Rekayasa Budaya dalam Dunia Penyiaran

Melihat sajian berita yang ditampilkan media massa saat ini, sebagian besar berisi tentang berita korupsi. Semua sudah tahu, prilaku negatif ini sudah masuk ke ruang legislatif, eksekutif, penegak hukum, kepala daerah, dan pejabat lainnya.

Selanjutnya berita yang tidak kalah menariknya adalah tentang narkoba. Penyalahgunaan narkoba sudah merasuk ke semua kelompok masyarakat, mulai dari masyarakat umum, PNS, swasta, penegak hukum, aparat, pengusaha, sampai ke masyarakat yang mempunyai penghasilan pas-pasan.

Belakangan ini muncul isu terbaru yakni berita pelecehan dan kekerasan seksual. Sama dengan dua berita sebelumnya, pelakunya mulai dari orang berduit hingga masyarakat di pedesaan. Korbannya, ada anak-anak dan orang dewasa.

Komnas Peremuan dan KPAI 14/6/2016 mencatat setiap tahunnya, kasus yang terakhir ini cenderung meningkat. Tahun 2011 terjadi 2178 kasus, 2012 ada 3512 kasus, 2013 ada 4311 kasus, 2014 ada 5066 kasus, sehingga dalam sehari terjadi pemerkosaan lebih dari 12 kali. Sebuah wajah yang sangat buram.

Di sisi lain, ada berita positif tentang banyaknya prestasi yang diraih anak Indonesia. Sebut saja ada siswa SMK menemukan pengganti bensin sepeda motor dengan air tawar, ada Bayu Santoso mahasiswa pemenang desain cover album maroon. Ada Pierre Cooffin, keturunan Indonesia yang berhasil membuat karya boneka minions, Andre Surya animator transformer 3D, G Sastrawinata, animator yang karyanya bisa dilihat dalam film The Sherk, Rini Sugianto animator yang bergabung dalam proyek film-film Box Office Amerika, dan masih banyak prestasi anak bangsa lainnya.

Namun, untuk berita seperti ini instensitasnya kecil. Bahkan kalau sudah diberitakan satu media, media lainnya enggan memberitakannya. Ini sangat kontadiktif dengan berita yang berkaitan dengan kriminalitas yang hampir semua media memberitakannya.

Jika ditanya apa penyebab fenomena rusaknya masyarakat di Indonesia saat ini, jawabannya bisa bermacam-macam. Bisa disebabkan oleh dekadensi dan degradasi moral, gaya hidup, karena kekuasaan, atau karena pejabat yang tidak amanah, atau karena imitasi meniru tokoh tokoh yang muncul di media. Dan bisa juga karena tidak adanya kepastian hukum, minimnya tokoh panutan. Atau karena peliput berita yang tidak idealisme. Atau masyarakat sudah meninggalkan agama? Jadi, siapa yang harus dilihat pertama dari sekian banyaknya probematika bangsa ini? Ini yang perlu menjadi kajian utuh dari seluruh elemen masyarakat.

Menurut Konvensi Montevideo tahun 1933 disebut ada beberapa unsur, yaitu adanya wilayah yang merupakan daerah kekuasaan, adanya rakyat atau penduduk, adanya pemerintah yang berdaulat, dan adanya  pengakuan dari Negara lain atau unsur deklaratif. Di sebuah Negara siapa yang mengurusi nilai-nilai moral, tentu Kemendiknas dan Kemenag.

Pertanyaannya adalah dua kementrian ini sudah efektif dalam memperbaiki masyarakat? Apakah mampu dua kementrian membagun moral masyarakat yang menurut Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2016 jumlah penduduk Indonesia mencapai 254,9 juta jiwa. Jawabannya tentu tidak. Disinilah perlunya strategi budaya dalam dunia penyiaran untuk membagun moral masyarakat.

Persoalan permasalahan moralitas bangsa itu berada di hulu atau di hilir, berada di ujung atau di pangkal, berada di demand atau supply. Secara fisik dapat dilihat masyarakat Indonesia taat beribadah, terbukti tempat-tempat beribadah penuh sesak dipenuhi penganutnya, apakah masjid, gereja, pura,  vihara, atau kelenteng semua taat menjalankan nilai nilai agama.

Akan tetapi, ketaatan terhadap nilai-nilai agama masih belum sepenuhnya diikuti dengan taat terhadap value dalam sebuah negara. Contoh paling ringan soal disiplin di jalan, buang sampah pada tempatnya, budaya antri adalah hal-hal yang sederhana.

