Connect with us

Kepri

4 Desa Wisata di Kepri, Ini Daftarnya

Published

on

Desa Wisata Kepri

BatamEkbiz.com – Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) mengumumkan 4 desa wisata di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) di Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2022.

ADWI merupakan apresiasi kepada masyarakat penggerak sektor pariwisata dalam upaya percepatan pembangunan desa, mendorong transformasi sosial, budaya, dan ekonomi desa.

ADWI menjadi momentum semangat baru masyarakat untuk terus berprestasi, opsi mempromosikan potensi, serta menumbuhkan harmonisasi pemerintah daerah, desa, masyarakat, dan penggiat pariwisata.

Baca juga: Pulau Alang Tiga, Wisata Bahari dengan Menara Suar Muci Belanda

Melalui ADWI, Kemenparekraf mengajak masyarakat desa untuk menggali potensi pariwisata yang menjadi kebanggaan Indonesia melalui tujuh aspek penilaian. Yakni daya tarik pengunjung, homestay, toilet umum, suvenir, digital dan kreatif, CHSE dan Kelembagaan.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Sandiaga Uno menyampaikan, ADWI 2022 diikuti 3.419 desa wisata di seluruh Indonesia. Pencapaian tersebut, kata dia, melebihi target dari tahun sebelumnya dan merupakan bentuk apresiasi dan antusiasime yang sangat tinggi dari masyarakat seluruh Indonesia.

“Selamat kepada desa wisata ADWI 2022. Jadikan pencapaian ini sebagai motivasi untuk terus tetap mengembangkan desa wisata yang berkualitas dan berkelanjutan untuk Indonesia bangkit,” katanya, Selasa 19 April 2022 malam.

Berikut daftar 4 desa wisata di Kepri

1. Kampung Tua Bakau Serip (Pokdarwis Pandang Tak Jemu) Kota Batam.

Desa wisata Kampung Tua Bakau Serip berada di kawasan Teluk Mata Ikan, dekat dengan makam Nong Isa, Jalan Hang Lekiu Km. 4, Kelurahan Sambau, Nongsa. Kampung ini merupakan salah satu kampung tertua di Batam yang juga merupakan pusat pemerintahan pertama di wilayah ini.

Desa Wisata Kampung Bakau Serip memiliki potensi wisata alam dengan keberagaman flora dan fauna, konservasi mangrove, edukasi, serta wisata pantai.

Ekowisata Mangrove Pandang Tak Jemu menempati area seluas kurang lebih tujuh hektare. Dalam area tersebut dibangun berbagai fasilitas untuk menunjang wisata, seperti panggung kesenian dan budaya. Ada juga tracking mangrove restoran seafood, selfie area, toko cinderamata, toko sewa alat, serta dilengkapi panggung pertunjukan seni dan wifi area.

Tak hanya fasilitas penunjang wisata, di Mangrove Pandang Tak Jemu pun dilengkapi fasilitas penunjang kenyamanan wisata. Seperti kamar mandi umum dan mushola.

2. Desa Wisata Resun, Kabupaten Lingga

Desa wisata Resun memiliki air terjun dan pemandian alami di Desa Resun, Kecamatan Lingga Utara, Kabupaten Lingga.

Kawasan air terjun Sungai Resun ini ibarat Amazon-nya Kepri. Memiliki pemandangan alam yang eksotis dengan aliran sungai berkelok di antara rimbunnya hutan mangrove.

Setiap harinya banyak pengunjung yang mendatangi objek wisata air terjun Sungai Resun, terutama saat hari libur. Airnya jernih dengan bebatuan berbagai ukuran menjadi daya tarik tersendiri bagi anak-anak untuk berenang.

3. Desa Wisata Benan, Kabupaten Lingga

Pulau Benan terletak di Kecamatan Katang Bidare, Kabupaten Lingga. Pulau ini tidak jauh dari Kota Tanjungpinang maupun Batam, jarak tempuh kurang lebih satu jam perjalanan menggunakan kapal fery. Terletak di pintu masuk Kabupaten Lingga, sehingga cukup mudah untuk menjangkau pulau ini.

Gugusan pulau di Kecamatan Katang Bidare ini memiliki pantai berpasir putih dan pemandangan bawah laut berupa berbagai macam jenis koral dan ikan beraneka ragam. Adapun kegiatan yang biasanya dilakukan di kawasan ini adalah diving, snorkeling, glass bottom boat (berkeliling pulau dengan kapal ketamaran), canoing , memancing, serta menyusuri hutan bakau.

Sedangkan atraksi lainnya yang ada di Pulau Benan yaitu atraksi budaya seperti silat, joged dangkong, dan tarian tradisional lainnya. Benan juga merupakan salah satu lokasi yang menjadi titik labuh bagi kapal -kapal yatch yang berasal dari luar negeri.

4. Desa Wisata Mekar Jaya, Kabupaten Natuna

Desa wisata Mekar Jaya berjarak sekitar 70 kilometer dari Ranai, Kabupaten Natuna, dengan jarak tempuh kurang lebih 1 jam 30 menit.

Desa ini memiliki destinasi wisata mangrove yang ditata sejak September 2018, melalui swadaya masyarakat desa. Swadaya ini berhasil membangun 120 meter jalur pejalan kaki, di sepanjang bibir sungai hutan mangrove mereka.

Di bulan Maret 2019 lalu, ada restoran berbentuk kepiting selesai dibuat. Kini, destinasi Mangrove park Desa Mekar Jaya Natuna, semakin banyak pembenahan. Jalur khusus pejalan kaki pun, kini sudah mencapai 900 meter, sejumlah gazebo dan beberapa spot foto pun sudah tersedia. Akses jalan di sekitar desa juga sudah teraspal rapi. (re)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *