Dulu untuk Pengungsi, Kini Disiapkan untuk Pasien Epidemi
Rumah Sakit Khusus Infeksi (RSKI) Pulau Galang, Kota Batam.

Bukan Pulau Kosong

Pulau Galang bukanlah pulau kosong. Jejak-jejak hunian, bahkan pembangunan, jelas terlihat di sana. Pulau ini pernah menjadi tempat penampungan pengungsi Vietnam, pada 1979- 1996.

Para pengungsi itu kabur dari negaranya setelah kemenangan komunis dan kejatuhan Saigon pada April 1975. Karena takut mendapat perlakuan buruk, mereka kabur menggunakan perahu untuk mencari suaka politik. Tak salah jika mereka kerap dijuluki manusia perahu.

Laporan berjudul “Pulau Galang Wajah Humanisme Indonesia: Penanganan Manusia Perahu Vietnam 1979-1996” terbitan Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi (Pustekkom) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mencatat bahwa awalnya ada 24 pengungsi yang mendarat di Pulau Laut pada 22 Mei 1975 atau sebulan setelah kejatuhan Saigon. Mereka ditampung di rumah-rumah penduduk dan beberapa bangunan yang disediakan pemda setempat.

Dalam perjalanannya, gelombang kedatangan manusia perahu makin membesar. Mereka tersebar di beberapa pulau. Melihat masifnya pengungsi itu, Indonesia bersama Badan Pengungsi PBB atau UNHCR (United Nations High Commissioner for Refugees) berniat menyatukan mereka dalam satu wilayah.

Soeharto yang kala itu menjabat sebagai presiden, memilih Pulau Galang sebagai lokasi penampungan mereka. Menurut data UNHCR, selama kurun waktu 1976-1989 jumlah pengungsi mencapai 170.000 orang.

Sebagai tempat penampungan, pemerintah bersama UNHCR membangun sarana dan prasarana di pulau itu. Untuk urusan fasilitas boleh dibilang cukup lengkap. Ada rumah sakit, tempat ibadah, rumah tahanan, sekolah bahasa, dan perkuburan. Jejak-jejak itu masih bisa dilihat hingga kini.

Sekitar 1988, Soeharto ingin mengembangkan Batam sebagai kawasan ekonomi yang bisa menyaingi Singapura. Soeharto pun menugaskan Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) kala itu, BJ Habibie. Habibie lantas menggenjot pembangunan di kawasan Batam dan sekitarnya. Bersamaan dengan rencana itu, pada 1989, Indonesia mulai membatasi kedatangan jumlah pengungsi dan secara perlahan mengembalikan mereka yang sudah tinggal di Pulau Galang ke negara asal.

Habibie pun mulai menata tiga pulau, yakni Batam, Rempang, dan Galang. Pada 1992, Habibie menginisiasi pembangunan jembatan yang bisa menghubungkan tiga pulau itu. Jembatan itu diberi nama jembatan Barelang, kepanjangan dari Batam, Rempang, dan Galang. Pada 1996, pemerintah Indonesia dan UNHCR pun benar-benar mengosongkan kamp pengungsian itu.

Ditinggal pengungsi, kamp yang berdiri di atas lahan 80 hektare itu benar-benar kosong. Tinggal bangunan. Tak lagi ada hiruk-pikuk suara manusia perahu di situ. Dibiarkan selama 24 tahun kondisi bangunan itu rusak di sana-sini.