Pengusaha Muslimah Harus Kuasai Literasi Digital, Ini Alasannya
Bisnis online makin menjanjikan di tengah pandemi Covid-19.

BatamEkbiz.com – Wakil Menteri Agama (Wamenag), Zainut Tauhid Sa’adi, mengingatkan para pengusaha muslimah tentang pentingnya penguasaan literasi digital dalam pengembangan usahanya.

Pesan ini disampaikan Wamenag saat memberikan sambutan pada Workshop Muslimah Enterpreneur yang digelar secara daring oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI). Workshop ini mengangkat tema “Meningkatkan Kapasitas Entrepreneur di Kalangan Muslimah Sebagai Kontribusi Nyata Membangun Umat dan Bangsa”.

Hadir sejumlah narasumber dalam workshop tersebut. Yaitu Nurhayati Subakat (Founder of Wardah Cosmetics), Elidawati Ali Oemar (Founder of Elzatta Hijab), Widjayanto (Direktur Operasi LinkAja), dan Siti Authira Lanacitra (Key Account Manager Lazada Amanah).

“Pengusaha muslimah wajib menguasai literasi digital. Sudah bukan zamannya lagi menjalankan bisnis secara manual. Itu sudah ketinggalan zaman. Semua orang kini beralih dari manual ke digital,” pesan Wamenag di Jakarta, Senin (30/8/2021).

“Jangan berpikir bahwa digital itu mahal dan susah. Semua kita bisa dan biasa menggunakannya. Gadget yang ada di tangan kita adalah modal penting membangun usaha,” sambungnya.

Wamenag minta gadget tidak hanya digunakan sebagai sarana komunikasi dan informasi semata. Apalagi, hanya digunakan untuk sekadar bermain game yang menghabiskan waktu. Gadget bisa dioptimalkan sebagai modal merintis dan membangun usaha digital.

“Sangat sederhana, cobalah mulai memosting dan meng-endorse produk kita melalui status di media sosial,” tutur Wamenag.

“Mari gunakan media sosial untuk aktivitas produktif dan menguntungkan dengan memanfaatkannya bagi kemajuan bisnis kita,” sambungnya.

Peluang bisnis berbasis digital di Indonesia sangat besar. Menurut Global Web Index, papar Wamenag, 96 persen pengguna internet Indonesia berusia antara 16 sampai 64 tahun yang mencari produk atau layanan secara online untuk dibeli. Riset Janio menemukan, Indonesia menjadi pasar yang sangat potensial untuk fashion. Karena selain jumlah penduduk muslim yang mencapai 227 juta, juga median age yang lebih muda, yaitu rata-rata 28,8. Berbeda dengan negara tetangga seperti Thailand dan China dengan median age di atas 38.

Selain itu, 33,75 persen penduduk Indonesia masuk kelompok milenial di mana hampir 60 persen semua kebutuhan transaksinya dipenuhi secara online melalui beragam platform digital. Tingginya pengguna internet ini menjadikan Indonesia adalah salah satu pasar online terbesar di dunia.

Mengutip statista.com, Wamenag menjelaskan bahwa pertumbuhan ecommerce Indonesia termasuk tinggi di Asia Tenggara. Pendapatan di pasar ecommerce diproyeksikan mencapai US$43 miliar pada 2021 dan naik menjadi US$63 miliar di 2025. Segmen pasar terbesar adalah fashion dengan proyeksi volume pasar sebesar US$13 miliar pada 2021, dengan sebagian besar pengguna ecommerce yang akan mencapai 221 juta pengguna pada 2025.

Baca juga: Dikira Pengusaha, Pemenang Lelang Motor Jokowi Rp2,5 M Ternyata Buruh Bangunan

“Data-data di atas janganlah hanya jadi sekadar data dan angka. Seharusnya menjadi inspirasi dan informasi berharga guna menciptakan kreativitas bisnis kita dalam mengembangkan usaha,” pesan Wamenag.

“Kita semua harus memanfaatkan media digital secara kreatif dan produktif. Isi ruang di media digital untuk usaha dan bisnis, sehingga lebih berkembang. Dengan demikian, ruang digital tertutup dari peluang pihak lain melakukan narasi radikal dan anti-sistem,” tandasnya. (r)