Penggundulan Hutan Ancam Pendangkalan Waduk Muka Kuning

  • Whatsapp
Penggundulan hutan dan aktivitas pembangunan di sekitar kawasan Taman Wisata Alam atau Waduk Muka Kuning, Batam, Rabu (14/10/2020).

Batam, BatamEkbiz.com – Kondisi hutan di sekitar kawasan Waduk Muka Kuning sangat mengkhawatirkan. Air yang makin keruh dan pendangkalan terlihat di waduk dekat Taman Wisata Alam Muka Kuning ini. Di sekitarnya, hutan gundul akibat penebangan pohon secara membabi buta dan adanya aktivitas pembangunan.

Pantauan batamekbiz.com, lereng hutan yang sebelumnya lebat dengan pepohonan sudah berubah menjadi jalan tanah yang menghubungkan sebuah kawasan industri hingga sekitar waduk. Sebagian kawasan hutan lindung itu rata dengan tanah, tak ada lagi pepohonan lebat sebagaimana di pinggir hutan.

Gundulnya hutan dan aktivitas pembangunan inilah yang disinyalir menjadi penyebab kerusakan lingkungan serta terjadinya keruh dan pendangkalan waduk.

Kondisi itu disesalkan masyarakat sekitar dan para aktivis lingkungan di Kota Batam. Pando, pemuda Perumahan Otorita Mukakuning, mengaku sudah mengetahui adanya aktivitas cut and fill dan pembalakan hutan di kawasan itu sejak beberapa bulan terakhir.

“Ini di bagian pinggirnya saja masih terlihat seperti hutan, banyak pohon-pohonnya. Di dalam hutan, sudah habis semuanya, ditebangi dan gundul,” ungkapnya, Rabu (14/10/2020).

Hendri, Ketua Akar Bhumi Indonesia juga prihatin dengan gundulnya hutan di sekitar kawasan Waduk Muka Kuning. Tidak hanya kerusakan lingkungan yang sudah terjadi saat ini yang ia khawatirkan, namun juga ancaman longsor dan kekeringan yang dapat menurunkan debit air di Waduk Muka Kuning.

“Persediaan air di Kota Batam diambang kritis, antara lain disebabkan kegiatan ilegal, baik di genangan waduk maupun di daerah tangkapan airnya yang merupakan kawasan hutan lindung,” katanya.

Menurut Hendri, kerusakan hutan lindung di sekitar Waduk Muka Kuning sudah berlangsung lebih dari setahun lalu. Bermula dari kebijakan pengembangan kawasan industri, dan kini merambah ke kawasan wisata, sehingga terjadi pengurangan kawasan hutan secara besar-besaran.

Keberadaan hutan lindung di sekitar Waduk Muka Kuning ini sangat vital, sebagai daerah resapan air. Mengingat sumber air bersih di Batam hanya mengandalkan air tadah hujan. Jika kawasan hutan ini rusak oleh aktivitas pembangunan yang tidak ramah lingkungan, maka akan semakin mempersempit daerah resapan air yang berdampak pada berkurangnya debit air dan pemenuhan ketersediaan air bagi masyarakat Batam.

“Kami mendorong pihak terkait untuk menghentikan kerusakan lingkungan yang semakin parah di sekitar Waduk Muka Kuning dan meminta pihak terkait tidak memberikan izin atau mengevaluasi aktivitas apapun, apalagi pembangunan yang merusak lingkungan, untuk menjaga daerah resapan air di Kota Batam,” katanya.

Sebelumnya, Direktur Badan Usaha Fasilitas dan Lingkungan, Binsar Tambunan, mengemukakan, Batam menggunakan sumber air baku dari beberapa waduk untuk memenuhi kebutuhan air bersih. Waduk-waduk itu di antaranya Sei Harapan, Sei Ladi, Muka Kuning, Nongsa, Duriangkang dan Tembesi (belum beroperasi), dengan kapasitas 25.360.990 m3, kapasitas IPA/ WTP terpasang 3.160 liter per detik, dan kapasitas produksi air bersih 3.991,62 liter per detik berdasarkan data tahun 2019.

Proyeksi kebutuhan air minum didasarkan pada jumlah penduduk, jumlah dan jenis kegiatan perkotaan yang memerlukan air, dan rata-rata pemakaian air di Pulau Batam mencapai 22 m3 per kepala keluarga per bulan. Kebutuhan air terdiri dari domestik dan non domestik.

“Kebutuhan domestik adalah kebutuhan yang berdasarkan jumlah penduduk dan pemakaian air. Sedangkan kebutuhan non domestik adalah kebutuhan air untuk kegiatan penunjang kota, yang terdiri dari kegiatan komersil, industri, dan kegiatan lain,” jelas Binsar Tambunan. (re)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *