Perekonomian Kepri Melambat

Nagoya, BatamEkbiz.Com — Bank Indonesia (BI) Perwakilan Kepri mencatat perekonomian Provinsi Kepri pada triwulan III 2016 melambat dibanding triwulan sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi Kepri sebesar 4,64 persen (yoy), lebih rendah dibanding triwulan sebelumnya yang tumbuh 5,50 (yoy).

Kepala BI Perwakilan Kepri Gusti Raizal Eka Putra mengatakan, pelambatan juga terjadi pada perekonomian nasional yang tumbuh 5,02 persen (yoy), melambat dibanding triwulan sebelumnya sebesar 5,19 persen (yoy).

“Dari sisi permintaan, pelambatan ekonomi terjadi pada semua komponen utama ekonomi Kepri, baik investasi, konsumsi, dan aktivitas ekspor-impor,” katanya dalam konferensi pers di i Hotel, Nagoya, Kamis, 17 November 2016.

Gusti membeberkan, konsumsi rumah tangga tumbuh 7,07 persen (yoy), melambat dibanding triwulan II 2016 yang tumbuh 8,58 persen (yoy). Hal ini dipengaruhi pergeseran puncak konsumsi Ramadan dan Idul Fitri pada triwulan II 2016 yang berimbas langsung pada perlambatan konsumsi makanan dan minuman dari 7,65 persen menjadi menjadi 5,50 persen (yoy).

Investasi juga melemah menjadi 0,11 persen (yoy) setelah pada triwulan sebelumnya sempat tumbuh 8,63 persen (yoy) akibat kontraksi PTMB sub sektor bangunan sebesar 4,35 persen (yoy) yang menurun signifikan dibanding pertumbuhan triwulan sebelumnya sebesar 11,32 persen (yoy). Sementara disisi ekspor juga terjadi pelambatan menjadi 3,98 persen (yoy) dibanding triwulan sebelumnya yang tumbuh 5,60 persen (yoy).

“Kontraksi ekspor luar negeri yang semakin dalam menjadi pemicu pelambatan ekspor. Sejalan dengan ekspor, total impor menjadi 3,12 persen (yoy) dibanding triwulan sebelumnya yang tumbuh 7,45 persen (yoy). Pelambatan terutama disumbang turunnya impor antar provinsi yang dipengaruhi oleh pelemahan konsumsi rumah tangga,” katanya.

Kemudian dari sisi lapangan usaha, pelambatan ekonomi menekan sektor industri pengolahan, konstruksi, dan sektor perdagangan. Sektor industri pengolahan tumbuh 4,40 persen (yoy), lebih rendah dibanding triwulan sebelumnya 5,13 persen (yoy) yang dipengaruhi rendahnya permintaan, sebagaimana terkonfirmasi dari hasil realisasi Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) dan liaison. (hms)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *