literasi Media terhadap siswa-siswi SMP Muhammadiyah Plus di Komplek Perumahan Kurnia Djaya, Jumat 29 Juli 2016 dengan tema “Peningkatan Peran Pelajar dalam Mewujudkan Siaran Sehat dan Bermartabat”.

Azwardi, S.Sos, MH selaku Ketua KPID Kepri mengawali acara tersebut dengan memeperkenalkan apa itu KPID, mengapa harus ada KPID? Namun sebelum menjelaskan lebih jauh ia memberikan pertanyaan kepada siswa, siapa yang sering menonton TV? Jawabannya, hampir semua siswa yang berjumlah 150 orang mengacungkan tangan.

Pertanyaaan selanjutnya, siapa yang sering membaca Koran, tenyata hanya 1/3 siswa yang mengacungkan tangan. Dan pertanyaan ketiga, siapa yang suka mendengarkan radio?, ternyata hanya sekitar 10 orang yang mengacungkan tangan.

“Ini menunjukkan betapa pentingnya adik-adik mengerti apa itu tontonan yang sehat,” kata Azwardi. “TV itu pencuri waktu “ imbuhnya.

Kemudian ia memberikan data dari  YKAI (Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia), dimana waktu anak menonton TV pada 1997 sebanyak 22-26 jam/pekan, dan waktu anak menonton TV pada 2001 sebanyak 35 jam/pekan. Ditambah lagi data AGB Nielsen yang menyebutkan waktu untuk menonton siaran TV adalah 28-35 jam/pekan, 21% penonton TV berusia 5-14 tahun. Sebanyak 1,4 juta anak menonton TV pada pukul 18.00-21.00, program yang banyak ditonton anak adalah sinetron (50 menit/hari), lebih banyak dari tayangan anak (20 menit/hari).

Narasumber selanjutnya Suyono, S.Ag, M.Ag selaku Wakil Ketua. Ia menjelaskan betapa pentingnya penonton memahami apa yang ditonton, tontonan TV itu rekayasa bukan betulan, maka harus pandai memilah dan memilih tontotan TV agar tidak menjadi korban TV. Selanjutnya yang disebut Literasi Media yaitu pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki seseorang agar dapat menggunakan media dengan benar dan optimal.

Maksudnya pengetahuan adalah adegan perkelahian di sinetron & reality show tidak sungguhan, iklan bertujuan itu konsumtif, isi media cenderung digambarkan berlebihan dibanding dari yang sesungguhnya. Sedangkan maksud kemampuan yaitu mengerti teknik flashback, paham penggunaan ilustrasi efek dalam film, dapat mengambil manfaat dari media untuk kebutuhannya.

Di dalam acara ini diselingi kuis sepuluh pertenyaan terhadap siswa-siswa yang diberi hadiah berupa uang Rp10.000 dan Rp20.000 sesuai dengan tingkat kesulitan pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan tersebut antara lain mengapa YKS ditutup, apa singkatan YKS, siapa Menteri Kominfo saat ini, kemana melaporkan tayangan TV jika ada pelanggaran, dan lain-lain.

Terakhir yang menjadi narasumber adalah Hamdani, S.Sos selaku Koordinator Perizinan. Dalam penjelasannya ia mengawali dengan hal-hal yang perlu diperhatikan sebagai seorang penonton TV agar bisa membedakan mana tontonan yang melanggar peraturan dan mana tontonan yang tidak melanggar peraturan.

Tujuannya adanya pembatasan tontonan adalah agar  pengelola TV memilki rasa hormat terhadap nilai agama , kesopanan, etika, dan kesusilaan. Selain itu juga rasa hormat terhadap perlindungan anak dan remaja, mengetahui adanya pelarangan dan pembatasan adegan seks, kekerasan dan sadisme, serta memberikan penggolongan program menurut usia.

Jika ada pelanggaran tayangan di TV siswa-siswa bisa melaporkan program acara TV tersebut ke KPI Pusat  dengan call center 021 -634 0626, SMS center 0812 1307700000, facebook KPIPusat, dan twitter  dengan alamat @KPI_Pusat. Untuk di KPID Kepri SMS center 081270000040. Di sela-sela pemberian materi oleh narasumber juga diberikan potongan-potongan tayangan yang melanggar yang telah ditegur oleh KPI seperti : Janji Jhoni, Iklan Mie Sedap Saykoji, Wawancara korban asusila, Snapshot Bom Thamrin, dan Ngerumpi No secret (Titin). Sebelum acara berakhir, siswa diminta mempraktekkan menjadi penyiar olahraga dan sinetron dalam kasus Ibu memarahi anaknya karena mau ujian, tetapi dalam batas kesopanan. (Muhith)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *