Connect with us

News

HUT ke-57 Lemhannas, Bung Karno dan Ketahanan Nasional Era Geopolitik 5.0

Published

on

Lemhannas RI peringati HUT ke-57

BatamEkbiz.com – Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-57 dengan mengusung tema ‘Transformasi Lemhannas RI: Ketahanan Nasional Era Geopolitik 5.0’. Salah satu rangkaian kegiatannya adalah ziarah dan tabur bunga ke Makam Bung Karno di Blitar, Jawa Timur pada Jumat, 13 Mei 2022.

Gubernur Lemhannas RI, Andi Widjajanto, mengatakan bahwa ziarah dan tabur bunga ini bukan sekadar seremonial semata. Namun sebagai bentuk penghormatan kepada Bung Karno sebagai sosok yang sangat berjasa dan penting bagi Lemhannas.

Selain itu, kegiatan ini juga merupakan salah satu upaya merawat semangat, ide, dan pemikiran Bung Karno. Terutama dalam bidang ketahanan nasional sebagai entitas bangsa dan negara.

Baca juga: Pererat Silaturahim, DPD IKAL-Lemhannas Kepri Buka Puasa Bersama

Ziarah dan tabur bunga ke Makam Bung Karno merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan Lemhannas RI. Namun sempat terhenti selama pandemi Covid-19.

Kenapa Makam Bung Karno? Karena Bung Karno merupakan pencetus gagasan mengenai Pancasila, Tokoh Proklamator bersama Bung Hatta, Presiden Pertama Republik Indonesia, dan tokoh penting melalui gagasannya membentuk serta meresmikan Lemhannas RI.

Institusi yang berorientasi pada pencapaian tujuan nasional Indonesia, melalui bidang pendidikan pimpinan tingkat nasional, pengkajian strategis, dan pemantapan nilai-nilai kebangsaan ini dibentuk oleh Bung Karno pada 20 Mei 1965.

Baca juga: Andi Widjajanto, Gubernur Lemhannas dari Sipil dan Putra Jenderal

Salah satu urgensi nasional dalam menyelamatkan serta melestarikan cita-cita proklamasi kemerdekaan, tujuan Bangsa Indonesia, dan terjaminnya kelangsungan hidup bangsa Indonesia akibat dinamika geopolitik yang terjadi saat itu adalah membentuk Lemhannas RI.

Pada saat pembentukan Lemhannas RI, Bung Karno selaku Presiden Pertama RI memberikan pidato tentang Geopolitik pada kuliah pertamanya. Hal inilah yang membuat Lemhannas RI sering disebut sebagai sekolah yang mempelajari geopolitik dan pertimbangan HUT ke-57 Lemhannas RI mengangkat tema Geopolitik 5.0.

Tema ini juga sesuai dengan arahan Presiden Joko Widodo usai melantik Gubernur Lemhannas RI bulan Februari 2022 lalu.

Baca juga: DPD IKAL-Lemhannas Kepri Peduli Bagikan Sembako untuk Warga Tionghoa di Klenteng

Gubernur Andi melakukan ziarah dan tabur bunga bersama jajaran pimpinan Lemhannas RI. Di antaranya Wakil Gubernur Lemhannas RI Mayor Jenderal TNI Mohamad Sabrar Fadhilah, Sekretaris Utama Lemhannas RI Komisaris Jenderal Polisi Purwadi Arianto, Deputi Pendidikan Pimpinan Tingkat Nasional Mayor Jenderal TNI Sugeng Santoso, Deputi Pengkajian Strategis Reni Mayerni, Deputi Kebangsaan Laksamana Muda TNI Prasetya Nugraha, dan Para Pejabat Struktural Lemhannas RI.

Sebelumnya, Gubernur Andi menyampaikan mengenai tantangan geopolitik nusantara. Nusantara memiliki kerawanan eksternal tinggi di seluruh matra, baik darat, maritim, maupun udara. Sebagai catatan, Indonesia sampai hari ini tidak memiliki gelar pertahanan anti rudal. Jangankan Indonesia, bahkan AS, NATO, dan China sampai hari ini tidak punya kemampuan untuk menangkal rudal hypersonic. Oleh karena itu, kendali ruang dirgantara nasional menjadi wajib dan komando operasi udara nasional akan menjadi signifikan karena pertempuran utama akan bersifat dirgantara.

Pada segi perbatasan darat, ibu kota akan semakin mendekat ke perbatasan darat dengan Malaysia. Dalam aspek maritim, TNI Angkatan Laut akan mengkoordinasikan gelar baru di Armada I, II, dan III. Untuk aspek maritim juga mendekati ALKI III di mana menjadi tempat lalu lalang kapal-kapal perang dan kapal-kapal selam.

“Nusantara akan mendekati pangkalan-pangkalan militer negara-negara besar yang ada, terutama di utara kita,” tuturnya.

Mencermati hal di atas, pertahanan ibu kota cenderung akan membuat Indonesia memodifikasi paradigma pertahanan. Menurut Gubernur Lemhannas RI, yang dapat dilakukan adalah mengembangkan indeks pertahanan dan strategi pertahanan dengan mementingkan kemampuan untuk melakukan mobilisasi strategis atau evakuasi. Sehingga jika ibu kota ada indikasi diserang oleh kekuatan yang jauh lebih besar dari Indonesia, maka evakuasi dapat dilakukan untuk memastikan komando dan kendali politik militer tetap ada.

“Sebagian besar negara sekarang menyiapkan infrastruktur-infrastruktur vital cadangan untuk memastikan komando dan kendali politik militer tetap ada walaupun ibu kotanya, misalnya, tidak lagi bisa efektif menjadi pusat kendali,” kata Gubernur Andi.

Oleh karena itu, secara doktrin harus benar-benar disiapkan. Supaya jika ibu kota sedang tidak bisa dikendalikan, tidak dianggap sebagai kekalahan dan tidak dianggap sebagai kemenangan lawan. Karena strategi dasarnya adalah pertahanan dalam dan berlapis yang menyiapkan ruang manuver dalam.

“Yang bisa dilakukan adalah doktrin kemenangan dan kekalahannya betul-betul harus disiapkan untuk menjaga semangat militansi perjuangan dalam kerangka pertahanan berlapis dan perang berlarutnya,” pungkas Gubernur Andi. (re)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *