Pemberian gelar merupakan wujud pengakuan sebuah lembaga adat bagi seseorang yang memiliki kontribusi nyata dalam kehidupan dan pengaruh besar di masyarakat. Begitu juga dengan gelar yang diberikan Lembaga Adat Melayu (LAM) Batam, setahun lalu, kepada sebelas tokoh masyarakat di Batam. Yang menarik, seorang penerima gelar Datok adalah Amat Tantoso, satu-satunya etnis Tionghoa yang dianggap telah memberikan kontribusi besar di bidangnya dalam pembangunan Kota Batam.

Bagi pria kelahiran Kundur, Karimun, 45 tahun lalu, gelar ini merupakan suatu kebanggaan dan kehormatan. Gelar Datok yang disandangnya, membuatnya untuk lebih peduli dalam memelihara dan membesarkan budaya melayu, serta memberikan peran positif dalam meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat melayu.

“Saya memiliki kewajiban membesarkan budaya melayu, dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung,” ujarnya, Selasa (8/7/2014).

Menurut pria yang gemar berorganisasi ini, peran etnis Tionghoa sangat lekat dalam sejarah Melayu. Bahkan eratnya hubungan dan saling ketergantungan antara etnis Tionghoa dan Melayu masih terjalin hingga kini.

Ia mencontohkan pengalaman masa kecil di kampungnya yang penduduknya didominasi warga Melayu. Salah satu wujud saling ketergantungan di antara mereka, adalah saat warga Melayu yang pekerjaannya sebagai nelayan sulit mendapatkan hasil melaut.

Saat musim angin utara tiba, nelayan susah mendapatkan hasil tangkapan ikan. Untuk memenuhi kebutuhan pangan para nelayan yang tidak bisa melaut, keluarga Amat Tantoso menjadi tempat bergantung. Begitu musim angin utara usai, nelayan yang melaut, hasil tangkapannya akan dijual ke keluarga Amat Tantoso.

“Kami saling membantu jika ada masyarakat di lingkungan sekitar kesulitan,” ujarnya.

Untuk membesarkan budaya melayu secara meluas, salah satunya dilakukan Amat Tantoso dengan membuat baju dan kaos pantun. Pantun merupakan budaya khas Melayu. Selain untuk lebih memperkenalkan melayu, pembuatan kaos pantun juga menjadi sarana untuk meningkatkan ekonomi masyarakat.

“Ada ratusan jenis kaos pantun yang sudah dibuat. Yang membeli, kebanyakan para wisatawan,” pungkasnya. (R02)