BatamEkbiz.Com — Asman Abnur, pria kelahiran 2 Maret 1961 ini, mengawali karirnya sebagai politikus pada tahun 1990. Di usianya yang baru sekitar 29 tahun, suami Dra. Zasjuniarti ini dipercaya sebagai Ketua Asosiasi Perdagangan Valuta Asing Batam periode 1990-1992.

Tiga tahun kemudian, 1995-1998, ia memegang jabatan penting sebagai Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Batam. Dari HIPMI, jabatan organisasinya meningkat pada 1999-2004, sebagai Ketua Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Kota Batam. Kemudian sebagai Ketua Tim Pengkajian Free Trade Zone (FTZ) Batam pada 2000-2001, dan Ketua Badan Amil, Zakat, Infak, dan Sodaqoh (BAZIS) Batam 2000-2004.

Karir politik ayah dua anak ini kian cemerlang pada Oktober 2000, dengan menjabat sebagai Anggota DPRD Kota Batam. Kemudian pada Maret 2001 mengundurkan diri, karena mendapat kepercayaan sebagai Wakil Walikota Batam.

Seakan tak pernah puas dengan apa yang telah diraihnya, sekitar dua tahun sebagai Wakil Walikota Batam, Asman Abnur mengundurkan diri, karena mendapat kepercayaan partainya, Partai Amanat Nasional (PAN) untuk maju sebagai Calon Anggota DPR RI dari dapil Provinsi Kepri di Pemilu 2004. Asman Abnur akhirnya terpilih dan berhasil duduk sebagai anggota DPR RI, serta menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi XI DPR RI (2004-2009).

Dalam pemilu berikutnya, 2009, PAN menugaskan Asman Abnur untuk kembali maju ke DPR RI, dari dapil Provinsi Riau. Meski harus bertarung di dapil berbeda, hanya perlu empat bulan bagi Asman Abnur untuk kembali memperoleh kepercayaan masyarakat sebagai anggota DPR RI. Sebagai Anggota DPR RI (2009-2014), Asman Abnur ditugaskan partai sebagai Ketua Komisi X DPR RI, membidangi Pendidikan, Kebudayaan, Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Pemuda, Olahraga, dan Perpustakaan.

Selain menekuni dunia politik, Asman Abnur juga seorang pengusaha. Ia merintis usaha dari toko emas, dan kini berkembang ke usaha lainnya, seperti SPBU, restoran, apotik, mini market, BPR Konvensional dan syariah, hingga money changer.

“Saya punya prinsip, masa depan saya tetap di bisnis, politik itu pengabdian,” ujar Ketua Yayasan Masjid Jabal Arafah Nagoya ini.

Memiliki tanggung jawab yang lebih besar dan selalu mendapat kepercayaan orang di sekitarnya, sudah dialami pria kelahiran Padang Pariaman, Sumatera Barat ini sejak memasuki jenjang pendidikan Sekolah Dasar (SD). Asman Abnur mengenyam pendidikan dasarnya di SD Negeri 01 Kijang, Bintan pada 1967.

Berbeda dengan sekolah dasar lainnya, SD Negeri 01 Kijang memiliki murid yang didominasi etnis Tionghoa. Begitupun di kelas Asman Abnur belajar, hanya ia sendirilah siswa yang bukan dari etnis Tionghoa. Sedangkan siswinya, terdapat beberapa siswi yang asli Melayu diantara dominasi siswi etnis Tionghoa.

Berbeda suku, tak membuat Asman Abnur rendah diri ataupun enggan berbaur dengan teman di sekolahnya. Justru dengan komunikasi yang baik dengan lingkungannya, menjadikan Asman Abnur selalu mendapat kepercayaan untuk memimpin mereka sebagai Ketua Kelas. Sebagai Ketua Kelas, membiasakan Asman Abnur selalu siap maju dan berada di depan memimpin teman-teman sekelasnya.

Hal yang sama juga terulang saat Asman Abnur melanjutkan pendidikan ke Sekolah Menengah Ekonomi Pertama (SMEP), setingkat SMP pada 1973. Di sekolah yang mulai difokuskan untuk mempelajari ilmu ekonomi ini, menempatkan Asman Abnur di tengah siswa-siswi etnis Tionghoa. Dan teman-teman sekelasnya, juga mempercayakan Asman Abnur untuk memimpin mereka sebagai Ketua Kelas.

Tamat dari SMEP pada 1977, Asman Abnur melanjutkan pendidikan ke Sekolah Menengah Ekonomi Atas (SMEA) di Tanjungpinang. Di sekolah yang lingkungannya juga didominasi oleh etnis Tionghoa ini, Asman Abnur juga mendapat kepercayaan teman sekelasnya sebagai Ketua Kelas.

Kepercayaan dan tanggung jawab yang diberikan teman-teman kepadanya sebagai Ketua Kelas, bukanlah menjadi beban bagi Asman Abnur. Namun menjadi sarana bagi Asman Abnur untuk mampu menjaga dan menjalankan kepercayaan dengan baik, menempa jiwa kepemimpinannya, kreatif mencari solusi atas permasalahan yang ada di kelas, dan melatih kemampuan mengomunikasikan berbagai hal kepada semua orang.

Meski selalu mendapat tanggung jawab yang lebih besar dibanding siswa lainnya, tak membuat prestasi Asman Abnur di sekolah merosot. Di kelasnya, ia tetap mampu menjadi teladan dan selalu masuk dalam tiga besar siswa berprestasi.

Keinginan untuk aktif berorganisasi tak pernah surut, saat Asman Abnur melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi. Tamat dari SMEA Tanjungpinang, pada tahun 1980 Asman Abnur memilih masuk D3 Ekonomi Akuntansi di Universitas Andalas Padang. Dilanjutkan kemudian dengan menempuh pendidikan S1 di Universitas Ekasakti Padang dan S2 di Universitas Airlangga.

Sebagai mahasiswa, selain kuliah, Asman Abnur juga aktif berkecimpung di Senat Mahasiswa. Di organisasi internal kampus ini, ia dipercaya oleh para mahasiswa lainnya sebagai pengurus.

Memiliki pengalaman berorganisasi sejak dasar, jiwa kepemimpinan dan keaktifan Asman Abnur terus terbawa di lingkungan sekitarnya, termasuk saat menekuni usaha. Terbiasa berada di tengah lingkungan etnis Tionghoa, juga membuat Asman Abnur mudah bergaul dan memahami budaya warga Tionghoa yang rata-rata berjiwa wirausaha. (R02)