Hotel PIH, tawarkan kenyamanan secara syariah

  • Whatsapp

Batam Centre, BatamEkbiz.Com — Kenyamanan menjadi salah satu faktor pilihan bagi sebagian besar orang saat harus menginap di hotel. Banyak pilihan untuk mendapatkan kenyamanan saat akan memilih menginap di hotel, apalagi jika hanya mengacu pada brosur ataupun iklan yang ditawarkan. Namun bagi keluarga muslim, hotel bernuansa Islami atau syariah menjadi pilihan kenyamanan tersendiri dibanding menginap di hotel umum.

Memang tidak banyak pemilik modal yang berani berinvestasi pada produk-produk syariah, apalagi untuk hotel dengan nilai investasi yang tidak sedikit. Satu sisi pemilik, pengelola dan manajer hotel menjadikan hotel sebagai sarana meraih untung. Mengingat investasi yang ditanam, sebagian fungsi bisnis hotel dibiarkan bebas nilai, yang penting modal cepat kembali berikut keuntungannya.

Akibatnya, ribuan masyarakat terutama generasi muda, tanpa peduli urusan moral dan berapa uang terkuras, tumpah ruah. Hotel tidak lagi tempat menginap warga pendatang atau turis mancanegara, tetapi berubah fungsi menjadi arena hiburan yang cenderung liar, bebas nilai dan jauh dari tuntunan agama. Seringnya razia polisi menjaring penghuni yang bukan suami istri serta terlibat narkoba, membuktikan hal ini.

Sementara untuk berinvestasi pada produk syariah, selain pangsa pasar menjadi terbatas, karena hanya berorientasi pada market muslim, juga masih minimnya umat Islam untuk mengedepankan prinsip-prinsip Islami dan religius saat memilih hotel sebagai tempat menginap. Namun bukannya tidak ada, Hotel Pusat Informasi Haji (PIH) Batam contohnya yang berkomitmen menerapkan manajemen syariah dalam seluruh proses dan fasilitas yang dimilikinya.

Ada beberapa aspek, unsur dan sub unsur kategori hotel syariah, yakni meliputi produk, pelayanan, dan pengelolaan. Selain pada bentuk bangunan yang dimilikinya, nuansa Islami semakin terlihat saat kita memasuki Hotel PIH. Seperti penerima tamu dan receptionis hotel yang menyambut dengan “Assalamu’alaikum”, informasi jadwal waktu sholat dan adzan, hingga tersedianya tempat berwudhu yang representatif, terpisah antara laki-laki dan perempuan serta tersedianya musholla. Begitupun di kamar tamu, juga tersedia penunjuk arah kiblat di langit-langit, sajadah serta Al Qur’an di setiap kamarnya.

Hotel yang dikelola dan dikembangkan dengan nuansa Islami atau syariah ini, tidak menyediakan karaoke, minuman keras dan fasilitas lain yang mengarah kepada perbuatan maksiat dan melanggar agama. Hotel PIH juga melakukan seleksi ketat kepada tamu yang akan menginap, untuk menjadikan sebagai penginapan keluarga yang nyaman dan jauh dari suasana hiburan ala tempat hiburan malam (THM).

Dari sisi pelayanan dan fasilitas, meski mengusung konsep syariah, PIH tidak mau kalah profesional dibanding dengan pelayanan dan fasilitas hotel hotel umum sekelasnya. Mulai dari room service 24 jam, restoran, ruang rapat, loby, akses Wi-Fi, taman, lapangan tenis, layanan laundry/dry cleaning, dan aula yang luas.

Hotel PIH semakin populer di kalangan masyarakat muslim Kepri dan pelancong luar daerah serta mancanegara karena nuansa Islaminya. Apalagi dengan lokasinya yang strategis di kawasan pusat kantor pemerintahan, di jalan Engku Putri Batam Centre.

Manager Hotel PIH, Hanafi mengaku tidak khawatir dengan konsep syariah yang diusung manajemen hotelnya. Animo tamu dan konsumen diprediksi akan terus meningkat, seiring kesadaran muslim untuk mengutamakan nilai-nilai Islam dalam setiap kehidupannya.

“Kita tidak menerima tamu yang bukan suami istri, dan tamu yang membawa minuman keras dengan tegas kita tolak. Restoran kita juga sudah memiliki sertifikat halal dari LPPOM MUI,” ujar Hanafi.

Adanya sertifikat halal atau Sistem Jaminan Halal (SJH), menurutnya justru semakin meningkatkan kepercayaan tamu-tamu muslim berkunjung di hotel PIH. Terutama tamu-tamu muslim dari luar daerah maupun dari negara luar berpenduduk mayoritas muslim seperti Malaysia.

Tren nuansa Islam di Hotel akan semakin terlihat saat bulan puasa atau Ramadhan tiba. Hampir setiap hari, berbondong-bondong umat muslim berbuka puasa bersama di hotel. Tren ini juga diiikuti umat non muslim lainnya, dan hampir terjadi di seluruh hotel, baik yang telah bersertifikat halal maupun hotel yang tidak memiliki sertifikat halal.

Terbukti, meski tingkat penghunian kamar (TPK) hotel berbintang di Kepri cenderung menurun, Hotel PIH masih mampu mempertahankan TPK rata-rata sekitar 55% setiap bulannya. Bahkan pada bulan-bulan tertentu, seperti Januari dan Februari, TPK bisa lebih tinggi.

Pada Agustus 2013, tingkat penghunian kamar (TPK) hotel berbintang di Kepri mencapai rata-rata 47,82%, atau turun 3,61 poin dibanding TPK Juli 2013 sebesar 51,43%. Dengan rata-rata lama menginap tamu asing dan Indonesia pada hotel berbintang di Kepri pada Agustus 2013 adalah 2,04 hari.

Sementara TPK hotel berbintang di Kepri pada September 2013 meningkat mencapai rata-rata 47,95 atau naik 0,14 poin dibanding TPK Agustus 2013. Pada September 2013 TPK hotel berbintang di Kepri lebih kecil 6,16 poin dibanding dengan TPK hotel berbintang secara nasional, dimana rata-rata TPK Nasional mencapai 54,11 persen.

“Konsep syariah ini, sebenarnya tidak hanya untuk umat Islam saja, namun juga bisa digunakan seluruh umat. Memang perlu proses untuk mengembangkan produk syariah di Batam ataupun Kepri,” pungkas Hanafi. (R02)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *