Berburu simpati, kandidat siapkan dana hingga ratusan miliar

  • Whatsapp

Jodoh, BatamEkbiz.Com – Kandidat yang akan bertarung di pilkada tahun ini tak hanya tengah berburu restu dukungan partai politik (parpol). Mereka juga sudah siap dengan anggaran. Nilainya beragam, bisa mencapai ratusan miliar.

Kandidat Gubernur Kepri Riki Syolihin contohnya, mengaku tidak mengkhawatirkan masalah pendanaan. Baginya, dana yang disiapkan untuk biaya maju sebagai Calon Gubernur Kepri terbilang cukup, tidak berlebih ataupun kurang.

“Kalau kami, modal urusan ke-17, yang penting saat dibutuhkan ada,” katanya santai saat dijumpai di bilangan Jodoh, Minggu (15/3/2015).

Riki mengungkapkan, sejak mendeklarasikan diri maju di pilgub Kepri pada September 2014 lalu, ia mulai bergerilya ke berbagai elemen masyarakat untuk memperluas dukungan. Kegiatan itu bukannya gratis, ada biaya operasional yang menyokong dari kocek pribadi. Apalagi ia bukan incumbent, yang bisa mendompleng program-program pemerintah untuk sosialisasi.

Biaya operasional inilah yang disebutnya sebagai cost politik, baik untuk mendekati konstituen maupun biaya sosial lainnya dalam bentuk sumbangan. Nilainya, antara Rp300-500 juta per bulan. Namun cost politik tersebut, ia nilai masih kecil, tak sebanding dengan kandidat incumbent seperti Gubernur Kepri Muhammad Sani dan Wakil Gubernur Soerya Respationo.

“Perkiraan saya, biaya mereka (Sani dan Soerya) 10 kali lebih besar, bisa Rp3-5 miliar sebulan, terlepas itu duit APBD atau siapa,” katanya.

Menurut Riki, untuk maju di pilgub Kepri, pasangan calon diperkirakan membutuhkan anggaran tak kurang dari Rp100 miliar. Anggaran itu di antaranya untuk biaya sosial, kampanye, dan operasional mesin politik lainnya.

Terkait masih minimnya anggaran yang ia keluarkan saat ini, ia mengaku tidak terlalu mengobral bantuan untuk masyarakat. Jika memang ada dana, maka akan dibantu semampunya, tapi kalau tidak ada, ya tidak dibantu. Ini berbeda dengan kandidat incumbent yang gencar turun ke masyarakat yang biasanya disertai dengan dukungan anggaran yang lebih besar.

“Kalau saya masih pantas menyumbang untuk suatu kegiatan Rp3-5 juta, kalau mereka (incumbent) tidak pantas nilai segitu. Kalau mereka turun berarti duit, kalau mereka suruh tim turun pasti duit. Kalau tim kami banyak yang relawan,” jelasnya.

Anggota DPRD Batam Nono Hadi Siswanto juga memperkirakan besarnya biaya politik yang harus disiapkan oleh kandidat yang akan maju di pilgub Kepri maupun pilwako Batam. Mengacu pengalamannya di pileg 2014, menurutnya untuk kandidat yang ingin maju di pilgub Kepri harus berani menyiapkan anggaran lebih dari Rp50 miliar. Sedangkan untuk di pilwako Batam, biayanya diperkirakan lebih dari Rp30 miliar.

“Jika kurang dari itu, sulit untuk mampu bersaing dengan kandidat lain,” katanya.

Besarnya anggaran yang dimiliki kandidat, oleh sebagian besar kalangan masih dianggap sebagai salah satu bentuk kesiapan untuk maju di pilkada. Ini ditandai semakin maraknya kegiatan yang dilakukan di masyarakat dengan menghadirkan kandidat-kandidat tertentu. Tak ada makan siang yang gratis, istilahnya bagi kandidat yang siap hadir dalam kegiatan tersebut. Apalagi jika kegiatan tersebut bisa menghadirkan massa dalam jumlah yang besar.

Saling menguntungkan. Bakal kandidat mendapat kesempatan untuk menyosialisasikan diri. Sementara pelaksana kegiatan mendapat anggaran untuk menjalankan programnya.

Kegiatan bisa dikemas berbagai rupa, sesuai latar belakang dan bidang yang digeluti. Pengurus rumah ibadah akan cenderung mengemas kegiatan dengan silaturahmi, peringatan hari besar, peresmian pembangunan gedung, dan lainnya. Sedangkan dari kalangan lainnya bisa mengemas dengan ngobrol atau ngopi bareng, pelantikan pengurus, dan seminar atau diskusi.

Silaturahmi Sani ke rumah ibadah di Kelurahan Mangsang, Seibeduk, pada 25 Januari 2015 contohnya. Di akhir kegiatan, Sani kemudian menyerahkan bantuan uang tunai kepada tiga perwakilan kelompok masyarakat yang masing-masingnya Rp10 juta. Sedangkan untuk membantu pembangunan rumah ibadah yang belum siap, dijanjikan bantuan Rp300 juta melalui APBD 2015.

“Perlu diketahui, masa jabatan saya akan berakhir Agustus 2015. Kalau saya tidak duduk lagi, maka tidak akan bisa meneruskan bantuan, apalagi sampai Rp5 miliar untuk bangun (rumah ibadah) sampai selesai. Insya Allah kalau saya duduk kembali, masjid akan saya bantu sampai selesai,” janjinya yang disambut jamaah dengan sumringah dan tepuk tangan.

Menurut Sani, ia tidak bisa terus-terusan menemui warga di satu tempat. Sebab dalam sehari, ia bisa menghadiri hingga empat kegiatan dan undangan. Dan kegiatan itu terkadang tidak di satu wilayah, tapi juga berbeda kabupaten/kota.

“Badan saya cuma satu, tidak bisa terus-terusan kesini, tapi juga harus menemui warga di tempat lain,” katanya.

Padatnya jadwal kegiatan tidak hanya dimiliki Sani, Soerya yang akan maju sebagai kandidat Gubernur Kepri di pilgub tahun ini juga penuh jadwal. Sehari, kadang bisa lebih dari enam undangan kegiatan dihadiri.

Jika dalam setiap kegiatan mengucurkan bantuan hingga Rp10 juta, maka dalam sehari bisa Rp50 juta yang harus disiapkan seorang kandidat. Bayangkan jika hal itu dilakukan secara terus menerus, anggaran yang dikeluarkan bisa mencapai Rp1,5 miliar sebulan hanya untuk aktivitas sosial.

Tim Pemenangan Soerya di pilgub Kepri, Saproni mengungkapkan, setiap tim kandidat tentu menyiapkan anggaran dalam suksesi kepemimpinan di daerah. Anggaran itu di antaranya disiapkan untuk berbagai keperluan, seperti kampanye, logistik dalam bentuk baliho, spanduk, dan atribut, saksi, dan operasional lainnya.

Namun besarnya biaya akan menyusut, karena pendanaan dilakukan secara gotong royong. Ada juga masyarakat yang secara sukarela membantu dan hadirnya relawan yang bergerak tanpa sokongan biaya operasional.

“Kalau koalisi partai sudah terbentuk, nantinya akan ketahuan berapa anggaran yang diperlukan dan akan dibicarakan bersama,” katanya.

Soerya masih enggan menyebut angka pasti anggaran yang akan telah disiapkan sebagai modal maju sebagai Calon Gubernur Kepri. “Kalau bisa semurah-murahnya. Kalau bisa dibawah Rp100 juta, ya Rp100 juta,” katanya. (R03)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *