Kepri miliki lima kearifan lokal

  • Whatsapp

Batam Centre, BatamEkbiz.Com — Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Kepri menyebutkan, nilai-nilai kearifan lokal di Kepri semakin terbarukan dan sempurna dengan ditemukannya titik singgung yang kental dengan nilai-nilai Islam. Sehingga budaya Islam terserap ke dalam budaya lokal di Kepri, hingga mencapai bentuk seperti sekarang ini sebagai negeri melayu yang identik dengan Islam.

“Puncaknya adalah ketika Melayu Kepri mendeklarasikan bahwa “Adat Bersendikan Syara’, dan Syara’ Bersendikan Kitabullah”, yang kemudian diformulasikan Raja Ali Haji, seorang ulama sekaligus sastrawan dengan sebutan Gurindam 12,” ujarnya dalam Diskusi Publik dan Rakerda III (MUI) Provinsi Kepri bertemakan “Harmonisasi Dakwah dan Kearifan Lokal”di Hotel PIH Batam Centre, Jumat (27/9/2013) malam yang menghadirkan narasumber Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Amin Rais, Alaidin Koto (Guru Besar Universitas Islam Susqa Pekanbaru), dan Irwan Djamaluddin (Budayawan).

Muat Lebih

Asyari Abbas menceritakan, penyebaran Islam di Kepri, awalnya dengan memperkenalkan melalui keunggulan akhlak dan keagungan budi pekerti. Ulama sangat berperan dalam penyebaran Islam di Kepri dengan menggunakan metode pendekatan hati, perasaan, dan kemuliaan akhlak (tasawuf).

Kearifan lokal hidup dan memasyarakat yang dipraktekkan masyarakat Melayu Kepri secara turun temurun. Seperti Gurindam 12 yang berisikan nasihat dalam aturan yang hidup di masyarakat tentang agama, budi pekerti, pendidikan, moral, dan tingkah laku.

Terdapat lima nilai-nilai kearifan lokal yang telah memasyarakat sejak lama di negeri Melayu Kepri. Yakni “Adat Bersandikan Syara’, Syara’ Bersandikan Kitabullah”, “Dimana Bumi Dipijak Disitu Langit Dijunjung”, “Gurindam 12”, “Berpancang Amanah Bersauh Marwah”, dan “Patah Tumbuh Hilang Berganti, Takkan Melayu Hilang Dibumi”.

“Ini membuktikan bahwa nilai-nilai Islam sangat lentur dan tidak kaku, sehingga bisa bersenyawa dengan nilai-nilai kearifan lokal dalam menyempurnakan akhlak,” imbuhnya.

Namun dewasa ini, jelas Asyari Abbas, nilai-nilai Islam dan kearifan lokal di Provinsi Kepri mulai luntur dan pudar, seiring perkembangan globalisasi. Perkembangan globalisasi, dan hadirnya industrialisasi di Kepri, menyebabkan pergeseran terhadap nilai-nilai yang selama ini dipraktekkan masyarakat dan nilai-nilai yang diusung oleh Islam.

Kondisi ini mempengaruhi budaya lokal dan terbangun kultur dan karakter baru yang serba hedonistik, naterialistik, dan individualistik. Pergeseran nilai-nilai kearifan lokal dan nilai-nilai Islam oleh budaya asing yang tidak senyawa, mengubah karakter dan menyebabkan terjadinya degradasi moral masyarakat.

Untuk itu, akar budaya dan kearifan lokal perlu diperdalam lagi, untuk mencari titik temu antara nilai-nilai Islam dan asing. Agar nilai-nilai Islam tetap memasyarakat, dan tidak tergeser dengan nilai-nilai asing yang tidak sejalan dengan kearifan lokal. (R02)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *