Connect with us

Batam

Implementasi Ganda Kebijakan Walikota

Published

on

Prev1 of 2
Use your ← → (arrow) keys to browse

Batam, batamekbiz.com – Meringankan beban masyarakat terdampak pandemi virus corona (Covid-19), Pemko Batam menyalurkan bantuan sembako. Sayangnya, penyaluran bantuan ini minim koordinasi dan pengawasan, sehingga implementasi di lapangan berbeda-beda. Ada perangkat RT menyusutkan paket bantuan, ada juga yang meminta warga menjemput sendiri ke rumah RT, sehingga memicu kerumunan dan mengabaikan protokol pencegahan penularan Covid-19.

Menyusutnya paket bantuan itu dialami warga Sei Lekop, Kecamatan Sagulung. Dalam penyaluran tersebut, pemerintah sudah mengemas untuk setiap keluarga yang telah terdata akan menerima satu paket berisi 5 kg beras, 2 liter minyak goreng, dan 1 kg gula. Sampai ke warga, bantuan itu tinggal separuhnya, 2,5 kg beras, 1 liter minyak goreng, dan 0,5 kg gula.

“Bantuan nya kok nyusut pak?” kata seorang warga sebagaimana dilansir sebuah media online di Batam.

Temuan itu langsung menyulut emosi Wakil Walikota Batam, Amsakar Achmad. Melalui postingan di facebooknya, Amsakar meminta camat dan lurah mengecek kebenaran informasi media online tersebut. Jika benar, ia meminta pelakunya diusut. Namun jika tidak, ia meminta untuk diproses secara hukum. Esoknya postingan yang banyak tanggapan dari warga netizen tersebut dihapus.

Usut punya usut, menyusutnya paket sembako itu diduga karena ulah perangkat RT. Mereka berlindung berdasarkan kesepakatan warga, supaya paket sembako bisa merata diberikan kepada seluruh warga.

Padahal, penyaluran bantuan seharusnya mengedepankan prinsip tepat sasaran dan tepat jumlah, karena tidak semua warga mendapatkannya. Tepat sasaran berarti hanya warga yang sudah terdata dan dilaporkan saja yang berhak menerima. Warga lainnya tidak berhak, entah karena tergolong mampu atau sudah mendapat bantuan reguler dari pemerintah pusat berupa program keluarga harapan (PKH). Sehingga bantuan yang diberikan tidak menumpak di satu warga.

Pendataan dan pelaporan warga yang berhak menerima bantuan sembako ini sudah melalui proses panjang. Mulai dari pendataan dan pemilahan oleh RT/RW, kemudian dilaporkan secara berjenjang ke kelurahan, kecamatan, hingga Pemko Batam. Jadi tidak asal-asalan dan bisa diubah berdasarkan keinginan RT/RW.

Sedangkan tepat jumlah, berarti bantuan yang diberikan harus sesuai dengan kemasan yang telah diatur oleh pemerintah. Mengurangi kemasan sama saja dengan mengurangi haknya penerima dan ini berbahaya.

Tidak hanya penyusutan paket bantuan, implementasi dalam penyaluran bantuan kepada warga juga berbeda. Ada perangkat RT yang meminta warga penerima menjemput sendiri bantuan ke rumahnya. Namun ada juga yang mengikuti instruksi Walikota agar perangkat RT mengantar sendiri ke rumah-rumah warga penerima.

Prev1 of 2
Use your ← → (arrow) keys to browse

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *