Susahnya Mencari Kerja di Batam

Pilunya mencari kerja di Batam, memang sudah sangat terasa bagi penganggur. Mereka kadang, untuk masuk kerja sekelas petugas pembersih (clining service) saja, harus ada orang dalam (kelaurga, teman, atau yang dikenal) agar bisa diterima.

Dengan map merah berisikan berkas surat lamaran kerja, pencari kerja (pencaker) saling berburu lowongan kerja. Mulai pagi hingga sore mereka para pemuda-pemudi Batam terus keliling mencari lowongan, bertanya dengan Satpam dari sudut gedung-gedung kawasan industri, membaca lowongan di berbagai media cetak dan online, demi mendapatkan informasi.

Kadang mereka berhari-hari nongkrongin papan pengumuman informasi di kawasan industri yang ada di Batam. Tiada hari tanpa mencari lowongan kerja, itulah kenyataan diterima pencaker.

Fakta yang menyakitkan, saat para putra-putri bangsa ini berlomba-lomba masukan lamaran di PT. Sumitomo Wiring System di Kawasan Batamindo-Mukakuning-Batam, Jumat (6/2/2016), mereka rela menunggu dari subuh, berdesak-desakan demi lamarannya diterima. Dari catatan awak media, ada sekitar 3.000 pelamar dan yang diterima hanya 80 orang oleh perusahaan elektronik itu. Miris, melihat banyaknya pelamar yang tak sebanding dengan yang diterima.

Selain itu, diantara pencaker acapkali menelang pil pahit, ketika ada oknum yang memberikan iming-iming masuk kerja asalkan ada uang saku (sogok) agar bisa diterima menjadi karyawan. Tanpa berpikir panjang, mereka yang sudah lama menganggur, bahkan sudah bertahun-tahun, tak segan mengeluarkan uang ratusan ribu sampai jutaan rupiah demi memperlancar masuk kerja. Alhasi mereka dikibulin.

Aksi penipuan dengan modus memberikan peluang kerja lazim terjadi di Batam. Seperti yang menimpa Nita bersama belasan temannya, pada awal tahun 2015 lalu. Pelaku menawarkan pekerjaan di Irak dan meminta dana Rp6 juta sampai Rp9 juta kepada korban dengan alasan mempermudah pengurusan administrasi. Setelah uang diterima, pelaku kabur.

Dengan pola yang sama, juga menimpa Fitriani dengan 15 sahabatnya, pada pertengahan tahun 2014. Fitriani yang melaporkan kasus itu ke polisi, mengaku setiap korban menggelontorkan uang Rp500 ribu untuk bisa masuk kerja yang dijanjikan pelaku. Kenyataannya, pekerjaan tak kunjung ada dan diketahui pelaku melakukan penipuan.

Pilunya mencari kerja di Batam, memang sudah sangat terasa bagi penganggur. Mereka kadang, untuk masuk kerja sekalas petugas cleaning service saja, harus ada orang dalam (keluarga, teman, atau yang dikenal) agar bisa diterima. Dari curahat pencaker, ada juga oknum yang menarik pungutan untuk bisa masuk di perusahaan-perusahaan besar.

(abu ubaid)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *