PT Gagas Sosialisasikan Gas untuk Kendaraan di Batam

Batam Centre, BatamEkbiz.Com — PT Gagas Energi Indonesia gencar sosialisasi penggunaan compressed natural gas (CNG) di Kota Batam. Pekan lalu, anak perusahaan PT Perusahaan Gas Negara (PGN) ini promosi tentang CNG ke pengemudi taksi bandara.

“Kami sempat sosialisasi ke airport taxi. Mereka ada 253 armada kalau tidak salah. Kita menawarkan ke mereka untuk pakai gas sebagai bahan bakar kendaraannya,” kata Area Head Gagas Energi Batam, Yani Suhaib di Batam Centre, Kamis 6 Oktober 2016.

Menurutnya sebagian taksi Blue Bird di Jakarta pun sudah menggunakan bahan bakar gas (BBG). Selain itu angkutan kota (angkot) di Bogor juga banyak yang memakai BBG.

“Yang sudah jalan dan sukses itu Bogor. Di Bogor itu awalnya converter kit bantuan dari Kementerian ESDM. Memang ada yang mau dan ada yang tidak. Tapi karena melihat bagus, mereka yang tadinya tidak mau malah berani berinvestasi. Mereka beli menyicil converter kit-nya,” kata Yani.

Ia akui biaya investasi untuk pemasangan converter kit ini cukup besar, yaitu Rp 10-12 juta per kendaraan. Namun penggunaan biaya yang dikeluarkan untuk bulanannya lebih hemat dibanding BBM. Harga 1 liter setara premium (lsp) CNG dijual Rp 4.500. Sementara harga premium per liter saat ini Rp 6.400.

“Kemarin saya tanyakan. Sehari mereka habis berapa, katanya 15 liter. Itu pagi isi, bisa pulang balik dua tiga rit. Artinya dengan CNG, satu rit saja sudah cukup untuk operasional sehari, tarikan kedua dan ketiga sudah bisa pikir untuk keluarga,” ujarnya.

Selain lebih murah, ada beberapa kelebihan lain dari CNG. Pertama, dari segi lingkungan, emisi gas buangnya sangat kecil, tak seperti BBM. Penggunaan CNG juga sangat aman karena katup pelindungnya ganda. Terbukti ketika bus Trans Jakarta terbakar, tabung gasnya masih utuh. Dan ketiga, membuat mesin kendaraan lebih awet karena tidak ada sisa pembakaran yang timbulkan kerak di mesin.

“Tak perlu khawatir sulit mengisi gasnya. Karena SPBG-nya sudah ada di Batam Centre. Dan ke depannya bisa diadakan mobile refuel unit (MRU), semacam tanki untuk isi ulang gas yang bisa dibawa ke mana-mana. Nanti dicari satu titik untuk MRU-nya. Lagipula, untuk transportasi ini sistemnya dual fuel. Jadi kalau gas habis, tetap bisa pakai BBM-nya,” kata dia.

Yani mengatakan Batam menjadi fokus pengembangan CNG karena berbentuk pulau tertutup, dengan luas yang tidak terlalu besar. Kendaraan pun tidak banyak keluar masuk seperti daerah lain. (hms)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *