One Man One Tree, Gerakan Pelestarian Hutan dari Kampung Bakau Serip
Wakil Gubernur Kepri, Marlin Agustina, di kawasan Ekowisata Mangrove “Pandang Tak Jemu” Kampung Bakau Serip, Sambau, Nongsa, Kota Batam.

BatamEkbiz.com – Sejumlah wilayah pantai dan pesisir menjadi penopang Batam sebagai daerah kepulauan. Wilayah dengan sekitar 95 persen perairan atau laut ini didukung oleh kekayaan alam dan keseimbangan lingkungan dari hutan-hutan mangrove atau bakau.

Bakau adalah jenis tanaman yang hidup di habitat air payau dan air laut. Keberadaannya yang rimbun membentuk hutan dan banyak ditemukan di kawasan tanah rawa atau tepi pantai.

Bakau menjadi salah satu solusi penting untuk mengatasi berbagai jenis persoalan lingkungan. Terutama untuk mengatasi kerusakan yang disebabkan oleh rusaknya habitat untuk hewan. Hutan bakau juga dapat melindungi pantai dari erosi dan hempasan ombak secara langsung.

Salah satu hutan bakau di Kota Batam terdapat di kawasan Ekowisata Mangrove “Pandang Tak Jemu” Kampung Bakau Serip, Sambau, Nongsa. Upaya pelestarian di kawasan ini dilakukan melalui program One Man One Tree. Tidak hanya diikuti warga sekitar, program ini juga melibatkan 50 ekspatriat dari berbagai negara yang bermukim di Batam.

“Saya melihat masyarakat di sini antusias sekali dalam menjaga lingkungan hutan bakau. Kalaulah semua masyarakat diedukasi untuk menjaga mangrove, ini sangat membantu pemerintah dalam usaha melestarikan hutan bakau yang mempunyai banyak sekali manfaat bagi kita,” kata Wakil Gubernur Kepri, Marlin Agustina, menjelang penanaman pohon bakau di kawasan itu, Sabtu (11/9/2021).

Marlin mengucapkan terima kasih kepada pengelola kawasan Ekowisata Mangrove yang telah mengembangkan kawasan tersebut sebagai destinasi wisata alam, sekaligus berbagai kegiatan pelestariannya. Ia juga meminta Dinas Pariwisata Provinsi Kepri dan Kota Batam untuk membuat berbagai kerjasama dengan pengelola kawasan.

“Sehingga Ekowisata Mangrove semakin berkembang dan mendatangkan berbagai peluang bagi masyarakat, baik dari segi ekonomi maupun pariwisata,” katanya.

Pengelola Ekowisata Mangrove, Gery D Semet, mengakui bukan hal yang mudah untuk mengelola kawasan hutan bakau hingga bisa memberikan banyak manfaat bagi masyarakat dan daerah. Kendati begitu, Gery sangat bersyukur, dengan berbagai keterbatasan yang dimiliki, kawasan Ekowisata Mangrove yang ia kelola bisa masuk 100 besar lomba Desa Wisata se-Indonesia.

Baca juga: Hutan Mangrove Kampung Terih, Wisata Alam di Tepi Pantai Batam

“Saya yakin dengan dukungan penuh dari pemerintah daerah, kawasan Ekowisata Mangrove ini akan bisa naik peringkat ke 50 besar atau bahkan 10besar,” katanya optimis. (r)