Connect with us

Natuna

Keuntungan Indonesia dari Ruang Udara Natuna

Published

on

Airnav siap layani navigasi penerbangan di Natuna dan Kepri

BatamEkbiz.com – Indonesia sangat diuntungkan atas pengambilalihan pelayanan ruang udara atau Flight Information Region (FIR) di atas wilayah Kepulauan Riau dan Natuna.

Pengamat militer dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS), Khairul Fahmi mengungkapkan keuntungan itu tidak hanya terkait kedaulatan. Namun juga dari sisi keamanan dan keuntungan ekonomi.

“Selain kedaulatan, memastikan keamanan kita terjaga artinya karena kita mengelola sendiri. Misalnya, pesawat yang melintas ilegal, pesawat asing, dalam kendali otoritas kita,” ujarnya.

Baca juga: Indonesia Ambil Alih Ruang Udara Natuna dari Singapura

Dengan pengelolaan wilayah udara di tangan Malaysia dan Singapura, beberapa kali Indonesia tidak maksimal mengantisipasi risiko ancaman yang sewaktu-waktu datang. Menurut Khairul, ini ini juga mengganggu pesawat TNI yang memerlukan wilayah udara tersebut untuk patroli atau berlatih.

Dari sisi ekonomi, selama FIR dikelola oleh negeri jiran, Indonesia ternyata merugi. Karena ongkos yang wajib disetor maskapai penerbangan saat melintasi wilayah udara suatu negara tidak penuh.

“Selama ini Indonesia hanya mendapat semacam sharing,” katanya.

Baca juga: AirNav Tegaskan Kesiapan Layani Navigasi di NKRI, Termasuk Natuna dan Kepri

Wilayah udara Kepri memang menjadi lintasan favorit pesawat asing, termasuk jet tempur Singapura.

Komandan Pangkalan TNI AU Tangjungpinang, Letnan Kolonel Penerbang I Ketut Wahyu Wijaya, mengatakan bahwa pesawat tempur Singapura sering berlatih di utara Pulau Bintan yang berdekatan dengan Singapura.

Singapura mengklaim berlatih di wilayah militer atau miliary training area (MTA), yakni zona udara RI yang bisa digunakan Singapura untuk latihan militer. Hal ini karena mereka tak punya ruang lapang untuk berlatih.

Baca juga: NAM Air Rute Jakarta – Natuna Dukung Konektivitas Pulau Terluar

Masalahnya, perjanjian MTA antara Indonesia dan Singapura habis pada 2001. Jakarta tak memperpanjang kesepakatan sebab merasa dirugikan.

Namun, Singapura tetap ngotot MTA merupakan wilayah berbahaya sehingga harus dioperasikan Angkatan Bersenjata mereka.

Menurut Ketut, Singapura mencoba mencari celah agar bisa menerbangkan pesawat tempur mereka ke wilayah udara RI. Salah satunya dengan mengatur FIR Indonesia di sekitar Kepri.

Baca juga: Latihan Perang, TNI Kerahkan 9 Kapal di Natuna

Selama ini, pemerintah–melalui Menko Kemaritiman–sudah membentuk tiga tim untuk mengambil alih ruang kendali udara dari Singapura. Mereka terdiri dari tim teknis mencangkup Air Navigation (Airnav), Komando Pertahanan Udara Nasional (Kohanudnas) serta tim regulasi dari Kementerian Perhubungan, dan tim diplomasi dari Kementerian Luar Negeri buat berunding dengan Singapura.

Hal ini tidak lepas dari mandeknya proses pengambilalihan FIR oleh pemerintah Indonesia dari negara-negara tetangga, seperti Singapura dan Malaysia. Setelah upaya negosiasi, akhirnya FIR Natuna resmi menjadi kendali Indonesia pada 25 Januari 2022 melalui perjanjian nota kesepahaman antara Presiden Jokowi dan PM Singapura, Lee Hsein Loong.

Meski terlambat selama dua tahun dari target, pemerintah Indonesia berhasil mengambil FIR sektor A, B, dan C, dari otoritas Singapura. Hal ini terjadi setelah adanya kesepakatan antara Indonesia dan Singapura yang dibuat untuk penyesuaian pelayanan batas ruang udara. (re)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *