Membangun Potensi Ekonomi Kerakyatan Melalui Kegiatan Koperasi Pemuda

  • Whatsapp

Kemiskinan yang dialami umat manusia di dunia, karena mereka tidak memiliki kemampuan memperoleh penghasilan yang layak untuk memenuhi kebutuhan minimum. Ketidakmampuan ini bersumber dari kurangnya pengetahuan dan pendidikan, sehingga peluang mendapatkan pekerjaan yang layak sangat kecil. Masyarakat Indonesia yang sebagian besar kondisi ekonominya berada di sekitar garis kemiskinan sangat rentan apabila terjadi kegoncangan ekonomi, maka merekalah yang paling cepat berubah dari posisi pas-pasan menjadi miskin. Jumlah masyarakat dalam kondisi seperti ini di Indonesia, hingga bulan maret 2014 adalah sebesar 28,28 juta orang (sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia).

Lalu muncul pertanyaan penting, pendidikan seperti apa yang dibutuhkan masyarakat menengah ke bawah ini, kenapa sampai dengan hari ini, setelah 69 tahun Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merdeka, dengan kekayaan sumber daya alam, suburnya tanah air kita dan letak geografis Negara kita yang strategis untuk perdagangan internasional, rakyat di Negara kita ini masih saja banyak yang belum hidup makmur? Ada apa ini? Apakah pendidikan ilmu ekonomi yang dipelajari di sekolah, atau cara berdagang yang diturunkan nenek moyang, atau meniru pengalaman suku keturunan seperti China, India dan Arab masih belum cukup? Kita bisa lihat lah, siapa dan dari latar belakang yang seperti apa orang yang sukses berbisnis di Indonesia.

Pendidikan formal masyarakat kita mungkin tidak terlalu beda jauh dengan pendidikan formal suku keturunan, namun boleh jadi budaya dan prilaku berbisnis masyarakat asli yang masih kurang berorientasi pada upaya penggerakan ekonomi yang lebih maju dan tangguh, agar dapat bersaing dengan kelompok lainnya. Hal ini dibuktikan bahwa lembaga keuangan di Indonesia lebih mudah memberikan kredit kepada masyarakat keturunan dibandingkan dengan masyarakat asli. Fakta membuktikan bahwa hampir semua jalan protokol atau wilayah strategis untuk berbisnis di kota-kota besar di Indonesia sudah dikuasai masyarakat keturunan, sedang masyarakat asli semakin tergusur ke pinggiran kota.

Kondisi seperti ini akan berlanjut terus menerus jika tidak ada usaha penalaran bagi masyarakat tentang prilaku dan kebiasaan dalam hal memperoleh uang dan bagaimana menggunakannya secara bijaksana dan bertanggungjawab. Atas pertimbangan inilah maka kami berpikir bahwa pelatihan koperasi memang diperlukan untuk mentransformasikan konsep sosial ekonomi dikehidupan masyarakat kita.

