KEK Galang Batang Realisasikan Investasi Rp11 Triliun

  • Whatsapp
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto didampingi sejumlah menteri meninjau Pelabuhan KEK Galang Batang Bintan, Sabtu (26/9/2020).

Bintan, BatamEkbiz.com – Pemerintah terus mendorong pembangunan kewilayahan melalui kebijakan percepatan pembangunan infrastruktur ekonomi. Salah satunya adalah Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Galang Batang di Bintan, Provinsi Kepri.

Dampak KEK Galang Batang terhadap perekonomian hingga saat ini sudah cukup baik dan akan terus ditingkatkan. Hingga September 2020, realisasi investasi di kawasan ini mencapai Rp11 triliun. Sementara realisasi penyerapan tenaga kerja dalam tahap pembangunan sebanyak 3.500 orang.

Bacaan Lainnya

“Ini luar biasa dan diharapkan bisa terus bertambah serta memberikan multiplier effect yang lain,” ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto selaku Ketua Dewan Nasional KEK saat meninjau KEK Galang Batang, Sabtu (26/9/2020).

KEK Galang Batang berada di Pulau Bintan, mempunyai akses langsung dengan Selat Malaka dan Laut China Selatan. KEK Galang Batang diusulkan oleh badan usaha PT Bintan Alumina Indonesia dan telah ditetapkan melalui Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2017 yang diundangkan pada 12 Oktober 2017 dan diresmikan beroperasinya pada 8 Desember 2018.

Baca juga: Bintan Ekspor 128 Ton Olahan Kelapa ke Jerman dan India

KEK Galang Batang akan dikembangkan sebagai sentra industri pengolahan mineral hasil tambang (bauksit) dan produk turunannya, baik dari refinery maupun dari proses smelter. Nilai investasi pembangunan kawasan ini sebesar Rp36,25 triliun hingga tahun 2027.

Saat ini KEK Galang Batang sedang melakukan beberapa pembangunan infrastruktur dan utilitas kawasan, refinery alumina, power plant, serta ditargetkan akan melakukan ekspor perdana sebanyak 1 juta ton Smelting Grade Alumina (SGA) pada tahun 2021.

“Ini adalah suatu milestone tersendiri, karena sebelumnya kita hanya mengekspor bauksit. Sekarang bisa diproduksi di sini,” ujar Menko Airlangga.

Ia pun menggarisbawahi pendekatan yang tidak hanya mendirikan industri aluminium atau alumina saja, melainkan juga industri tekstil. “Jadi ini adalah pendekatan yang unik dan tidak banyak dilakukan di berbagai pabrik lain. Bapak-bapak yang pria bekerja di pabrik baja, sedangkan yang wanita bisa bekerja di pabrik tekstil,” ungkap Airlangga. (re)