Aktivitas Proyek Ancam Ketersediaan Air Baku, Ini Reaksi Panbil Group
Penggundulan hutan dan aktivitas pembangunan di sekitar kawasan Taman Wisata Alam atau Waduk Muka Kuning, Batam, Rabu (14/10/2020).

BatamEkbiz.com – Aktivitas proyek pematangan lahan di sekitar kawasan industri Panbil Group dikhawatirkan mengancam kerusakan lingkungan dan menipisnya ketersediaan air baku di Batam. Kondisi lingkungan di sekitar kawasan Waduk Muka Kuning sendiri, saat ini sangat memprihatinkan. Air yang keruh, waduk yang dangkal, dan hutan gundul akibat penebangan pohon terlihat di sekeliling waduk.

Namun Panbil Group membantah kekhawatiran kerusakan lingkungan yang makin parah dan menipisnya ketersediaan air baku tersebut. Menurutnya, pihaknya sudah mengantongi izin atas aktivitas pengembangan lahan di kawasan itu.

“Kami tegaskan bahwa seluruh kegiatan pengembangan lahan telah dilengkapi dengan izin yang diperlukan. Termasuk perizinan terkait status legalitas lahan, lingkungan hidup, dan pematangan lahan,” kata Direktur Lingkungan Panbil Group, Teddy Tambunan kepada media, Jumat (29/10/2021).

Kondisi di lapangan justru memperkuat kekhawatiran tersebut. Pantauan batamekbiz.com, lereng hutan yang sebelumnya lebat dengan pepohonan sudah berubah menjadi jalan tanah yang menghubungkan sebuah kawasan industri hingga sekitar waduk. Sebagian kawasan hutan lindung itu rata dengan tanah, tak ada lagi pepohonan lebat sebagaimana di pinggir hutan.

Gundulnya hutan dan aktivitas pembangunan inilah yang disinyalir menjadi penyebab kerusakan lingkungan serta terjadinya keruh dan pendangkalan waduk. Jika dibiarkan dan tak segera diantisipasi, maka ketersediaan air baku dari Waduk Muka Kuning bakal semakin menyusut, bahkan kosong.

Kondisi itu disesalkan masyarakat sekitar dan para aktivis lingkungan di Kota Batam. Pando, pemuda Perumahan Otorita Mukakuning, mengaku sudah mengetahui adanya aktivitas cut and fill dan pembalakan hutan di kawasan itu sejak setahun lalu.

“Ini di bagian pinggirnya saja masih terlihat seperti hutan, banyak pohon-pohonnya. Masuk ke dalam hutan, sudah habis semuanya, ditebangi dan gundul,” ungkapnya.

Hendri, Ketua Akar Bhumi Indonesia juga prihatin dengan gundulnya hutan di sekitar kawasan Waduk Muka Kuning. Tidak hanya kerusakan lingkungan yang sudah terjadi saat ini yang ia khawatirkan, namun juga ancaman longsor dan kekeringan yang dapat menurunkan debit air di Waduk Muka Kuning.

“Persediaan air di Kota Batam diambang kritis, antara lain disebabkan kegiatan ilegal, baik di genangan waduk maupun di daerah tangkapan airnya yang merupakan kawasan hutan lindung,” katanya.

Menurut Hendri, kerusakan hutan lindung di sekitar Waduk Muka Kuning sudah berlangsung lebih dari setahun lalu. Bermula dari kebijakan pengembangan kawasan industri, dan kini merambah ke kawasan wisata, sehingga terjadi pengurangan kawasan hutan secara besar-besaran.

Baca juga: Penggundulan Hutan Ancam Pendangkalan Waduk Muka Kuning

Keberadaan hutan lindung di sekitar Waduk Muka Kuning ini sangat vital, sebagai daerah resapan air. Mengingat sumber air bersih di Batam hanya mengandalkan air tadah hujan. Jika kawasan hutan ini rusak oleh aktivitas pembangunan yang tidak ramah lingkungan, maka akan semakin mempersempit daerah resapan air yang berdampak pada berkurangnya debit air dan pemenuhan ketersediaan air bagi masyarakat Batam.

“Kami mendorong pihak terkait untuk menghentikan kerusakan lingkungan yang semakin parah di sekitar Waduk Muka Kuning dan meminta pihak terkait tidak memberikan izin atau mengevaluasi aktivitas apapun, apalagi pembangunan yang merusak lingkungan, untuk menjaga daerah resapan air di Kota Batam,” katanya. (re)