Hal ini jarang ditemukan pelanggaran di Negara maju, banyak terjadi pelanggaran di Negara Indonesia. Saat Jepang dilanda gempa dan tsunami masih terlihat dilayar kaca masyarakat antri mengambil makan, kalau di Indonesia budaya itu mungkin sulit dilakukan, Mengapa Jepang bisa demikian karena antri sudah menjadi value bagi masyarakat Jepang, dan banyak Negara-negara lain yang tidak taat terhadap agamanya, akan tetapi taat terhadap value negaranya.

Alangkah indahnya jika masyarakat Indonesia taat terhadap agamanya juga taat terhadap value-nya. Karena semua permasalahan moralitas berada di hulu, maka disinilah membutuhkan rekayasa budaya.

Rekayasa budaya yang ada di Negara-negara maju dalam dunia penyiaran yang sudah mempunyai value, value itulah dijadikan pijakan dalam membuat rekayasa budaya, maka dengan mudah ditebak apa yang ada dinegara-negara sudah mempuayai value tersebut. Amerika Serikat punya Hollywood, dominasi film-filmnya tidak pernah lepas menggambarkan kehebatan negaranya, kehebatan ilmuannya, kehebatan pesawatnya, kehebatan senjata-senjatanya, film-film Amerika serikat selalu “Heroik dan Super“ yang ditambah dengan bumbu-bumbu penyedap.

Tapi itulah value yang sudah baku di Amerika Serikat. Film-film Bollywood India selalu menggambarkan keindahan tarian dan kebersamaan, tidak ada film India satupun yang tidak ada tariannya bersama-sama, karena itulah rekayasa budayanya yang menggambarkan masyarakat India itu kompak, bersatu, seia, sekata dan seirama, kalaulah ada film India tidak disisipi tarian bersama maka ibarat sayur tanpa garam, hambar rasanya.

Karena value itu sudah melekat di masyarakat India, lain halnya dengan Korea. Belakangan ini sudah punya pengaruh, ibarat gelombang bergerak terus mempengaruhi masyarakat Korea, dalam tayangan Hallyuwood, value  yang ditawarkan adalah operasi plastik, sehingga misi yang diembannya adalah memberikan pengaruh terhadap masyarakat Korea, saat ini hampir tidak ada anak bintang film Korea yang tidak melakukan oprasi plastik, sehingga value yang terjadi dimasyarakat Korea tampan dan cantiknya seseorang dilihat dari kesuksesan operasi palstiknya.

Bagaimana dengan strategi rekayasa budaya yang diterapkan dalam tayangan-tayangan TV di Indonesia, apakah sinetron percintaan yang dinilai lebay, apakah mistik dan horor, apakah perselingkuhn, apakah kehidupan glamor, pertentangan,  perkelahian, kekerasan dan ataukah religi. Pemberian apresiasi sering berubah-ubah dari tahun ke tahun.

Sebuah tayangan sinetron yang ditentang MUI dan didemo masyarakat bisa mendapatkan apresiasi. Artis yang menghina lambang Negara bisa menjadi duta Negara, dan banyak kejadian-kejadian yang tidak diduga sebelumnya malah mendapatkan apresiasi.

Ini jelas berbeda dengan di negara-negara yang sudah mempunyai value, penilaiannya relatif lebih objektif dan professional dalam memberikan apresiasi, karena berdasarkan value yang baku kemudian ditambah dengan kelihaian memberikan sentuhan-sentuhan agar sebuah tayangan lebih bermakna, dan bernilai. Jika penonton melihat tayangan film “Ada Apa dengan Cinta 2” yang lagi menjadi pilihan utama masyarakat Indonesia, karena penjualan tiket hampir menyamai, bahkan melebihi “Ayat-ayat Cinta”, value apa yang didapat, value apa yang dijual dalam film tersebut, apakah yang menjadi pilihan utama masyarakat saat ini sudah menjadi value? Jawabannya belum tentu.

Mengapa karena sampai saat ini Negara belum mempuyai rumuskan yang baku, mengenai  apa yang dijual saat membuat film atau tayangan televisi. Jika tidak dirumuskan sampai kapanpun film-film Indonesia tidak akan punya identitas, dan tetap akan terombang ambing dalam memberikan apresiasi.

Rekaya budaya perlu dikembangkan agar masyarakat Indonesia menyadari pentingnya menaati sebuah value. Berbicara mengenai value yang cocok bagi bangsa Indonesia tentu dikembalikan kepada jati diri bangsa yaitu taat beribadah, plural, toleran, gotong royong, ramah dan disiplin.

Jika jati diri bangsa dirumuskan menjadi sebuah value dan awak media sepakat menjalankanya value tersebut, maka lambat laun rekayasa budaya untuk menyadarkan masyarakat Indonesia taat value akan tercapai, dan tayangan TV mempuyai ciri khas seperti yang dimiliki negara-negara maju. Semoga.***(Muhith, M.Ag, Koordinator Isi Siaran KPID Kepri, Dosen STIQ Kepri)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *