Ziarah ke Makam Temenggung Abdul Jamal

Sebuah bangunan makam terlihat lebih istimewa dari puluhan makam lainnya di areal pemakaman seluas 15×20 meter di Pulau Bulang Lintang, Kecamatan Bulang. Bangunannya lebih tinggi dengan atap yang ditopang empat pilar dan lantai keramik untuk tempat duduk peziarah.

Bangunan itu adalah makam Temenggung Abdul Jamal, salah satu temenggung yang memerintah pada masa Kerajaan Riau Lingga. Temenggung sendiri adalah gelar pembesar di bawah raja atau sultan yang dikenal dalam sistem pemerintahan Kerajaan Melayu Johor-Riau. Dengan gelar tersebut, Temenggung Abdul Jamal otomatis memiliki mahar kebesaran berupa cap dan sebuah bendera bernama fajar menyingsing.

Lahir pada tahun 1720, Temenggung Abdul Jamal adalah putra dari Tun Abbas, Datuk Bendahara Si Maha Raja Johor Ibni Sultan Abdul Jalil Riayatsyah. Ia menetap di Bulang Lintang hingga akhir hayatnya dan dimakamkan di sana bersama istrinya, Raja Maimunah. Masyarakat setempat memperkirakan, makam-makam lain yang berada di kawasan ini juga masih merupakan anggota keluarga temenggung.

Kini, kondisi area pemakaman ini masih terawat baik. Pemko Batam bahkan membangun museum kecil bernama Cik Puan Bulang di sampingnya. Di museum itulah para ahli waris keturunan Temenggung Abdul Jamal meletakkan sejumlah benda pusaka seperti keris, tombak, parang, serta berbagai peninggalan lainnya milik Temenggung Abdul Jamal semasa hidup dan memegang kuasa di Bulang Lintang.

Hanya saja, sejak beberapa tahun belakangan, museum itu tidak difungsikan lagi. Namun berbagai peninggalan itu masih terawat dan terjaga baik di tangan para ahli waris. Anda sendiri, bila ingin melihat langsung benda-benda pusaka itu dapat mengunjungi rumah ahli waris yang letaknya hanya beberapa depa dari lokasi pemakaman.

Sebenarnya, di lokasi sekitar pemakaman ini terdapat makam yang oleh warga sekitar dikenal dengan sebutan makam Aceh. Jumlahnya bisa dihitung jari dan menyebar di sejumlah titik, tetapi tak jauh dari lokasi Pemakaman Temenggung Abdul Jamal dan keluarganya. Sayang, tidak banyak informasi yang bisa digali dari warga sekitar tentang keberadaan makam itu. Tonggak-tonggak nisan yang seluruhnya terbuat dari batu itu sama sekali tidak menunjukkan satu pun goresan nama atau tanggal kematian si ahli kuburnya. (dpkb)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *