Ironi Pandemi di Batam, Mal Bebas Buka, Masjid Ditutup

  • Whatsapp

Batam, BatamEkbiz.com – Penanganan penyebaran virus corona (Covid-19) di Batam dikhawatirkan bisa gagal total jika tempat-tempat keramaian tidak dilakukan pembatasan. Pusat-pusat perbelanjaan serta mal bebas buka, dan sekarang mulai diserbu warga. Sementara masjid-masjid ditutup, dilarang berkumpul, tarawih, dan salat Jumat berjamaah.

Di beberapa mal di Batam, seperti Mega Mal dan Panbil Mal, pembatasan hanya terlihat saat antrean di depan kasir. Terlihat tanda silang di lantai dan pengumuman untuk menjaga jarak antrean sekitar satu meter.

Bacaan Lainnya

Sementara di tangga lift dan lokasi barang yang dipajang, tidak ada pembatasan. Kerumunan dan pengunjung yang berjejal atau berdesak-desakan dibiarkan tanpa ada teguran.

“Mal-mal di Batam tampak lebih ramai dari sebelum-sebelumnya, karena banyak toko yang tutup. Sementara masjid tetap diminta tutup, pengajian juga diliburkan. Bisa-bisa melonjak lagi pasien corona di Batam,” kata Sidik, warga Batam Centre, menilai adanya perbedaan kebijakan daerah untuk mal dan masjid.

Tidak hanya di Batam, kebijakan ganda di tempat-tempat yang berpotensi memicu keramaian ini juga terjadi di beberapa daerah di Indonesia. Kondisi ini juga menjadi sorotan Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI), Anwar Abbas, mempertanyakan sikap pemerintah yang melarang penduduk berkumpul di masjid, tetapi tidak tegas melarang orang-orang yang berkumpul di bandara, tempat perbelanjaa,n hingga perkantoran saat pandemi virus corona.

Anwar menilai perbedaan sikap tersebut justru menjadi ironi di situasi seperti saat ini. Sebab usaha untuk memutus mata rantai penyebaran virus corona menjadi tidak maksimal.

“Dimana di satu sisi kita tegas dalam menghadapi masalah, tapi di sisi lain kita longgar. Pemerintah hanya tegas melarang orang untuk berkumpul di masjid tapi tidak tegas dan tidak keras dalam menghadapi orang-orang yang berkumpul di pasar, di mall, di bandara, di kantor dan di pabrik-pabrik serta di tempat-tempat lainnya,” kata Anwar dalam keterangan resminya, Minggu (17/5/2020).

MUI telah menerbitkan fatwa supaya umat Islam di daerah yang berada dalam tingkat penyebaran virus corona yang cukup tinggi supaya beribadah di kediaman masing-masing. Menurut Anwar, langkah itu sudah tepat untuk membantu pemerintah menekan laju penyebaran corona.

Dia menilai fatwa MUI justru menjadi instrumen oleh pemerintah guna mencegah orang berkumpul di masjid dalam melaksanakan salat Jumat dan salat berjamaah. Bahkan, lanjut dia, di beberapa daerah para petugas menggunakan pengeras suara mengingatkan masyarakat tidak berkumpul di masjid.

Sebaliknya, Anwar heran di bandara, pasar, pusat perbelanjaan dan perkantoran justru tidak terlihat aparat yang melarang masyarakat berkumpul karena rawan penyebaran corona.

Melihat persoalan itu, Anwar meminta agar pemerintah tak pandang bulu dalam menegakkan aturan. Bila pemerintah melarang orang untuk berkumpul di masjid, lanjut dia, seharusnya hal yang sama juga diterapkan lokasi lain.

“Tujuannya adalah agar kita bisa memutus mata rantai penularan virus ini secara cepat,” kata Anwar. (re)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *