Partisipasi pemilih di Batam terendah

  • Whatsapp

Sekupang, BatamEkbiz.Com — Tingkat partisipasi pemilih di Provinsi Kepri di pemilu legislatif (pileg) 2014 mengalami kenaikan dibanding pileg sebelumnya. Dalam pileg 2009, tingkat partisipasi pemilih di Kepri sekira 60 persen. Sementara di pileg 2014, tingkat partisipasi pemilih di Kepri meningkat sekira 11 persen menjadi 71,65 persen.

Jumlah pemilih di Kepri dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT) pileg 2014 sebanyak 1.278.669 pemilih. Sebanyak 916.141 pemilih menggunakan hak pilihnya pada 9 April lalu.

Bacaan Lainnya

Dari tujuh kabupaten/kota di Kepri, Kabupaten Anambas, Lingga, dan Natuna memiliki tingkat partisipasi lebih baik, diatas 80 persen. Tingkat partisipasi pemilih di Anambas mencapai 83,95 persen, Lingga 81,75 persen, dan Natuna 81,25 persen.

Sedangkan tingkat partisipasi pemilih terendah ada di Kota Batam dan Tanjungpinang. Tingkat partisipasi pemilih di Batam hanya sekira 62,92 persen, dan di Tanjungpinang 67,72 persen.

Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kepri, Said Sirajuddin mengatakan, naiknya tingkat partisipasi pemilih di Kepri disebabkan banyak faktor. Diantaranya tahapan sosialisasi yang berjalan dengan baik dan peran parpol serta caleg peserta pemilu dalam meyakinkan pemilih untuk menggunakan hak suaranya.

“Kesadaran pemilih untuk menggunakan hak pilihnya dalam pileg 2014 di Kepri juga meningkat dibanding pemilu sebelumnya,” ujar Said di Sekupang, beberapa waktu lalu.

Meningkatnya partisipasi dan kualitas pemilih dalam menggunakan hak pilih di pileg 2014, juga didukung hadirnya mitra KPU, relawan demokrasi. Di Batam, terdapat 25 relawan demokrasi yang direkrut dari lima unsur masyarakat oleh KPU Batam. Terdiri atas unsur pemula, perempuan, penyandang disabilitas, pemuka agama, dan hinterland yang masing-masing beranggotakan lima orang.

Relawan demokrasi dari unsur pemuka agama, Maryono menjelaskan, diantara tugas relawan demokrasi adalah melakukan sosialisasi dan pendidikan pemilih cerdas. Pemilih cerdas adalah mereka yang aktif sehingga namanya masuk dalam DPT, dan menggunakan hak pilihnya dalam pemilu, tidak golput. Namun pelaksanaan tugas di lapangan akhirnya tersendat karena gaji yang tak kunjung dicairkan.

“Hampir 50 persen dari relawan demokrasi belum mendapat gaji selama dua bulan terakhir,” ujarnya di Batam Centre, Selasa¬†(20/5/2014).

Menurut Maryono, kondisi ini membuat upaya KPU Batam dalam menekan pemilih yang berpotensi golput semakin sulit. Fakta di lapangan, upaya KPU Batam yang didukung relawan demokrasi belum mampu memaksimalkan meningkatnya jumlah pemilih cerdas.

“Buktinya, banyak masyarakat yang memiliki hak pilih justru tidak terdaftar dan tidak tahu kalau bisa memilih dengan KTP (kartu tanda penduduk),” katanya. (R02)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *