Menghormati Pemimpin di Alam Demokrasi

  • Whatsapp
Arif Agus Setiawan
Pengurus PKMD KAHMI Kota Batam, Arif Agus Setiawan.

Tentu rakyat Indonesia tidak ingin kembali lagi seperti zaman dulu dalam menghormati pemimpinnya, apalagi meniru rakyat Korea Utara. Menghormati pemimpin dalam alam demokrasi haruslah wajar dengan tetap menjunjung nilai-nilai agama yang luhur dan budayanya sendiri sebagai bangsa Indonesia. Bagi orang yang beragama Islam, memuja orang lain melebihi Allah zat Yang Maha Agung itu sudah termasuk syirik, dosa yang tidak pernah diampuni.

Dalam sejarahnya, Indonesia pernah mengalami pemujaan rakyat terhadap pemimpinnya waktu itu Presiden Sukarno, yang memiliki beberapa gelar pemujaan antara lain sebagai Paduka Yang Mulia Pemimpin Besar Revolusi Indonesia dan bahkan oleh MPRS (Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara) tanggal 15 Mei 1963 diangkat menjadi Presiden Seumur Hidup. Selanjutnya pada zaman Orde Baru, Suharto dianggap segala-galanya sehingga dapat memimpin secara otoriter selama lebih dari 30 tahun.

Pendiri negara Korea Utara Kim il Sung setelah perang Korea tahun 1950-an mengambil manfaat dari kehancuran negaranya akibat perang yang melibatkan Amerika dan Cina dengan memimpin negaranya secara otoriter. Seringkali ada hukuman yang berat bagi siapapun di negara itu yang tidak menghormatinya. Sejak itu rakyatnya menghormatinya seperti orang memuja Tuhan, kondisi ini disebut cult of personality atau pemujaan terhadap figur.

Sebenarnya sejak Kim il Sung mulai berkuasa tahun 1948, rakyat mulai memujanya sebagai satu-satunya the Supreme Leader atau pemimpin agung yang menjadi satu-satunya sumber segala sumber di negerinya.

Banyak pengamat politik Korea Utara yang menyebukan bahwa derajat pemujaan rakyat Korea Utara terhadap Kim il Sung melebihi pemujaan rakyat Uni Sovyet pada pemimpinya Joseph Stalin dan rakyat Cina terhadap Mao Zedong. Cult of personality ini kemudian menjadi faktor kuat rezim keluarga Kim langgeng menjadi pemimpin otoriter di negerinya.

Kim il Sung yang dianggap seperti Tuhan, dan anaknya Kim Jong-il yang meneruskan rezimnya sebagai anak Tuhan atau Sun of the Nation dengan mudah mengontrol rakyat dan negaranya selama bertahun-tahun. Untuk melanggengkan kekuasaannya, disebutkan bahwa Kim il Sung pernah menghancurkan 2000 kuil Budha dan gereja-gereja dengan maksud agar rakyatnya tidak terpengaruh dengan agama-agama itu sehingga fokus pemujaan rakyatnya hanya pada dirinya.

Ketika Kim il Sung meninggal pada tahun 1994 negara menyatakan hari berkabung selama tiga tahun dan bagi rakyatnya yang ketahuan tidak menghormati hari berkabung ini, misalkan minum-minuman keras, maka akan mendapat hukuman keras dari aparat keamanan negara.

Seorang perempuan Korea Utara yang melarikan dirinya ke Cina dan kemudian mendapatkan suaka politik di Korea Selatan menjelaskan pada media waktu kecilnya menyaksikan bagaimana negara mencuci otaknya dengan kepercayaan bahwa Kim Jong-il adalah Tuhan dan bisa membaca pikirannya. Kim Jong-un cucu Kim il Sung yang sekarang menjadi pemimpin Korea Utara juga memperoleh pemujaan yang sama seperti kepada mendiang kakek dan ayahnya. Dengan cara seperti itu dia mampu mempin Korea Utara dengan cara otoriter. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *