Melestarikan Kuno di Kota Tua
Rental Sepeda Ontel Kota Tua di Jakarta.

BatamEkbiz.com – Sabtu (16/2/2013) sore itu, Suparno (57) masih terlihat berdiri di samping sepada tua yang tersusun berjajar di Kota Tua. Terdapat 10 barisan sepeda tua beraneka warna berjajar di halaman Museum Fisabilillah. Museum ini berada sekitar 20 meter tepat depan Kantor Pos Taman Fatahillah, Jakarta.

Di setiap sepeda, terletak dua topi bulat penutup kepala. Warnanya juga bervariasi, ada yang merah, putih, ungu, hijau, coklat dan kuning, menyesuaikan dengan warna sepeda.

Kepada pengunjung yang melintas di dekat jajaran sepedanya, ia menawarkan perjalanan ke-lima tempat wisata yang ada di sekitar Kota Tua. Yakni ke Pelabuhan Sunda Kelapa, Musium Bahari, Menara Syahbandar, Jembatan Kota Intan dan Toko Merah.

“Silakan, pakai sepeda keliling Kota Tua,” rayunya kepada para pengunjung Kota Tua yang sebagian adalah remaja itu.

Rental Sepeda Ontel, menjadi pekerjaan pria asal Kebumen, Jawa Tengah ini sejak 10 tahun lalu. Karena banyak orang yang akhirnya terjun ke pekerjaan yang sama, pembagian wilayah berdasarkan sistem kelompok. Dengan setiap kelompok terdiri atas 3-4 orang, dengan 1 orang sebagai pemandu (tour guide).

Sekitar 28 anggota menekuni rental sepeda ontel di Kota Tua atau terkenal dengan Batavia Lama (Oud Batavia) ini. Setiap kelompok menunggu lokasi usahanya dengan sepeda ontel berjajar mengitari halaman kampung tua. Masing-masing kelompok memiliki jarak sekitar 10 meter untuk memajang sepeda ontelnya.

Mereka menawarkan tarif rental sepeda ontel dengan hitungan jam per sepeda yang bisa untuk dua orang. Yakni Rp20 ribu per setengah jam dan Rp45 ribu-Rp50 ribu untuk masa waktu antara 1 hingga 1,5 jam. Tarif ini bisa lebih murah lagi jika pandai menawar.

Beroperasi rata-rata pukul 08.00 WIB hingga 19.00 WIB, setiap kelompok bisa menghasilkan Rp200 ribu jika pengunjung sepi. Namun jika ramai, penghasilan bisa mencapai Rp600 ribu untuk setiap kelompoknya.

Agus, pelaku rental sepeda ontel lainnya di halaman Museum Fatahillah juga menyampaikan hal yang sama. Pekerjaan itu ia lakoni sejak 2006 lalu, setelah memutuskan berhenti dari pekerjaan sebelumnya sebagai sopir angkot.

Baca juga: UKM Siap Pasok Produk Unggulan untuk Hotel dan Pariwisata

Ia beralasan, keinginan untuk menanamkan nilai-nilai sejarah bagi generasi muda, mendorongnya untuk menekuni rental sepeda ontel. Agus mendatangkan sepeda-sepeda kuno ini dari Jawa seharga Rp600 ribu. Harapannya, mampu menambah nuansa tempo dulu yang dapat menggali keinginan pengunjung mengetahui sejarah ibukota. Sehingga dapat meningkatkan kecintaan kepada bangsa yang melekat di setiap jiwa generasi muda.

“Mengunjungi tempat-tempat sejarah seperti ini lebih bagus bagi pelajar SMP atau SMA, daripada jalan-jalan ke mall. Di Kota Tua, mereka dapat melihat sisa-sisa bangunan peninggalan VOC,” katanya.

Meski demikian, semangat untuk menghidupkan nuansa kuno di Kota Tua terkadang menemui benturan. Seperti kutipan oleh Satpol PP sebesar Rp20 ribu kepada setiap anggota rental sepeda ontel. Ataupun membayar uang kebersihan Rp5 ribu setiap harinya kepada Ketua Rukun Warga (RW) sekitar.

“Padahal kutipan ini tidak ada dalam aturan pemerintah daerah, Gubernur juga melarang. Begitupun dengan uang kebersihan, kan sepeda ontel tidak ada sampahnya,” katanya kesal.***