Kita ketahui bersama, bahwa koperasi memiliki jati diri yang dikeluarkan ICA (International Cooperative Alliance) pada tahun 1995 di Manchaster United Kingdom (Inggris), yang terdiri dari tiga bagian penting, yaitu Devinisi Koperasi, Nilai-nilai Koperasi dan Prinsip-prinsip Koperasi. Upaya sosialisasi dan pendidikan tentang koperasi ini memang mutlak dilaksanakan di Negara kita. Ada beberapa alasan penting dan strategis yang mendasarinya, yaitu bahwa lewat pendidikan atau pelatihan dan informasi tentang koperasi, kita dapat mengetahui filosofi Koperasi, mengetahui hak dan kewajiban serta mengetahui manfaat yang diterima dari koperasi. Dengan pendidikan atau pelatihan, kita dapat merubah mindset bagaimana cara bekerja untuk memperoleh penghasilan yang layak dalam usaha memenuhi kebutuhan dasar keluarga. Dengan pendidikan atau pelatihan dan informasi tentang koperasi, kita dapat menggunakan uang dari penghasilan secara bijaksana dan bertanggungjawab, sehingga mereka yang sudah mendapatkan informasi tentang koperasi ini dapat memahami dan melaksanakan Anggaran Belanja Keluarga (ABK) koperasi. Dengan pendidkan atau pelatihan dan informasi, pengurus, pengawas, serta staf koperasi nantinya dapat memahami pengelolaan keuangan koperasi secara prudent accountable dan responsible serta trasparan kepada anggota dan masyarakat. Dengan pendidikan atau pelatihan dan informasi tentang koperasi, pengurus koperasi dapat mengawasi secara sistematis dan akurat sehingga menghindari praktik-praktik penyalahgunaan kekuasaan, dan atau penyalahgunaan keuangan yang menyebabkan koperasi bermasalah sampai bangkrut. Dengan pendidikan atau pelatihan dan informasi koperasi, pengurus dapat mengembangkan koperasi berskala besar sehingga meningkatkan market share serta meningkatkan volume usaha untuk meningkatkan pendapatan. Dengan pendidikan atau pelatihan dan informasi, koperasi dapat menjamin regenerasi kepengurusan dan pelaksana, serta keberlangsungan koperasi itu sendiri. Sehingga dapat diteruskan oleh generasi yang akan datang dengan lancar.

Dengan alasan tersebut, maka pendidikan, pelatihan dan informasi tengang koperasi yang merupakan basis ekonomi kerakyatan, tentu bukan merupakan beban bagi pemerintah di Indonesia, melainkan suatu kebutuhan yang harus dijalankan. Setiap lembaga ekonomi dan kelompok sosial dapat berpartisipasi aktif dalam menggerakkan sistem ekonomi kerakyatan yang bernama koperasi ini. Koperasi-koperasi seperti ini lah yang diharapkan oleh pendiri bangsa kita, yaitu DR Mohamad Hatta untuk menciptakan sosial ekonomi yang berdaulat dan berkeadilan menuju masyarakat adil dan makmur.

Salah satu jawaban untuk meningkatkan keberdayaan Gerakan Koperasi adalah melalui Pendidikan dan Pelatihan Perkoperasian yang terus menerus dilakukan secara berkesinambungan dan sistimatis. Sebagaimana diuraikan diatas, sangat perlu kiranya agar kita terus menggesa upaya ini, terutama upaya pengenalan dan pembelajaran tentang koperasi kepada generasi muda di lingkungan kita. Dengan memberikan pendidikan dan pelatihan tentang perkoperasian kepada pemuda, maka pengetahuan tentang pengelolaan ekonomi berbasis kerakyatan dapat terus menerus dijaga dengan baik. Kemudian diharapkan agar pengetahuan ini dapat diturunkan terus kepada generasi selanjutnya sebagai modal hidup yang baik dan bermanfaat. Dengan demikian, diharapkan agar pemuda mampu mengambil peluang strategis untuk mengelola potensi lokal yang ada, melalui koperasi.

Untuk itu maka peranan organisasi kepemudaan sebagai wadah berkumpulnya pemuda, harus berupaya hadir guna mengakomodir kebutuhan pemuda kekinian. Demikian pula halnya dengan unsur pemerintahan dan lembaga pendidikan, yang terkait dengan kegiatan perekonomian, khususnya kegiatan perkoperasian. Gerakan Koperasi Pemuda harus diupayakan oleh seluruh unsur, agar lebih cepat berkembang menjadi pondasi gerakan ekonomi baru, yang dipadu-padankan dengan pengetahuan yang sudah ada sejak lama.

Tentunya gagasan ini kami harapkan dapat menjadi langkah awal, yang dapat memberikan gambaran wacana dan inspirasi baru, agar kelompok-kelompok pemuda dapat lebih mengerti potensi diri dan lingkungan sekitarnya, sehingga bisa mengambil peran lebih, dalam rangka mengelola sumber daya alam dan memanfaatkan letak strategis daerah tempat tinggalnya hari ini melalui kegiatan usaha koperasi yang merupakan basis ekonomi kerakyatan.

 

Cris Topan

Ketua Dewan Pendiri Organisasi Kepemudaan Garuda Muda Indonesia