Pesantren Punya Potensi Ciptakan Wirausaha Baru

Kediri, BatamEkbiz.Com — Pondok pesantren berpotensi besar menciptakan wirausaha baru dan menumbuhkan sektor industri kecil dan menengah (IKM). Untuk itu, pemerintah tengah gencar melaksanakan program Santripreneur sebagai salah satu upaya pengoptimalan dalam penyediaan lapangan kerja di daerah atau desa sekaligus mengurangi tingkat pengangguran dan mendorong pemerataan kesejahteraan masyarakat.

“Program ini bertujuan menumbuhkan jiwa wirausaha di kalangan santri pondok pesantren. Oleh karenanya, kami terus memfasilitasi melalui pemberian alat dan mesin untuk bekal para santi belajar kemandirian sebelum terjun ke masyarakat,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto ketika mengunjungi Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, Rabu 15 November 2017.

Didampingi Dirjen IKM Kemenperin Gati Wibawaningsih dan Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf, Menperin menyerahkan mesin daur ulang sampah, ‎mesin penjernih air, dan sarung sebanyak 8500 untuk santri Ponpes Lirboyo. Kedatangan Menperin dan rombongan disambut ribuan santri dan pimpinan Ponpes Lirboyo, KH M Anwar Manshur.

Airlangga menyampaikan, seiring perekonomian nasional yang semakin membaik, industri juga sedang menunjukkan gerak positif dengan melakukan perluasan usaha atau menambah investasi. Dari langkah ekspansi ini, manufaktur dipastikan akan membuka lapangan pekerjaan. “Tentunya tenaga kerja yang dibutuhkan yang terampil dan profesional,” ujarnya.

Guna memenuhi permintaan industri tersebut, selama ini Kementerian Perindustrian aktif memberikan pendidikan dan pelatihan yang bersifat vokasi atau kejuruan. Misalnya, program Diklat 3in1 (pelatihan, sertifikasi dan penempatan) untuk operator mesin industri garmen serta program link and match antara Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan industri.

“Kami juga memiliki sejumlah unit pendidikan seperti SMK dan politeknik yang telah menjadi rujukan bagi pengembangan pendidikan vokasi karena berhasil membangun sistem pendidikan yang benar-benar berbasis kompetensi,” paparnya. Bahkan, sebanyak 98 persen para lulusannya sudah terserap industri pada saat wisuda.

Seiring pelaksanaan program-program strategis itu, Kemenperin menjalankan dua model untuk kegiatan Santripreneur. Pertama, Santri Berindustri, memfokuskan pada pengembangan unit industri yang telah ada dan sumber daya manusia di lingkungan pondok pesantren yang terdiri dari santri dan alumni santri.

Kedua, Santri Berkreasi, memberikan kegiatan pelatihan dan pendampingan dalam pengembangan potensi kreatif para santri maupun alumni yang terpilih dari beberapa pondok pesantren untuk menjadi seorang profesional di bidang seni visual, animasi dan multimedia sesuai standar industri saat ini.

Dirjen IKM Gati Wibawaningsih mengungkapkan, program pilot project Santripreneur yang telah berjalan, misalnya di Pondok Pesantren Sunan Drajat dalam pelaksanaan bimbingan teknis pengolahan ikan dan pembuatan alas kaki. Selain itu, pembuatan lampu LED dan revitalisasi industri garam.

“Dalam kurun waktu tahun 2013-2015, Direktorat Jenderal IKM telah membina beberapa pondok pesantren dengan pelatihan tematik yang disesuaikan dengan kebutuhan dan potensi unit industri yang ada di pondok pesantren,” paparnya.

Berdasarkan data Kementerian Agama, pada tahun 2014, pondok pesantren yang ada di Indonesia sebanyak 27.290 lembaga dengan jumlah santri mencapai 3,65 juta orang. “Ini menjadi potensi bagi penumbuhan wirausaha baru dan sektor IKM di Tanah Air,” tegas Gati.

Industri siap serap
Dalam kesempatan sebelumnya, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan, industri siap menyerap para lulusan program pendidikan vokasi. Hal ini karena program vokasi didesain secara khusus untuk membekali para siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) agar ketika lulus nanti bisa langsung bekerja di industri.

“Dengan sistem vokasi yang ada sekarang, lulusan SMK bisa cepat bekerja. Apalagi, jenjang karirnya juga menjanjikan,” ujarnya pada acara Dialog Nasional Ke-5 Sukses Indonesiaku di PT Gudang Garam Tbk., Kediri, Jawa Timur, kemarin.

Airlangga juga mengungkapkan, banyak yang memiliki latar belakang pendidikan SMK telah menduduki jabatan tinggi di beberapa perusahaan besar. “Contohnya di Gudang Garam, Coca-Cola, Krakatau Steel, dan Daihatsu. Direkturnya itu ada yang dari pendidikan SMK,” ungkapnya.

Tidak hanya menjadi karyawan di perusahaan, Kementerian Perindustrian juga siap membentuk lulusan SMK menjadi wirausaha. “Lulus SMK mau kerja atau mau jadi pengusaha bisa disiapkan. Kami sudah siapkan timnya,” imbuhnya.

Menperin menyampaikan, Jawa Timur merupakan salah satu kontributor terbesar pada perekonomian nasional dari kinerja industrinya. “Kontribusi ekonominya 32 persen, kedua setelah Jawa Barat yang 42 persen. Makanya, program vokasi link and match antara SMK dengan industri, pertama diluncurkan untuk Jawa Timur. Daerah ini dipilih sebagai percontohan karena memiliki beragam industri,” paparnya.

Lebih lanjut, beberapa kota industri lainnya, seperti di Kudus, Cilegon, Gresik, Sidoarjo, dan Bekasi, juga didorong agar industri meningkatkan penyerapan dari lulusan SMK atau pendidikan vokasi.

Direktur PT Gudang Garam Tbk Istata Taswin Siddharta mengatakan, di perusahaannya banyak menyeraplulusan SMK. Bahkan, pihaknya telah membina SMK sekitar dalam program pelatihan. “Ada beberapatempat yang bisa kami berikan kepada lulusan SMK. Kami juga fokus melakukan pelatihan yang bekerjasama dengan lima SMK dengan kurikulum yang cocok,” ujarnya.

Pada acara Dialog Nasional, Menperin mendapat beberapa pertanyaan kritis dari para siswa SMK yanghadir, misalnya bagaimana dunia usaha atau industri bisa memberi ruang kepada siswa SMK danmengusulkan penyediaan tenaga ahli sebagai guru di sekolah mereka.

Menperin menjawab, industri sudah membuka diri untuk kegiatan magang atau praktik kerja lapangan bagi pelajar SMK. “Kemarin saya kunjungan di Klaten, Jawa Tengah melihat di sana anak-anak langsung praktik kerja memakai dengan mesin yang sesungguhnya. Model ini yang akan kami dorong,” jelasnya.

Terkait tenaga ahli, Kemenperin memiliki program silver expert. Maksudnya, para profesional yang sudah pensiun diberikan pendidikan dan pelatihan sehingga bisa menjadi tenaga pengajar. “Jadi, mereka bisa mengajar ke SMK-SMK,” kata Menperin.

Sementara itu, Intan, siswi SMKN3 Kota Kediri, menyampaikan tentang kurikulum pendidikan yang diterapkan di sekolahnya lebih banyak pendidikan normatif ketimbang produktif. Pertanyaan Intan ini dinilai bagus, oleh Menperin. “Sekarang ini sedang disinkronisasi kurikulumnya, sebanyak 70 persen produktif dan 30 persen normatif. Selain itu, kami juga mitrakan industri dengan sekolah yang belum punya teaching factory. Supaya adik-adik bisa praktik ke industri, seperti di SMKN3 Kota Kediri, jurusan tata boga ini bisa disinergikan dengan industri makanan dan minuman,” jawab Airlangga. (hms)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *